
HAPPY READING ALL
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN ADN VOTE.
Dres di bawah lutut berwarna putih bersih tanpa lengan itu terlihat sangat cocok berada di tubuh mungil Cici.
Wajah Polos dan halus itu sudah di poles Make up tipis oleh Leona, dengan rambut panjangnya yang sengaja di biarkan gerai, Nolan akui Cici semakin terlihat cantik saja.
Sore ini Nolan memutuskan untuk mempertemukan Cici dengan Aji, papahnya. Nolan sudah menyiapkan banyak jawaban untuk berjaga-jaga jika Nanti Aji memberikan banyak pertanyaan untuk dirinya.
Papah nya pasti akan merasa terkejut saat dirinya tiba-tiba pulang dengan membawa Cici.
“Kamu yakin sudah sehat?” Tanya Nolan memastikan, ia tidak mau kesehatan Cici kembali memburuk.
“Sudah mas”
Nolan mengangguk lalu menjalakan kemudinya. Rumah papahnya cukup jauh dari rumah Ethan mungkin butuh 2 jam 15 menit untuk tiba di sana.
“kamu gugup?” tanya Nolan membuka pembicaraan.
“Rileks, papa tidak seganas yang kamu pikirkan” sambung Nolan mengelus surai hitam Cici yang di gerai.
Seperti keputusannya beberapa waktu yang lalu untuk mencintai Cici maka Nolan akan memulai dari memperlakukan Cici dengan manis. Nolan tidak akan main-main dengan apa yang sudah ia mulai, sebab hubungan bukan lah permainan.
__ADS_1
“Ara, hubungan ini mungkin belum di landasi cinta. Tapi kita akan saling mencoba untuk mencintai dan saling melengkapi, setelah menemui papa ku kita akan langsung menemui kedua orang tua mu”
Entahlah mulut cici terasa berat, ia hanya mengangguk gugup.
Mata cantiknya kembali mengarah pada jalanan, di dalam hati ia merasa begitu terpesona dengan keindahan kota Jakarta.
Lalu lintas kendaraan beroda dengan suara klakson yang sahut menyahut memecah keheningan dia dan Nolan.
"Mas Nolan tidak akan malu bukan memperkenalkan Cici?" Tanya Cici ragu-ragu.
Jujur saja ia merasa amat kecil hati dengan segala yang ada pada dirinya dan Nolan.
"Tidak, tidak sama sekali" Jawab Nolan menoleh sekilas pada gadis yang tengah menunduk itu.
Nolan tau apa yang tengah di rasakan Cici, gadis itu pasti tengah bergulat dengan pikirannya soal kehidupan ekonomi mereka yang jauh berbeda, oh ayolah harta kenapa selalu jadi permasalahan orang dewasa.
"Ha?"
Cici menatap Nolan bingung dengan mata yang mengerjap lucu, Nolan jadi gemas melihatnya.
"Apa kamu nanti tidak akan malu memperkenalkan pria yang cukup tua seperti ku?" Jelas Nolan mengacak-acak rambut Cici dengan sebelah tangannya.
"Tidak!" jawab Cici cepat dengan kepala yang menggeleng ke kiri dan kanan.
__ADS_1
"Jika tidak maka tidak usah memikirkan apapun yang akan membuat kamu pusing sendiri"
****
Kesan pertama yang Cici dapatkan dari kediaman orang tua Nolan adalah suatu hal sangat positif.
Rumah besar dengan taman bunga serta beberapa satwa yang tidak di kurung itu berkeliaran bebas ke sana kemari seperti tengah berada di kebun binatang mini.
Di bagian Kiri terdapat kolam ikan yang tidak terlalu besar dengan beberapa burung cendrawasih di pinggir kolam.
"Papa memang suka berkebun dan memelihara banyak satwa" jelas Nolan yang sedari tadi mengikuti arah pandang Cici yang terlibat berbinar-binar.
"Ayo kita temui papa" ajak Nolan menarik tangan Cici.
Langkah kaki keduanya berjalan bersampingan dengan tangan Nolan yang tiba-tiba melingkar cantik di pinggang ramping Cici.
Cici merasa cukup terkesan dengan perlakuan Nolan, pria berkemeja hitam di sampingnya ini benar-benar tengah mencoba menerima dirinya.
"Terima kasih" ucap Cici di dalam hati.
“Selamat datang calon menantu” suara lembut khas orang tua itu mengagetkan Cici.
“Oh Tuan muda wang, selara mu begitu luar biasa. Aku menyukai calon menantu ini” sambungnya seraya terkekeh.
__ADS_1
“Ayo kemari nak, apa kamu tidak ingin berkenalan dengan calon papa mertua mu ini?”sambung Aji menaik turunkan alisnya tanda tengah menggoda.
BERSAMBUNG