
Happy reading All
.
.
.
"Kapan-kapan gue sama Ethan main kesana. Siapa tau ada janda muda buat di jadiin istri kedua" ucap Kai di seberang sana diiringi tawa kecil.
Menggoda dan mengejek-ejek Nolan sungguh menyenangkan.
"Boleh-boleh aja si kalau lo mau di gantung sama kanjeng istri"
"Udah dulu Lan. Gue mau nemenin Nara ke salon"
"Hem"
Sambungan telepon dengan obrolan cukup singkat itu di matikan.
Baru 2 hari ia tinggal di kampung ini rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Tidak ada kegiatan yang ia lakukan sepulang dari mengajar selain menikmati hamparan sawah dan pepohonan.
Pekerjaan kantor? Semuanya sudah di serahkan pada kakak iparnya Jovi. tugasnya hanya satu mengajar matematika.
Membosankan....
"Cici larasati" gumam Nolan dengan senyum penuh arti.
Tertarik dengan gadis berusia 17 tahun? Oh tentu tidak. Nolan wang tidak mungkin menyukai gadis di bawah umur? Ya meski malu untuk mengakuinya Cici adalah gadis cantik yang terlihat masih lugu tapi tentu saja bukan tipe Sosok Nolan wang.
Nolan menyukai gadis yang berani, hot, pintar, dan dewasa, seperti Sasa misalnya...
Sial! Harus berapa kali Nolan mengingatkan dirinya bahwa sasa adalah istri sahabatnya sendiri. Ibu dari anak-anak Daniel sahabatnya.
__ADS_1
Brengsek memang, bisa-bisanya sampai detik ini nama Sasa masih begitu terukir di dalam hatinya. Bodoh, bodoh kau Nolan.
"Jika di lihat-lihat sekilas kalian terlihat mirip. Tapi gadis desa sepertinya tidak akan pernah bisa setara dengan Sasa" kekeh Nolan meremehkan.
Sasa dan Cici itu ibarat gula pasir dan gula halus, Sama-sama manis namun memiliki sifat yang tidak jauh berbeda. Jika Sasa terkenal sebagai sosok model yang seksi dan mempesona maka Cici adalah gadis lugu yang polos.
Ting...
Satu pesan menyebalkan masuk ke dalam ponsel Nolan.
"Gue sama Ethan bakal main ke tempat lo besok lusa, kebetulan kita juga ada kerjaaan di Bandung. Jadi siapin aja banyak makanan yang belum pernah kita coba di Jakarta. Daniel gak bisa ikut dia mau menemani Sasa ke Spanyol untuk produk make up baru mereka dan yang paling penting cariin kembang desa buat gue goda."
"Oke nanti gue vidioin janda lagi mandi buat lo terus gue kirim juga ke bini lo yang kalo marah kayak orang kesetanan" pesan singkat tidak kalah menyebalkan Nolan ketikkan untuk membalas pesan dari Kai.
Ah tidak sabar rasanya bercerita banyak hal bersama Kedua sahabatnya itu, setelah mereka menikah dan menemukan kehidupannya masing-masing jarang sekali mereka kembali menghabiskan waktu bersama-sama.
Maklum lah ketiga sahabat dekatnya itu menikah dengan wanita-wanita posesif, selain itu mereka sosok ayah jadi akan sibuk dengan kehidupan rumah tangganya.
Suasana asri yang damai menyambut Nolan pagi ini. Kamar pria matang itu berhadapan langsung dengan hamparan sawah yang di tutup tirai putih di bagian jendela besar.
Hari libur kali ini akan ia habiskan untuk bersantai tanpa bermain catur, belum genap satu minggu disini Nolan sudah rindu semua rutinitasnya di kota.
Nolan rindu memarahi karyawannya ketika datang terlambat, minum bir bersama rekan bisnisnya dan tentunya mengamati sasa dari dekat.
Tingtong...tingtong...
Bel berbunyi membuat Nolan mau tak mau harus beranjak dari tempat tidur ternyamannya.
Sekilas mata tajam itu melihat jam di atas nakas " Baru pukul 7 pagi" gumamnya.
Rambut acak-acakan tak membuat ketampanan sosok Nolan berkurang justru membuatnya semakin terlihat seksi saja.
Nasib pria tampan mau diapakan saja tetap akan terlihat tampan.
__ADS_1
"Selamat pagi pak" sapa gadis berkaos hitam dengan rok putih semata kaki yang sudah berdiri di hadapan Nolan.
"Pagi"
"Pak Agung bilang bapak sedang mencari pembantu?" tanya gadis itu malu-malu
"Hem"
"Say___"
"Masuk, kamu bisa langsung bekerja hari ini" potong Nolan meninggalkan Cici yang masih tertegun.
"Sabar... sabar... cari uang memang kadang bikin kesel" ucapnya mengelus dada.
Ini bukan pertama kalinya Cici bekerja menjadi pembantu, dulu ia sempat menjadi buruh Cuci sebelum ia bekerja bersama Pak Aji untuk membereskan rumah ini.
"Tidak ada yang berubah" gumannya lagi seraya mengitari dapur.
Semua orang pasti senang bekerja dengan pak Aji, selain gajinya yang besar. Orangnya pun terkenal ramah, tapi sayang sekali pak Aji sudah jarang ke kampung ini. Pria itu mungkin kemari 3 bulan sekali.
Sekarang ada anaknya yang terlihat sedikit galak mungkin...
"Ini jadwal keseharian kamu ketika bekerja di rumah ini" ucap Nolan menyerahkan catatan yang sengaja ia tulis semalam untuk Cici.
"Iya pak"
Memastikan Nolan pergi dari dapur Cici mulai membuka lembaran kertas yang tadi ia terima. Tak susah semua catatan ini adalah kegiatan yang sering ia kerjakan sebelumnya. Mencuci piring, beres-beres, memasak adalah hal biasa untuk Cici.
"Hem tidak terlalu sulit. aku harus mengumpulkan uang sebanyak banyaknya agar bisa kuliah. Semangat!!"
Tersenyum sekilas, lalu menggulung rambut panjangnya ke atas. Cici langsung membuka kulkas untuk mencari bahan-bahan makanan yang akan ia masak pagi ini.
BERSAMBUNG...
__ADS_1