Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
Olimpiade


__ADS_3

HAPPY READING ALL


Keringat membanjiri pelipis gadis dengan lesung pipi itu, sedari tadi pikirannya berpusat pada angka-angka yang tertulis pada kertas putih yang telah ia isi rumus-rumus matematika.


Huuu


Helaan nafas berat ia keluarkan setelah mengisi semua soal yang panitia berikan, jujur perasaannya terasa sangat lega setelah kertas ujiannya berada di tangan panitia.


Soal-soal matematika tadi cukup sulit beruntung beberapa waktu lalu Nolan sempat mengajarinya rumus matematika cepat. Setelah ini Cici harus berterima kasih pada Nolan, mungkin dengan cara memasakkan pria tampan itu makanan kesukaannya atau mungkin mengajari Nolan bermain biola seperti yang Nolan minta beberapa hari yang lalu.


"Bagi peserta yang telah mengumpulkan jawabannya, boleh meninggalkan ruangan” ucap salah satu panitia memberi instruksi.


"Hai" suara bariton itu membuat Cici menghentikan langkah kakinya.


"Kamu mau ke kantin?" Tanya pemuda berseragam SMA dengan almamater kuning itu ramah.


"Iya"


"Kita bisa pergi bersama, aku juga ingin ke kantin. Sekolah elite ini terlalu luas. Aku rasa dengan pergi bersama akan jauh lebih baik Haha" kelakarnya bergurau.


Itu hanya mudus yang di lakukan remaja laki-laki itu pada Cici.


"Baiklah, ayo. Aku juga bingung di mana letak kantinnya, sekolah ini terlalu luas” jawab Cici menyahuti.

__ADS_1


"Namaku Bagas dari SMA Cendekia unggul Jakarta barat, dan Kamu?" ucapnya memperkenalkan diri tidak lupa menjulurkan tangan untuk Cici jabat.


"Salam kenal Bagas, Namaku Cici Larasati kamu bisa memanggilku Cici. Aku dari SMA 1 Dusun Jambu, Bandung" ucap Cici seadanya.


"Kamu dari Bandung?" Tanyanya memastikan seraya menoleh sekilas pada Cici.


"Hem iya, kamu melihat logo sekolahku dan tidak tuli bukan?" Gurau Cici di sertai tawa kecil yang membuat nya semakin terlihat manis.


"Haha tentu saja" pemuda itu tertawa ringan


Gadis disamping-Nya ini sangat manis dan memiliki aura yang cukup kuat, apalagi senyum tipis yang membuat lesung pipinya terlihat oh sungguh gadis Bandung memang cantik cantik. Begitu pikirnya


"Jakarta panas bukan? Aku sangat ingin ke Bandung. Kotanya sejuk apalagi daerah perkebunan tehnya aku sangat suka" ceritanya menghentikan langkah pada barisan penjual mie ayam.


Cici hanya mengangguk pelan, sejujurnya ia ingin bakso namun melihat antrian yang cukup panjang gadis itu memilih mengangguk saja toh yang penting rasa laparnya menghilang.


***


"Kepalaku sudah pusing tujuh keliling, Olimpiade sosial kali ini cukup sulit dari tahun lalu. Oh iya kamu ikut Olimpiade apa?"


"Matematika" jawab Cici singkat terkesan malas.


Perutnya sangat lapar ia sudah tak sabar menyantap mie ayam di hadapannya ini.

__ADS_1


"Really? Hem, tahun kemarin Olimpiadenya di adakan di Kota malang? Apa kamu juga ikut?" Tanya nya lagi.


Remaja laki-laki ini terlalu cerewet dan banyak tanya, Cici sedikit tak suka.


“Aku ikut? Bagaimana dengan kamu?”


"Tidak. Tahun lalu aku mengikuti pertukaran pelajar di jepang, jadwalnya bertabrakan. Tapi adikku juga ikut Olimpiade matematika mungkin kalian saling mengenal. Namanya tara” jelasnya.


"Itu sangat keren. Aku merasa tidak mengenal Adikmu. Maaf” jawab Cici lalu kembali menyantap makanannya.


Setelah menyelesaikan makan siangnya Cici memutuskan untuk menimpali runtutan pertanyaan Bagas.


"Senang bertemu dan mengobol banyak dengan mu"


"Iya ak__"


"Ara, ayo pulang" suara berat nan tegas itu membuat Cici menghentikan ucapannya.


"Tapi pengumuman lombanya?"


"Akan di mumkan lewat web. Ayo sekarang kita pulang, Ethan dan Leona sudah menunggu kita" ajak Nolan menarik tangan Cici


"Sampai jumpa Bagas!" Teriak Nara melambaikan tangannya tanda perpisahan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2