
HAPPY READING END ENJOY GUYS!!
Pagi yang cerah dengan terpaan sinar sang surya, Nadeo duduk di taman ditemani secangkir kopi hitam yang asapnya masih terlihat mengepul, menandakan kopi itu masih panas.
Pagi ini Nadeo belum memulai kuliahnya, pria itu baru saja selesai mengurus sksnya, tidak ada yang akan di lakukannya hari ini selain mengantar jemput Niken dan mungkin mengunjungi galeri seninya.
Fyi, galeri Nadeo tidak hanya tentang seni pahat kayu, tetapi juga berkecimpung di seni lukis. Pria yang hendak berusia 20 tahun itu begitu menyukai seni dan kebebasan, baginya seni adalah kehidupan dan Nadeo akan hidup dengan seni.
"Suasana yang menenangkan" ucap Nadeo pada dirinya sendiri.
Seharusnya Niken sudah berangkat setengah jam yang lalu, tapi gadis itu sengaja meminta izin ke sekolah untuk datang setengah sembilan. Anak manja itu ngotot ingin ikut mengantar orang tuanya ke bandara.
"Kenapa gak sarapan?" Suara lembut khas wanita paruh baya itu terdengar menyapa.
Nadeo tersenyum kecil, lalu mempersilakan Zohra untuk ikut duduk di sampingnya.
"Nanti setelah mengantar Niken, sekarang belum lapar" ucap Nadeo menjawab pertanyaan Zohra.
Wanita itu mengguk pelan "kamu sudah punya pacar belum? Kalau sudah ada jangan lupa kenalin ke aunty" pancing Zohra membuat Nolan lagi-lagi tersenyum simpul.
Pacar? Untuk satu ini Nadeo belum memikirkannya, belum ada sosok gadis yang menarik perhatiannya, terkecuali untuk Niken Nadeo cukup tertarik padanya, meski rasa tertarik yang dimilikinya sangat lah kecil.
Mungkin rasa tertarik yang dimilikinya saat ini 1 dari 10.
"Sudah ada ya?" Tanya Zohra lagi
Di dalam hati Zohra berharap Nadeo belum memiliki kekasih, ambisinya agar Nadeo menjadi menantunya sangat lah besar, ya meski Niken masih terlalu kecil tapi bukankah cinta tidak memandang usia.
Oh ayolah anaknya dan Nadeo hanya selisih 3 tahun.
__ADS_1
"Belum"
Jawaban yang di berikan Nolan sesuai harapan Zohra, wajah Zohra tersenyum cerah.
"Ganteng gini kok belum punya pacar, sama anak aunty mau? Biar gak kesepian" kekeh zohra membuat Nadeo tersenyuk kikuk.
Ehem..ehem
Deheman cukup keras itu berhasil menghentikan pembicaraan keduanya, entah sejak kapan Derry berdiri di bakang mereka.
"Papa mau kan Nadeo jadi mantu kita? Udah ganteng, punya usaha dan perhatian lagi" ucap Zohra tanpa rasa bersalah.
Nadeo menggaruk tangkuknya yang tidak gatal, suasana yang tadinya menengkan menjadi kikuk setelah kedatangan Zohra dan Derry.
"Kalau keduanya saling suka, papa setuju. Semalam ayahmu menghubungi uncle" jawab Derry seraya mengalihkan pembicaraan.
"Uncle tau perasaanmu"
Ditatapnya pria seusia ayahnya itu dengan tatapan teduh "Aku tau uncle, mau tidak mau suatu saat nanti aku akan ikut terjun seperti ayah. Dulunya aku sempat meminta bunda untuk memiliki anak lagi agar usaha ayah ada yang melanjutkan dan aku akan sibuk dengan duniaku. Berbisnis bukanlah diriku" ungkap Nadeo mengutarakan perasaanya.
"Ayah memberikan kebebasan untuk ku memilih, tapi jauh di lubuk hatinya beliau jelas ingin aku turut adil di perusahaannya. Seni memang duniaku, tapi ayah dan bunda jauh di atasnya" sambung Nadeo membuat Derry memberikan tepukan bangga di pundaknya.
"Uncle bangga padamu, sana jemput Niken uncle ingin bicara dengan auntymu" ucap Derry di angguki Nadeo.
Sepeninghalkan Nadeo, Derry memberikan tatapan tajam untuk istrinya.
"Apa? Kenapa menatapku begitu?"
"Aku juga sangat ingin Nadeo menjadi menantuku, tapi pakai cara yang berkelas sedikit kamu terlalu menunjukkan rasa suka padanya, nanti anak itu curiga. Biarkan mereka saling memiliki dengan caranya sendiri, toh jodoh tidak akan kemana" ucap Derry
__ADS_1
***
"Iya nanti Oni siapkan untuk Nona" ucap Oni sambil menyuapi Niken dengen teletan.
Niken tengah sarapan dengan tangannya yang sibuk bermain ponsel, sedangkan Oni wanita tua itu dengan setia duduk di pinggiran kasur Niken dengan sesekali menyuapinya.
"Makan sendiri udah gede kan?" Ucap Nadeo secara tiba-tiba mengambil piring yang ada di tangan Oni, lalu memindahkannya ke pangkuan Niken.
"Makan sendiri, jangan main ponsel, belajar mandiri" sambungnya memasukkan ponsel Niken kedalam kantong celananya.
"Lo dateng-dateng ngerusak suasana, cepet balikin ponsel gue!"
Nadeo menggeleng cepat lalu mengisyaratkan agar Oni meninggalkan keduanya.
"Jangan manja, habisin sarapannya"
Niken menggeram kesal, menaruh kedua tangannya di depan dada. Selera makannya benar-benar sudah hilang sejak kedatangan Nadeo.
"Makan, uncle sama aunty udah mau pergi"
"Gak mau!" Tolak Niken menyampingkan wajah.
Nadeo mengambil alih piring di pangkuan Niken, lalu mengarahkan sendok di hadapan mulut gadis itu.
"Pergi sana lo, gue gak mau makan"
"Makan atau gue lempar ke luar"
BERSAMBUNG..
__ADS_1