Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
S2-Niken


__ADS_3

HAPPY READING BESTIEEE


Jakarta, siapa yang tidak tau dengan kota satu ini. Gedung bertingkat, kendaraan roda empat dan dua yang selalu terjebak macet, pusat ekonomi dan tentunya kota yang akan menjadi tempat Nadeo melanjutkan pendidikannya.


Satu jam yang lalu Nadeo tiba di Jakarta, remaja laki-laki dengan tinggi 187 dengan celana jeans hitam robek-robek itu kini tengah berdecak malas. Hal yang paling Nadeo tidak sukai yaitu menunggu, Nadeo benci menunggu dan sekarang dia sedang berada di posisi itu.


"Sialan!" Geram Nadeo kembali melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


Satu jam duduk tanpa melakukan apa-apa sungguh membuat Nadeo frustasi, Jakarta begitu luas tidak mungkin Nadeo berkeliaran tanpa arah.


Jika bukan karena tidak tau alamat rumah Uncle Derry, Nadeo pasti tidak akan berada di posisi membosankan ini.


KRING….KRING…


"Lo dimana? Gue cariin juga. Belum apa-apa lo udah ngerepotin gue, bisa gak sih diam di satu titik jangan keluyuran kayak anak itik lo!...-"


Nadeo menjauhkan ponselnya, nomor tidak dikenal. Berani sekali orang ini berteriak dan memarahinya.


"Woi, lo masih disitu kan!"


"Gue Niken" sambung suara melengking itu kembali terdengar.


Niken, nama yang tidak asing di telinga Nadeo.


Oh god, Nadeo ingat gadis ini pasti anak uncle Darry.

__ADS_1


"Lo dimana?" Tanya gadis itu semakin tidak bersahabat.


Nadeo berdehem seraya melirik ke arah kiri dan kanan.


"Gue di depan Cafe Casteria" jawab Nadeo seadaanya.


"Ok gue kesana"


Tut panggilan ditutup secara sepihak.


***


"Bener lo yang namanya Nadeo?" Ucap gadis mungil dengan kacamata hitam gelap itu memandang Nadeo dari kepala sampai mata kaki.


"Gue Niken, Niken putri sabirah" lanjutnya memperkenalkan diri tidak lupa menjulurkan tangan kanannya pada Nadeo.


"Oh"


Mendengar dan melihat respon Nadeo yang seakan tidak berminat, gadis menggemaskan itu terlihat marah.


"Songong banget ngalahin artis" gumam Niken masih dapat di dengar.


"Buruan gue udah satu jam nunggu lo disini" ucap Nadeo menarik kopernya diikuti pria berkemeja serbah hitam yang tadi ikut bersama Niken.


Niken, gadis cantik dengan tinggi 157 itu berdecak kesal. Baru kali ini ia di abaikan dan Niken tidak suka di abaikan. 

__ADS_1


"Minggir!" 


Nadeo memutar matanya malas, jika tidak ingat gadis di hadapannya ini anak unclenya Nadeo pasti sudah menjahit mulutnya. Tidak di telepon, tidak di hadapan langsung gadis ini sangat cerewet.


Wajah Niken ini cantik tapi terlihat menyebalkan, tingginya hanya sebatas dada Nadeo dan sikapnya sungguh kekanak-kanakan.


"Om Bram, nanti berhenti sebentar di depan indoapril" pinta Niken seraya melipat kedua tangannya di depan Dada.


"Siap dilaksanakan, princes"


"Lo ,duduk di depan. Jangan dekat-dekat nanti gue ketularan virus" 


"Siapa juga yang mau deket-deket sama lo, dasar geer" jawab Nadeo sarkas membuat Niken mengembungkan pipinya tanda gadis itu tengah menahan kesal.


15 menit berlalu...


Nadeo dan Bram sedari tadi mengamati Niken yang tengah sibuk memilih jajanan yang berbaris rapi di pinggir jalan.


"Maaf nak harus menunggu Nona kalau liat makanan membutuhkan banyak waktu. Maklum dia masih remaja" ucap Bram menatap Nadeo yang juga turut menatap dirinya.


"Tidak masalah, saya bisa mengerti. Berapa usianya?" tanya Nadeo mengalihkan tatapannya pada Niken yang terlihat masih sangat sibuk.


"16 tahun, Nona baru masuk SMA jadi masih sangat kekanak-kanakan. Tuan dan Nyonya juga sangat memanjakan Nona jadi nak Nadeo pasti dapat menyimpulkannya sendiri" kelakar Bram di sertai kekehan pelan.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2