Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
Prepare MTK


__ADS_3

HAPPY READING ALL


.


.


.


.


.


"Lombanya akan di langsungkan di Jakarta, sebelum itu kamu akan di kirim dulu ke Bandung untuk menjumpai rekan-rekan di bidang Fisika dan kimia terlebih dahulu" jelas kepala sekolah kepada Cici.


Ah ya ampun, baru saja semalam ia membahas kota Jakata bersama Leona dan hari ini ia mendengar kabar menyenangkan ditelinganya. Oh sungguh Cici merasa sangat senang.


"Benar pak di Jakarta? Saya tidak salah dengarkan pak?" Ulang Cici antusias.


"Iya di Jakarta, ibu Kota. Nanti insa Allah bu Anggita yang akan mendampingi keberangkatan kamu, jika beliau tidak ada halangan." jelas kepala sekolah


"Untuk buku paduannya nanti kamu ambil di perpustakaan, dan konfirmasi dengan Pak Nolan untuk kisi-kisi lombanya" sambungnya yang lagi-lagi di balas anggukan antusias oleh Cici.


Selesai mendengar arahan kepala sekolah, Cici keluar ruangan dengan senyum lebar yang menghiasi wajah cantiknya.


Ini adalah lomba Matematika yang ke 10 Cici ikuti selama di SMA, dan ini adalah lomba pertama yang akan ia ikuti di Jakarta. Untuk sebelum-sebelumnya ia di kirim ke Bandung, Surabaya dan sekitaran jawa barat.


Tok..tok..tok..


"Permisi bu" ucap cici sopan di depan pintu perpustakaan sebelum melangkahkan kakinya untuk masuk.


"Selamat siang Cici, mau ambil buku paduan matematika ya?" 


"Iya bu"


"Oke sebentar ibu ambilkan"

__ADS_1


Sepeninggal Gurunya Cici mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan, hingga mata dengan pandangan teduh itu berhenti pada barisan buku sains yang terletak tak jauh dari tempat dirinya duduk.


"Belum apa-apa kepalaku sudah sakit melihat tebalnya buku ini" kekehnya tertawa pelan.


"Ci, ini bukunya"


"Ah iya bu"


"Kamu mau meminjam buku itu?" Tunjuknya pada buku sains yang tengah di pegang cici.


"Pilihan yang bagus, tadi sebelum jam pajaran di mulai pak Nolan sempat membacanya. Beliau juga sempat bilang banyak materi yang tidak di ajarkan di sekolah pada buku itu" jelasnya 


"Benarkah bu? Kalau begitu saya juga pinjem buku ini" 


"Silakan. Jangan lupa isi daftar buku pinjaman seperti biasa"


****


Kring..kring...kring…


"Ci cici!!" Teriak Renata menggebu-gebu dari jarak 15 meter.


Sungguh suara melengking gadis berambut pirang sebahu itu benar-benar mengusik indra pendengaran orang-orang di sekitarnya.


"Ihh kamu dari tadi di panggil-panggil gak denger-denger!" Ucapnya merajuk setelah berdiri di samping Cici.


"Iya maaf"


"Ayo ke kantin, aku traktir!" Imbuhnya lagi.


"Sebentar ya ren, aku tandai dulu bagian buku ini" 


Renata mengangguk, memperhatikan Cici yang sibuk membolak balikkan halaman buku. Sahabatnya ini kalau tidak di perpustakaan pasti ti tamab sekolah.


"Lomba lagi?"

__ADS_1


"Hem. Di Jakarta lho ren! Ah senangnyaa" ucap Cici girang.


"Aduh kerenny sahabatku satu ini"


Sekitaran 5 menit berlalu Cici beranjak mengikuti Renata menuju kantin sekolah, nanti saja pikirnya menemui Nolan. Toh tadi pria itu tidak ada di ruangannya.


"Cici" langkah kaki Cici berhenti sejak, menolah pada sosok pemuda hitam manis yang tengah melambai-lambaikan tangan padanya.


"Kenapa aa?"


"Neng Cici yang paling cantik kesayangan aa, kamu di panggil pak Nolan, di minta keruangannya" tutur Ujang tidak lupa menyematkan gombalan andalannya untuk sang pujuaan hati.


Seperti kata Nolan sebelumnya tiada hari tanpa memuja sang pujuaan hati.


"Ren, maaf ya. Kamu ke kantinnya bareng Aa Ujang aja gak apa-apa kan?."


Jujur Cici merasa tak enak hati dengan Renata, gadis yang menjadi teman baiknya itu sudah menanti dirinya untuk ke kantin bersama, tapi dirinya harus bertemu Nolan juga.


"Lho lho lho kok saya?"


"Belagu amat lu jang, ayok ke kantin gantiin Cici. Nanti gue traktir!" Ajak Renata seraya menarik tangan Ujang tidak lupa melambaikan tangan tanda perpisahan pada Cici.


Setelah Renata dan Ujang menjauh barulah Cici melangkahkan kakinya menuju ruangan Nolan dengan sedikit berlarian.


"Jangan pernah hubungi gue lagi!. Sampai kiamat pun gue gak bakal pernah mau sama lo!"


Suara Nolan yang terdengar marah itu menghentikan tangan Cici yang hendak mengetuk pintu.


Jangan salahkan Cici menguping tapi salahkan Nolan yang tidak menutup rapat pintunya. Cici jadi penasaran siapa yang di hubungi Nolan sehingga membuat pria dewasa nan seksi itu merah?


Mungkin Nolan tengah marahan dengan kekasihnya begitu pikir Cici.


BERSAMBUNG…


NEXT OR STOP?

__ADS_1


__ADS_2