Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
Mas?


__ADS_3

HAPPY READING ALL


.


.


.


.


.


Hari semakin sore Nolan dan Ujang masih berkutat dengan permainan catur, kedatangan Ujang selain merayu Cici ternyata cukup membuatnya terhibur.


Bermain catur adalah kegiatan yang paling disukai Nolan selain bekerja, apalagi di temani secangkir kopi panas. Benar-benar afdol...


"Sudah pak sudah, 5 kali main saya kalah terus" ucap Ujang seraya meminum kopi hitam yang tadi di antarkan Cici.


Dari cara minum Ujang dengan mata terpejam membuat Nolan geleng-geleng.


"Main catur itu pakai logika biar kamu gak kalah terus" ucap Nolan diangguki Ujang meski remaja laki-laki itu terlihat malas.


"Waduh udah jam 5, saya pulang dulu pak mau masukin kambing abah ke kandangnya dulu" pamitnya buru-buru.


"Hati-hati" ucap Nolan setengah berteriak.


Baru saja hendak masuk ke dalam rumah, langkah kaki Nolan dihentikan teriak Ujang.


"Pak tunggu!!" Pekiknya heboh.


Keringat membanjiri wajah Ujang, rambut hitam ikal yang terlihat kusut, dan jangan lupakan sarung yang ia taruh di bahu.


"Kenapa kamu?"


"Tolong sampaikan salam saya buat Cici" ucap Ujang ngos-ngosan, lalu kembali berlari tanpa menunggu jawaban Nolan.


"Dasar konyol"

__ADS_1


Setelah menaruh catur pada tempatnya, indra penciuman Nolan disuguhkan dengan bau harum yang membuatnya lapar.


Baru 3 jam yang lalu ia makan, tapi perutnya kembali lapar.


"Pak" panggil Cici memecah lamunan Nolan.


Pria dengan kaos hitam itu bukannya menjawab panggilan Cici justru duduk dengan muka yang terlihat di tekuk.


"Pak"


"Bisakah kau berhenti memanggil ku pak?"


"Ah maksudku kita mulai pertemanan ini dengan panggilan yang lebih dekat" ralat Nolan cepat-cepat.


Cici tersenyum, kalau dalam mode ramah seperti ini Nolan jauh lebih sedap untuk dipandang. Wajah Nolan ini tampan tapi juteknya bikin ngelus dada.


"Kamu masak apa?"


"Untuk makan malam nanti sudah ada Sambal bajak pete dan sayur asem, di kulkas juga ada salad buah" jawab Cici seadanya.


"Oh iya aa aku sudah bisa pulangkan? Besok pagi aku akan datang lebih cepat" sambungnya meminta izin, tidak lupa mengganti panggilannya untuk Nolan


"Maksudnya?"


"Tidak ada. Sana pergilah" usirnya mengibaskan tangan.


Lima menit...


Sepuluh menit berlalu...


Setelah Nolan yakin cici benar-benar telah pergi, dengan cepat tangan pria tampan itu membuka tudung saja untuk segera melahap masakan cici.


Perutnya benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama, baru saja mencium aroma lezat perutnya langsung minta di isi.


...***...


Subuh-subuh buta sebelum ayam berkokok, Cici sudah bergulat dengan peralatan dapur. Jam setengah empat tadi ia datang ke rumah Nolan dengan kunci cadangan, seperti yang Nolan pesankan kemarin ia harus masak cukup banyak mengingat hari ini akan ada teman-temannya yang berkunjung.

__ADS_1


Badan kecil tidak terlalu birisi itu mondar mandir melakukan dua pekerjaan sekaligus, memasak sambil beres-beres.


Tak jauh dari sudut pintu dapur Nolan sedari tadi mengamati pekerjaan Cici.


Tadi saat ia akan ke kamar mandi tak sengaja melihat sosok Cici yang tengah berkutat di dapurnya. 


Gadis ini terlalu rajin dan cekatan untuk gadis seusia dirinya, sepupunya saja sudah berusia 19 tahun yang ada di Jakarta boro-boro bisa memasak menghidupkan kompor saja tak bisa.


Nolan acungi jempol untuk didikan orang tua Cici.


Pukul 6 pagi di meja makan ada nasi goreng dengan kerupuk ikan tidak lupa secangkir susu coklat sebagai pelengkap.


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Nolan 


"Ayo sarapan bersama" ajak nya saat tidak mendapat jawaban dari Cici


"Tap__"


"Ara aku tidak pernah menerima penolakan" potongnya saat Cici hendak memprotes.


Nolan tidak tahu saja Cici merasa begitu gugup dan tidak enak, makan dengan majikan bukanlah hal yang patut ia lakukan, ya meskipun Nolan sudah menawarkan pertemanan padanya.


"Tunggu apalagi ayo duduk!" Ucapnya yang tanpa sadar menarik tangan Cici.


Mencoba tersenyum, Cici mulai menyuap sarapannya meski begitu terlihat sungkan.


"Jam berapa kamu datang kesini?" Tanya Nolan pura-pura tidak tau.


"Kurang jam 4 subuh. Oh iya mas untuk hidangan yang mas mint kemarin sudah aku siapkan di kulkas" jawabnya.


"Mas?" Ulang Nolan.


"Kemarin kan bapak bilang kalau sedang di rumah jangan panggil bapak jadi aku panggil mas Nolan tidak apa-apa kan?" Jelasnya.


Terdengar menggelikan tapi tak apalah, dari pada Aa dan bapak itu semakin terdengar lucu.


Bersambung....

__ADS_1


Bantu promo cerita ini ya hahha


SEE U NEXT CHAPTER


__ADS_2