
HAPPY READING ALL.
.
.
.
.
"Wanita seperti apa yang membuat bapak jatuh cinta?"
"Wanita yang dewasa, seksi dan tentunya memiliki wajah yang cantik" jawab Nolan seadanya.
"Hahaha" Cici tertawa lebar yang membuat matanya kian menyipit.
"Fisik memang menjadi alasan nomor 1 ya?" tanya gadis itu terdengar setengah mengejek.
"Hem. ayo berteman"
Cici tak salah dengarkan? tentu saja ia mau. Siapa yang akan menolak ajakan berteman oleh pria setampan Nolan, selain itu Cici juga bisa bertanya pelajaran yang belum ia pahami bukan?
"Berapa usia bapak?"
"32 tahun"
32 tahun? Cici cukup terkejut dengan fakta ini, Wajah Nolan terlalu muda untuk pria berusia kepala tiga.
"Apa aku setua itu?"
"Tidak, tapi wajah bapak masih seperti 20 tahunan" jawab Cici jujur.
"Kamu orang ke 1000 yang mengakui hal itu. Kamu tau saya pernah jatuh sejatuh jatuhnya pada seorang gadis" ucap Nolan yang tanpa sadar sudah membuka lembaran kisahnya.
__ADS_1
"Benarkah? Sesempurna apa gadis itu sampai bisa membuat bapak jatuh cinta?" Pancing Cici.
Cici itu sosok gadis yang peka. Dari nada suara Nolan yang terdengar berat pasti pria itu butuh sosok teman curhat, atau mungkin butuh tempat di mana ia bisa bercerita seluas-luasnya tanpa di cela.
"Dia gadis paling cantik yang pernah saya temui. Selain cantik dari segi fisik, tutur katanya juga begitu lembut. Tapi sayang tuhan tidak bisa membuat kami bersama. Nyatanya tiga tahun bersama justru membuat saya menghabiskan waktu hanya untuk menjaga dirinya untuk sahabat saya sendiri"
Penuh drama sekali kisah cinta tuannya ini, ingin rasanya Cici meledek tapi mereka tidak sedekat itu untuk bergurau.
"Namanya juga bukan jodoh pak. Mau seratus tahun pun bapak mencintainya kalau dia di takdir kan untuk orang lain toh bapak bisa apa?"
Hening... sebelum suara bel berbunyi yang membuat Cici beranjak berdiri.
"Sepertinya itu Ujang, segera lah siapkan makan siangnya" ucap Nolan dibalas anggukan oleh Cici.
Makan siang yang cukup terlambat itu sungguh nikmat, tidak terlalu istimewah hanya ada orek tempe, terong balado dan Perkedel kentang.
di Desa ini rumah makan jarang sekali menyediakan ayam, sedangkan ikan Nolan tidak terlalu menyukainya.
Nolan sudah memutuskan akan menjadikan Cici sebagai temannya, ini bukan ftv atau pun senetron dimana ia akan tega membuat gadis belia seperti Cici bekerja terlalu keras atau dengan sengaja memberikan banyak pekerjaan padanya.
"Jika kamu punya kesempatan kuliah, kamu ingin ambil kejuruan apa?" Tanya Nolan di sela-sela makannya.
"Saya ingin jadi seorang guru pak"
"Hem Cita-cita yang bagus"
"Besok teman-temanku dari Jakarta akan datang kesini. Kamu jangan sampai lupa siapkan makanan untuk mereka, jangan buat kesalahan apapun mereka adalah teman baikku"
"Siap pak"
Sepeninggal Nolan dari meja makan, Cici dengan ceketan membersihkan semua peralatan yang tadi ia pakai.
Hari pertama bekerja cukup melelahkan, tapi juga menyenangkan ketika Nolan mengajaknya untuk berteman. Seperti yang pria itu bilang di rumah mereka teman dan ketika di sekolah barulah guru dan murid.
__ADS_1
***
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, Cici tengah menyiram tanaman di depan halaman rumah Nolan. Sedangkan pemilik rumah tengah menikmati secangkir kopi ditemani buku tebal yang terlihat baru saja di buka.
"Selamat petang calon bini" suara melengking dengan di buat bernada itu menyapa gendang telinga Nolan.
"Petang aa"
"Rajinnya calon mantu ambu" godanya menaikkan kedua alisnya keatas.
"Hahah aa bisa saja"
Cici meladeni gurauan Ujang tanpa menghentikan kegiatannya. Soal panggilan gadis berambut panjang itu sengaja memanggil Ujang dengan embel-embel aa mengingat ujang lebih tua 1 tahun darinya.
"Gimana enak gak kerja sama pak guru?" Tanya Ujang seraya duduk di bangku kecil mengamati Cici dengan kegiatannya.
"Nanti malam aku kerumah mu ya, mau nyontek pr kimia kemarin. Kalau nilaiku di bawah kkm bisa-bisa gak naik kelas lagi" ucapnya membuat Cici terkekeh.
Ehem..ehem..
Deheman keras yang di sengaja itu membuat Ujang beranjak berdiri.
"Sore pak" sapanya tidak lupa menyalami tangan Nolan.
"Ngapain kamu ke sini?"
"Seperti biasa pak, menjalani rutinitas saya ketiga sore tiba. Hukumnya wajib bagi hidup saya untuk melihat kegiatan calon mantu ambu. Kalau gak liat dik Cici sehari itu rasanya hidup saya terlalu hampa" keluhnya terkesan lebay yang membuat Nolan mual.
Ujang ini memiliki selara gombal yang lumayan juga.
"Ck dasar bocah"
"Saya udah legal pak 19 tahun" bangganya.
__ADS_1
Bersambung....