Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
S2-Dasar


__ADS_3

HAPPY READING ALL


Setelah setengah jam berlalu akhirnya Niken kembali dengan kedua tangannya yang penuh kresek makanan.


Nadeo, laki-laki itu memandang Niken penuh kekesalan, hari ini adalah hari tersial yang pernah ia lalui. Sepertinya keputusannya untuk menatap di Jakarta tidak terlalu menguntungkan, baru sehari disini Nadeo rasanya ingin kembali ke Bandung saja.


"Selesai" ucap Gadis itu tanpa rasa bersalah sama sekali.


Wajahnya yang cantik tersenyum lebar menatap belanjaannya, dari sorot cahaya mata Niken yang berbinar semua orang pasti tau bahwa gadis remaja itu tidak sabar untuk menikmati makanannya.


"Om" panggil Niken membuat Nadeo juga ikut menoleh sekilas.


"Hari ini papa pulang jam berapa?"


"Tuan besar sudah pulang dari setengah jam yang lalu, apa Nona kembali membutuhkan sesuatu" jawab Bram menanggapi pertanyaan nona kecilnya.


"Enggak"


"Buat lo" 


Sepotong roti bakar secara tiba-tiba berada di hadapan Nadeo.


"Mau gak? Kalau gak mau gue ambil lagi" lanjut Niken hendak menarik tangannya.


"Thanks"


Sejujurnya Nadeo enggan menerima pemberian gadis menyebalkan yang tengah mendekatkan setengah tubuhnya itu, tapi demi menghargai niat baik Niken mau tidak mau Nadeo menerimanya.

__ADS_1


"Om Bram mau?" 


Lelaki berusia 45 tahun itu menggeleng tanda menolak tawaran Niken.


Suara klakson saling menyahuti, sore hari adalah waktu orang-orang pulang bekerja, jalanan kota Jakarta semakin macet dan berisik.


Nadeo berdecak pelan, tubuhnya lelah ingin segera beristirahat.


"Berapa lama lagi?" Tanya Nadeo sambil memijat kepalanya pening.


"Kita akan segera sampai, tidak jauh dari sini ada jalan yang langsung menghubungkan dengan kediaman tuan besar" jawab Bram di angguki Nadeo tanda mengerti.


Niken, gadis itu sudah memejamkan matanya, menghiraukan kebisikan kota Jakarta.


***


"Uncle apa kabar, lama tidak bertemu" tanya Nadeo setelah pelukan keduanya terlepas.


"Kabar baik, bagaimana dengan orang tuamu? Mereka pasti semakin sukses" 


"Seperti yang uncle bayangkan. Istri uncle semakin cantik saja, masih terlihat cantik seperti 10 tahun yang lalu" goda Nadeo beralih memeluk wanita dengan dres biru itu.


"Kamu ini pandai merayu" jawab Zohra di iringi kekehan palan.


"Ah iya, dimana kancil nakal itu?" Tanya Derry setelah melepas rindu dengan Nadeo.


"Kancil nakal?" Beo Nadeo 

__ADS_1


"Hahaha maksud uncle mu Niken, anak itu tingkahnya begitu nakal jadi uncle mu sering memanggilnya kancil nakal" jelas Zohra.


"Kau ajaklah Nadeo masuk, biar aku bangunkan kancil nakalmu itu" sambung Zohra mendorong Derry pelan.


Setelah 10 tahun berlalu akhirnya Nadeo kembali menginjakkan kakinya di rumah bergaya klasik modern ini, saat kecil dulu ia cukup sering bermain di rumah Derry hanya saja untuk alamat rumah pamannya ini ia sempat lupa.


"Jadi? apa keputusan kamu?" tanya Derry seraya menyeruput kopi yang masih mengepul asapnya.


"Seperti yang Uncle tau, aku akan berkuliah seraya mengurus galery ku"


"Bagus, bagus, uncle bangga padamu" puji Derry menepuk punggung Nadeo bangga.


"PAPAAAA" teriakan itu menggema, membuat Nadeo dan Derry kompak menutup telinga.


suara langkah kaki Niken terdengar menghampiri.


"kenapa lagi?" Tanya Derry menatap putri semata wayangnya itu gemas.


Gemas karena lucu atau gemas karena menahan kesal, hanya Derry dan tuhan lah yang tau.


"Mama, jahat." adu Niken melingkarkan kedua tangannya pada leher papahnya.


"Papa bayangin betapa sakitnya telinga putri papa ini di jewer sama mak lampir" ucapnya dengan nada yang terdengar di buat buat.


"APA KAMU BILANG, KAMU BILANG MAMA MAK LAMPIR?"


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2