
HAPPY READING ALL
.
.
.
.
"Sialan! Si badut dengan alis tebal ini benar-benar mengganggu" maki Nolan seraya kembali mengutak atik ponselnya untuk menghubungi seseorang dengan posisi membelakangi Cici.
"Cahyo aku mempekerjakan dan membayarmu memakai uang! Jadi selesaikan permasalahan ini. Aku benar-benar terganggu!" Ucap Nolan pada seseorang di seberang sana saat teleponnya tersambung.
"Sa.."
"Jauhkan badut tak menarik itu dari lingkungan keluarga wang. Sampaikan juga pada si tua itu berhenti mencampuri urusanku!" Makinya lagi dengan suara yang terdengar begitu kesal.
Kurang lebih 3 menit Cici terdiam di ruangan Nolan tanpa sepengetahuan pemuda itu,mau menyala tapi merasa tidak enak, mau tak mau dengan sabar Cici menunggu Nolan berhenti mengoceh dengan benda persegi pipih itu.
Dan sedari tadi pula Cici berusaha menulikan telinga agar tidak mendengar segala makian yang entah Nolan tujukan dengan siapa.
"Kamu?" kaget Nolan melihat Cici sudah berada di ruangnnya.
"Selamat siang pak!" Sapa Cici kikuk saat Nolan membalikkan badannya.
"Sejak kapan kamu berdiri disitu?"
__ADS_1
Menampilkan cengiran yang terlihat aneh cici mulai membuka suara " sejak mas eh pak Nolan melakukan panggilan" ucapnya gagap.
"Tidak sopan, lain kali ketuk pintu terlebih dahulu"
"Maaf mas eh pa.."
"Panggil senyamanmu saja tak apa jika kita hanya berdua" sela Nolan membuat Cici tersenyum lega.
"Ada apa?" Tanya Nolan memastikan kedatangan Cici seraya memijat kepalanya.
ia harus profesional masalah pribadinya tidak boleh ia lampiasakan saat di sekolah.
"Itu mas, Cici di minta kepala sekolah untuk meminta kisi-kisi soal olimpiade matematika untuk minggu depan" ucapnya mengutarakan tujuannya datang kemari.
"Hem, sebentar"
Seorang ayah yang dijuluki si tua itu kekeh menanyakan kabar dan perkembangannya selama di desa terpencil ini, belum lagi pertanyaan apakah ia sudah menemukan pujaan hati di desa ini dan segala hal yang benar-benar membuat Nolan pusing.
Oh ayolah Nolan baru 4 hari menginjakkan kakinya di desa ini, dan satu lagi pujaan hatinya ada di Jakarta, entah sampai kapan perasaannya hanya akan dimiliki Sasa, hanya Sasa tidak ada wanita lain.
"Mas" panggil Cici lagi.
"Ara sabarlah sedikit kepalaku pusing, Kisi-kisinya ada di lemari besar itu" tunjuk Nolan pada lemari besar di ujung ruangan dengan mata terpejam sedangkan satu tangannya lagi masih sibuk memijat kepalanya sendiri
Entah sadar apa tidak Cici beranjak dari duduknya menghampiri Nolan, perlahan tangan halus dengan kuku yang tidak dibuat memanjang itu menyentuh kening Nolan lalu melakukan pijatan pelan.
"Ara"
__ADS_1
"Maaf ya Mas" ucapnya mulai memijat kepala Nolan yang otomatis membuat tangan pria itu turun dari keningnya.
"Kalau lagi banyak pikiran, ada masalah, sebaiknya diselesaikan dengan baik-baik lho mas. Marah-marah sama maki-maki cuman nguras tenaga" nasihat Cici dengan nada hati-hati, takut Jika Nolan tersinggung dengan ucapannya.
"Bukan mau menggurui ya mas, cum__"
"Iya Ara, iya. Pijat lebih keras dan berhenti bicara" potong Nolan memejamkan matanya.
Mau tak mau Nolan akui pijatan gadis belia ini benar-benar enak, dan jujur saja ini kali pertamanya selama hidup ada yang berani menyentuh kepalanya.
"Nanti setelah kamu beres-beres, dan memasak. Temui saya di ruang baca"
"Iya mas"
"Saya ajarkan trik matematika yang cepat dan tepat" ucap Nolan lagi membuat Cici senang.
"Beneran mas?" Tanya antusia yang tanpa sadar memajukan wajahnya tepat di samping Nolan.
"Iya" jawab Nolan seadanya seraya membuka matanya.
Wajah cantik dengan kulit putih tanpa jerawat, alis tebal bak semut yang berjalan rapi, bibir tipis merah alami dengan mata teduh berbinar itu, berada tepat di samping wajahnya. Sedikit saja Nolan menoleh sudah dipastikan kulit mereka akan bersentuhan.
"Sekarang masuklah ke kelas, kisi-kisinya dibawa pulang nanti siang" ucap Nolan di angguki Cici dengan muka yang terlihat masih begitu senang.
Senatusias itukah gadis ini belajar?
BERSAMBUNG...
__ADS_1