
HAPPY READING ALL
JANGAN LUPA LIKE, COMEN, AND VOTE...
"Selamat pagi, pakaian dan sarapanmu sudah ada di meja. Aku sedang mengurus data lomba mu kemarin, aku tidak tega membangunkan matahari pagi ku ini maka aku siapkan secangkir susu dan rekan-rekannya yang akan mengisi perutmu. Selamat sarapan cintaku"
Cici tersenyum simpul membaca secarik surat yang Nolan siapkan di atas nakas, mata cantik itu juga melihat pakaian dan sarapan seperti yang Nolan tuliskan.
Ternyata pria itu sungguh ikhlas membuka hati nya untuk dirinya, Suratnya juga lucu terlebih ada bentuk hati di penutup surat.
Nolan ternyata cukup manis dan Cici menyukai sikap manis pria dewasa itu.
"Sangat manis" kekeh Cici masih dengan senyum merekah menghiasi wajah cantiknya.
Cici merasa dirinya sudah mulai baper dengan segala perbuatan Nolan dari beberapa jam yang lalu.
kaya dan tampang Nolan yang menawan itu adalah bonus yang cici dapatkan yang penting dan paling utama Cici sudah tau bahwa Nolan salah satu tipe pria tulus mau menerima dirinya apa adanya dan bertanggung jawab.
Kring...
Nada dering benda persegi pipih itu mengalihkan perhatian Cici. Siapa yang sudah menghubunginya pagi-pagi begini.
"Kamu sudah bangun?" Suara berat terkesan tegas namun tidak membentak itu sangat Cici kenali.
__ADS_1
"Baru saja"
"Apa aku mengganggu? Aku rasa tidak. Ini sudah jam delapan pagi kamu sungguh terlambat menyinari bumi” ucapnya dengan Nada meledek.
Ck sejak kapan Nolan menjadi pria menyebalkan seperti ini, dan sejak kapan pria itu bisa merangkai kalimat manis.
Matahari? Cici rasa dirinya tidak terlalu istimewah sehingga pria itu menyamakannya dengan Matahari.
"Berisaplah satu jam lagi kita pulang ke Bandung" sambung Nolan sebelum mematikan teleponnya.
“Ini terlalu cepat, tapi jika di tunda terus kapan semuanya akan bahagia. Cici, aku rasanya berdosa memaksakan diri seperti ini. Tapi aku juga akan semakin berdosa jika menyia-nyiakan gadis baik sepertimu” gumam Nolan menyandarkan tubuhnya.
Aji, sudah mendukung hubungan keduanya 100 persen maka pantang bagi Nolan menghancurkan kebahagiaan papanya itu.
Cici Larasati, gadis itu sudah berhasil masuk ke dalam bagian hidupnya dan tidak akan Nolan biarkan keluar.
Entah sadar atau tidak foto Cici ia jadikan wallpaper ponselnya.
***
Setelah membersihkan diri lalu menghabiskan sarapannya, Cici beranjak duduk di hadapan meja rias.
Nolan sengaja membawa Cici ke apartemen nya setelah semalam mereka menghabiskan waktu lamaran dadakan yang Nolan tunjukan pada dirinya.
__ADS_1
“Kalau pulang ke rumah papa nanti kamu di tanya-tanya, emang mau?” begitu ucap Nolan semalam sebelum ia berada di apartemen yang tidak bisa di katakan sederhana ini.
Tangan mungilnya bergerak lincah memoleskan make up yang sudah Nolan persiapkan bersama pakaiannya beberapa waktu yang lalu.
Cantik, puji Cici pada dirinya sendiri.
wajahnya terlihat segar dengan polesan lipstik merah muda di tambah sedikit maskara pada bulu matanya yang memang sudah lentik.
Pukul 9.15 menit Nolan datang untuk menjemputnya pulang.
Sepanjang jalan tangan kekar berurat itu menggenggam tangan mungil Cici, semuanya akan baik-baik saja jika keduanya saling menerima maka dari situlah Nolan akan bersikap manis memperlakukan Cici layaknya alm. Ibunya.
“Mas benar gak apa-apa kita gak pamit dulu sama Papa? Sama kak Ethan dan Leona juga?” tanya Cici memastikan.
Papa? Ck cici merasa malu sendiri menyebut orang tua Nolan seperti itu. Tapi apa boleh buat Aji sendiri yang memaksa dirinya dan tentu saja sudah mendapat izin dari Nolan.
“aku udah izin tadi sebelum jemput kamu” jawab Nolan menoleh sekilas.
Cici mengangguk lalu memutar kepalanya untuk melihat jalanan kota Jakarta, suansa pergi dan pulang ia ke Jakarta sungguh amat berbeda.
jika saat ia datang suansana terlihat canggung sekarang saat ia akan pulang ke Bandung suasana jauh lebih hangat, Cici akui ia menyukai suasana saat ini.
Menyukai suasana atau menyukai orang yang duduk di sampingnya?
__ADS_1
bersambung...