
HAPPY READING AND ENJOY GUYS
"Ganti baju lo, kita mau ke mall bukan ke club!" Geram Nadeo
"Gak mau!"
Ganti baju? Niken merasa tidak ada yang salah dengan penampilannya, celana jeans di atas paha dengan kaos putih tanpa lengan yang dibalut rajut jaring, Niken merasa cantik terlebih rambutnya yang di sanggul acak.
"Selera lo dalam berpakaian benar-benar buruk" ejek Nadeo berhasil membuat Niken meremang.
Buruk katanya? Hallo, dia adalah ratu kecantikan di sekolahnya semua orang memuji penampilannya, berani sekali Nadeo mengkritik penampilannya.
"Lo gak tau fashion"
"Fashion apanya? Lo gak malu pake baju anak tk?" Balas Nadeo membuat zohra terkekeh pelan
"Tai lo!"
Merasa perdebatan Niken dan Nadeo yang akan terus berlanjut, Zohra mendorong Niken untuk kembali ke kamarnya.
"Sana ganti baju yang lebih sopan"
"Mama ih" rengek Niken namun tetap mengikuti ucapan Zohra.
10 menit berlalu, Niken kembali dengan rok hitam di bawah lutut dengan kaos biru berlengan panjang.
"Puas lo"
Nadeo menganggukkan kepalanya, lalu berpamitan kepada Zohra.
Seperti biasa suasana jalanan kota Jakarta selalu dilanda macet, kendaraan beroda itu beriringan layaknya semut dengan suara klakson yang saling bersahutan.
__ADS_1
"Gara-gara lo sih kena macet kan" omel Niken yang tidak di hiraukan Nadeo.
"Nanti gue mau beli baju, sepatu, make up terus apalagi ya? Oh iya gue mau beli Tas buat Oni"
Ucapan Niken berhasil membuat Nadeo menatapnya tajam, dasar gadis tak tahu diri, bisa dikuras habis isi Atmnya.
Saat usianya memasuki 17 tahun Nadeo sudah tidak menerima uang saku dari ayahnya, semua kebutuhannya Nadeo penuhi dari hasil kerja kerasnya di galeri.
"Beli seperlunya aja, jangan boros"
"Pel__"
"Bukan pelit, tapi sayang aja barangnya nanti gak bakal kepake" potong Nadeo
"Gantinya kita ke time zone ya?" Tawar Niken di angguki Nadeo dengan malas.
Hening… tidak ada lagi pembicaraan dari keduanya, Nadeo fokus mengemudi dan Niken sibuk bermain ponsel.
Zohra hanya memberi tahu dirinya bahwa oni adalah pengasuh Niken, sudah besar tapi masih diasuh, memang gadis aneh.
"Manusia" jawab Niken tanpa dosa.
Mendapat lirikan dari Nadeo, Niken tertawa kecil.
"Pengasuh gue dari kecil sekaligus kepala pelayan di rumah. Seluruh keperluan gue di urus oni, soalnya mama sibuk ngurus papa, papa udah tua tapi manja banget sama mama" jelas Niken seadanya.
"Seharusnya lo udah bisa ngurus diri sendiri, gak perlu pengasuh lagi. Udah SMA masa kalah sama anak paud" ejek Nadeo
Pria ini kenapa selalu berhasil membuatnya emosi.
"Mama sama papa aja gak keberatan kenapa lo yang sewot"
__ADS_1
Tidak ada tanggapan dari Nadeo hingga mereka tiba di salah satu mall yang ada di Jakarta.
"Ke time zone atau belanja dulu?" Tanya Nadeo setelah memarkirkan mobilnya.
Niken terlihat berpikir "belanja dulu" jawabnya lalu menggandeng tangan Nadeo dengan erat.
Tidak ada penolakan dari Nadeo, pria itu terlihat biasa saja melihat tangan Niken yang dengan berani menggandeng tangannya.
"Gue kayak lagi nemenin anak sd" ucap Nadeo setengah terkekeh.
Bagaimana tidak tinggi Niken bahkan hanya sebatas dadanya, terlebih gadis remaja itu memiliki tubuh yang mungil namun berisi di bagian tertentu.
"Nunduk dulu" pinta Niken membuat Nadeo menautkan kedua alisnya.
"Nunduk lagi, lo ketinggian"
"Lo aja yang kependekan" balas Nadeo seraya menundukkan sedikit tubuhnya agar setara dengan Niken.
Bulu mata lentik dengan bola mata yang cantik, alis rapi, bibir tipis yang terkesan seksi, Nadeo akui remaja menyebalkan ini sungguh cantik.
"Biar keliatan kayak orang pacaran" ucap Niken setelah berhasil mengalungkan tas selempangnya di leher Nadeo.
Hei, apa-apaan ini dirinya terlihat seperti pria bucin.
"Eng__"
"Ayo buruan!"
"Dasar anak ini" geram Nadeo mengikuti langkah kaki Niken dengan tangan yang masih bergandengan.
BERSAMBUNG
__ADS_1