Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
Pukulan Ethan


__ADS_3

HAPPY READING ALL


"Hai, Cici!!" Teriak Wanita cantik dengan dres selutut itu heboh.


Lihatlah wajah cantiknya begitu bersinar, rambut panjangnya tergerai indah dengan gelombang di bagian ujungnya. Riasan natural namun elegan wanita 2 anak itu begitu terpancar mengalahkan sinar rembulan ketika malam hari. Sungguh Cici akui Suami wanita cantik ini pasti sangat beruntung.


"Welcome to Jakarta!" Hebohnya lagi memeluk Cici erat.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Leona setelah pelukan mereka terlepas.


"Terima kasih kak. Kabar ku baik" cici membalas pelukan Leona tak kelah eratnya.


"Di mana anak-anak kakak?"


"Sayang sekali putra dan putriku tidak bisa menemuimu. Mereka berada di Italia bersama oma dan opanya, kau tau papa dan mama mertuaku terlalu posesif kepada dua bocah itu. Maaf ya" ujar Leona merasa bersalah.


Ah Cici merasa tak enak melihat wajah bersalah Leona, tapi jika boleh jujur wajah wanita dewasa di hadapannya ini terlihat semakin imut dan menggemaskan.


"Sayang sekali. Oh iya kabar kakak sendiri bagaimana?"


"Seperti yang kamu lihat, baik sangat baik"


"Cici lihat kakak semakin berisi saja" goda Cici membuat Leona merajuk.


Aduh gemasnya ingin sekali Cici mencubit wajah Leona sungguh wanita ini sangat menggemaskan.


"Amore, kemari. Jangan berdiri terlalu lama nanti kakimu pegal" ajak Ethan semakin membuat Leona merengut.

__ADS_1


"Oh ayolah aku belum setua itu!!"


Melihat keromantisan pasangan Ethan dan Leona membuat hati Cici menghangat.


"Mereka pasangan yang sangat serasi" gumamnya


"Tentu saja. Mereka adalah pasangan terbaik yang pernah aku temui" celetuk Nolan tiba-tiba.


"Aku kadang iri melihat mereka" sambungnya membuat Cici menatap Nolan.


"Ayo ikuti mereka" ajak Nolan kembali menarik tangan Cici seperti beberapa waktu yang lalu.


***


"Ethan, berhenti mengganggu!!!" Teriak Leona membuat suasana di meja makan itu penuh tawa.


Uhuk..uhukk..


Mendengar penuturan Leona mampu membuat Cici terbatuk dengan spontan pula Nolan memegangi bahu remaja berseragam SMA itu lalu memberinya segelas air.


"Pelan-pelan" ucapnya datar seraya mengelus punggung Cici dengan sebelah tangannya.


"Manisnya" celetuk Leona


Setelah menghabiskan makan siangnya kini Cici dan Leona tengah berada diruang keluarga sedangkan Ethan dan Nolan kedua pria itu tentu saja menghabiskan waktu di ruang kerja.


"So?" Suara Ethan menghentikan lamunan Nolan.

__ADS_1


"Lan, lo bukan anak kecil lagi. Udah kepala tiga, gue rasa pikiran lo juga udah dewasa bukan remaja SMA yang berpikir labil seperti 14 tahun yang lalu!" Ucap Ethan lagi.


"Sasa udah jadi bini Daniel! Daniel sahabat kita!" Tekannya.


"TAPI GUE SUKA SAMA DIA! GUE JAUH LEBIH DULU KENAL SAMA DIA SEBELUM DANIEL!"


Bught..


Ethan memukul rahang Nolan, sungguh Ethan tak habis pikir dengan sosok sahabatnya ini.


"Brengsek!"


"Sorry, gua gak bermaksud buat mukul lo"


Nolan memandang Ethan redup, dari pandangan pria dewasa itu Ethan jelas tau ada luka yang ia coba tutupi.


"Gue, gue bego banget. Tolol, goblok, gak ada otak" cicit Nolan dengan mata berkaca-kaca.


Di rengkuhnya punggung lebar yang bergetar itu, Ethan sungguh tak tega melihat sahabat yang selalu menemaninya di saat susah dan senang bahkan sosok yang menemainya memperjuangkan Leona tengah terpuruk seperti saat ini.


Pergi ke mana sosok Nolan yang ceria? Dan humoris. Ethan, Kai dan Daniel merindukan sosok Nolan wang yang dulu, bukan Nolan yang kaku dan pemarah seperti saat ini.


"Gue tau ini gak mudah. Tapi gue yakin lo bakal dapat yang jauh lebih baik dari Sasa"


"Thanks, doa ‘in gue semoga segera dapat yang terbaik" kekeh Nolan melepas rangkulan Ethan.


"Iklasin Sasa, cari pengganti dia. Hidup terus berjalan lo gak akan bisa terus dalam kesendirian"

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2