Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
S2-Nadeo putraku


__ADS_3

SELAMAT MEMBACA DAN JANGAN LUPA BAHAGIA


Langit terlihat mendung membuat suasana pagi itu tampak terlihat lebih gelap dan dingin. Cuaca memang cukup buruk beberapa hari ini, hujan badai disertai dengan petir yang menyambar dan beberapa kali membuat listrik desa padam.


"Jadi bagaimana keputusan ayah?" Pertanyaan dengan nada tegas tapi tidak menuntut itu kembali terdengar.


Tidak ada jawaban dari Nolan, pria itu hanya memandang putranya yang kini juga ikut memandang dirinya.


"Tanyakan saja pada bundamu" jawab Nolan terdengar tidak berminat.


Nadeo Xabizy wang, remaja laki-laki yang kini berusia 19 tahun itu berdecak sebal. Ayahnya ini selalu saja mempermainkan dirinya, apa susahnya mengucapkan kata iya atau sekadar menganggukkan kepala tanda setuju.


"Ayah ayolah, katakan iya. Bunda juga akan ikut setuju jika ayah setuju" rengek Nadeo terlihat seakan tidak berdaya.


"Baiklah, ayah izinkan."


Nolan menghampirinya putranya, menatap penuh cinta anak laki-lakinya yang kini sudah tumbuh menjadi sosok remaja yang tampan, gagah dan pintar.


Rasanya baru kemarin ia melihat Nadeo belajar berjalan dan sekarang lihatlah putranya ini akan pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Kamu boleh tinggal, ayah restui itu. Tapi..." Nolan menggantung ucapannya.


"Tapi?"


"Kamu akan tinggal bersama uncle Derry"


Nadeo terlihat ingin membantah ucapan ayahnya, jika tinggal bersama Uncle Derry sama saja ia tinggal bersama ayahnya.


"Ikut tinggal bersama uncle Derry atau tidak sama sekali" suara halus itu terlebih dahulu menyela, mengurungkan niat Nadeo untuk membantah.


"Bun..."


Nadeo menundukkan kepalanya, jujur saja remaja 19 tahun itu sangat merasa bimbang. 


Jika ia memilih tetap tinggal di Indonesia berarti bunda dan ayahnya yang akan pergi jauh, bagaimana bisa Nadeo hidup tanpa keduanya. Tapi, jika memilih ikut bersama mereka bagaimana dengan galeri seninya yang ada di Bandung dan Jakarta.


"Bun, kenapa harus pindah? Apa karena ayah yang mulai kembali sibuk dengan perusahaannya?" Tanya Nadeo menatap kedua orangtuanya seakan tengah meminta penjelasan.


Nolan menghembuskan nafasnya pelan, tangannya menepuk punda anak laki-lakinya itu cukup keras.

__ADS_1


"Kakek sudah tiada, kita juga tidak mungkin membuat perusahaan yang sudah kakek dan ayahmu ini dirikan hancur begitu saja. Ayah dan Bunda bahkan tidak memaksa kamu untuk ikut atau mengharuskan kamu melanjutkan usaha keluarga. Jadi semua keputusan ada padamu sendiri mau melanjutkan kuliah dimana, ambil jurusan apa dan semuanya" ucap Nolan 


"Kami hanya akan memberikan fasilitas dan doa, selanjutnya ada padamu" lanjut Nolan membuat Nadeo memeluk dirinya.


"Nak, asal kamu tau. Ayahmu ini sudah meninggalkan kehidupannya selama 20 tahun untuk mengikuti kemauan bunda, jadi kali ini saatnya kita yang mengikuti kehidupan ayahmu yang dulu" sambung Cici ikut memeluk dua pria yang begitu ia sayangi itu.


***


Seperti pembicaraan kemarin, hari ini Nadeo mengantar kedua orang tuanya ke Bandara.


Keputusannya sudah bulat ia tetap akan tinggal di Indonesia untuk mengurus galerinya dan untuk studinya di Jakarta Nadeo akan ikut tinggal bersama uncle Daerry sepupu ayahnya.


"Jaga kesehatan ayah jangan terlalu lelah bekerja, anak buah ayah kan banyak. Dan untuk bunda jangan lupa mengingatkan ayah, dia sudah tua jadi muda lupa" kelakar Nadeo sebelum ayah dan bundanya benar-benar pergi.


"Jaga dirimu dan kesehatan juga, buat Galeri seni mu dikenal banyak orang bahkan dunia. Ayah selalu bangga padamu" bisik Nolan membuat senyum terbit menghiasi wajah anaknya.


Demi apapun Nadeo sangat beruntung memiliki ayah seperti Nolan, pria itu tidak pernah menuntut dirinya untuk ikut terjun pada perusahaannya, bahkan Ayahnya sangat mendukung dirinya untuk bekerja dan kuliah sesuai minatnya.


Sungguh Nadeo sangat menyayangi dan mencintai Ayahnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2