Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
Cinta??


__ADS_3

HAPPY READING ALL


.


.


.


"Minggu depan ulang tahun pernikahan Daniel, yakin lo gak mau datang?"


Kalimat Kai kemarin selalu terngiang-ngiang di telinga Nolan, tolol tidak mungkin dia datang dengan perasaan yang masih sama untuk wanita itu bukan? Jika dia datang sama saja menoreh luka dengan sengaja.


"Brengsek!" Umpatnya mengepalkan tangan dengan nafas memburu.


"Cinta sialan!!!"


Demi tuhan, Nolan sudah tidak menginginkan perasaannya lagi untuk Sasa tapi hatinya selalu saja bertolak belakang dengan pikirannya. Kenapa hatinya terlalu cupu untuk mengusir jejak Sasa, hatinya terlalu dalam memberi ruang untuk istri sahabatnya itu. Bodoh memang!!!


"Sasa..Sasa gue benci lo!" Gumamnya dengan nafas memburu.


Ini sudah memasuki waktu yang cukup lama, seharusnya ia sudah mendapatkan orang baru bukan? Seharusnya hatinya sudah diisi wanita lain bukan? Atau mungkin seharusnya ia juga sudah menikah dan memiliki anak seperti teman-teman yang lainnya.


Tapi sampai saat ini seluruh ruang hatinya masih sepenuhnya di miliku oleh sasa.

__ADS_1


"Ini kopinya mas" suara mendayu dengan kalimat lembut itu memecahkan Nolan dengan segala pemikirannya.


"Oh iya, tadi aku juga bikin kue. Siapa tau mas Nolan suka" sambung Cici ikut duduk di kursi yang berhadapan dengan Nolan.


"Hem"


"Bagaimana latihan soalnya?" Tanya Nolan mencoba membuka pembicaraan.


"Seperti yang mas Nolan bilang, matematika itu mudah kalau kita suka. Jadi alhamdulillah cici sudah cukup paham dengan materi barunya" jawab Cici memperlihatkan buku soal-soal yang yang tadi sudah ia kerjakan.


Jika bukan kerena ilmu baru yang di berikan Nolan mungkin Cici tidak akan mengerti materinya semudah itu.


"Kamu cukup cerdas juga ternyata" puji Nolan meski terdengar kurang ikhlas.


"Iya mas" jawab Cici seadanya sambil kembali mengulang soal-soal baru yang ada di buku guru milik Nolan.


Wajah manis, bermata teduh dengan alis rapi itu terlihat sangat rugi jika di sia-siakan. Apalagi jika mulut tipis dengan bibir merah alami itu tengah mengoceh sungguh Nolan begitu kagum dengan wajah Cici.


"Kamu cantik, sekilas mirip masa lalu saya" celetuk Nolan tanpa sengaja membuat Cici menatapnya bingung.


"Mas Nolan baik-baik saja??"


"Im fine!"

__ADS_1


Cici menatap lekat bola mata Nolan yang jelas terlihat menahan sesuatu, mata itu terlihat seperti orang lelah dan banyak pikiran yang entah Cici tidak tahu apa.


"Mas Nolan kalau ada masalah cici siap menjadi teman berbagi" 


Teman? Oh bukankah memang mereka sudah berteman sejak di gudang waktu itu?


"Bagaimana jika kamu berada di posisi saya? Terjebak di masa lalu? Mencintai wanita yang sudah menjadi milik orang lain?"


Cici terdiam, permasalahan Nolan cukup sulit.


"Cinta itu jahat! Cinta tidak semanis cerita orang lain. Kamu tau cinta adalah pembodohan" kekeh Nolan menghirup kopi yang tadi Cici sajikan.


"Enam tahun belum cukup membuat hati saya melupakan dia, sialan memang!" Lanjutnya.


"Kalau aku jadi mas Nolan, kemungkinan juga aku akan terpuruk seperti mas Nolan, bahkan lebih terpuruk lagi. Tapi aku akan mencoba membuka lembaran baru dan mencoba menerima orang baru yang mau mengisi hati dan memberikan cinta baru" ucap Cici 


"Tapi kalau misalkan Cici harus menjadi orang baru itu, Cici juga tidak akan bisa mengisi hati orang itu" sambungnya.


"Kenapa??"


"Dia saja belum selesai dengan masa lalunya, lalu disana Cici harus apa? Tidak mungkin bukan jika Cici harus menabur garam di luka sendiri? Sudah tau orang itu masih terikat dengan orang lain lalu untuk apa mencoba masuk jika dia saja tidak mau melepas dan membuka hatinya. cinta itu hal sederhana tapi sulit di pahami kelanjutannya" Jelas Cici yang tanpa sadar menyindir Nolan.


"Cinta adalah obat jika dengan orang yang tepat, jika dengan orang yang salah dia adalah luka"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2