
HAPPY READING ALL
.
.
.
Belajar, belajar apapun itu baik dari teori maupun praktek adalah hal yang sangat-sangat Cici sukai, tak heran jika gadis manis itu merasa sangat senang dan antusias saat ada lomba-lomba yang mengharuskan ia ikut berpartisipasi.
kelas 3 SMA sebenarnya sudah tidak diwajibkan untuk ikut banyak kegiatan, kerena harus fokus mempersiapkan diri untuk keperguruan tinggi. tapi bagi Cici selagi ia bisa dan yakin kegiatan seperti ini sangat berefek besar pada kehidupannya.
Tubuh dan fikirannya akan terasa berat saat ia tidak melakukan sesuatu, bersantai bukanlah dirinya. waktu adalah emas maka dengan sebaik-baiknya Cici akan menggunakan waktunya untuk belajar, terlebih mendengar Nolan yang akan memberikan kisi-kisi pelajaran dan tutor menghitung cepat ala pria seksi itu.
Bicara soal Nolan, Cici sangat mengagumi cara pria yang biasa ia panggil mas itu dalam mengajar ya meski kadang wajah tampannya terlihat datar dan sedikit menyebalkan.
Rasanya Pipi chubynya sudah pegal mengembangkan senyum sedari tadi pagi.
"Orang pintar sama cantik kalau lagi senang bahagianya nular sama orang sekitar" celetuk Ujang yang entah sejak kapan sudah berdiri disamping kanan Cici.
"Astaga, aa ngagetin aja" ucap Cici mengelus dadanya naik turun.
Terkekeh pelan, pemuda berkulit hitam manis itu mengalihkan perhatiannya pada belanjaan yang tengah dimasukkan penjual sayuran itu ke kantong hitam besar yang ujang yakini milik Cici.
"Tumben belanjanya banyak?"
"Buat stok aa, gak bakal busuk kan di rumahnya Mas Nolan ada kulkas" jawab cici seadanya .
__ADS_1
"Mas?"
Ah cici lupa, mulutnya terasa begitu ringan saat menyebut nama Nolan dengan embel-embel mas.
"Semuanya 89 ribu neng"
"Sebentar pak" jawab Cici seraya mengambil lembaran uang lima puluh ribuan yang tadi sempat Nolan berikan.
Beruntung pedagang sayur itu menyahut yang berhasil mengalihkan perhatian Ujang.
"Sini aa bantu, sekalian mau ketempat pak kades" tawar Ujang
Belum sempat tangan Ujang menyentuh pegangan kantong plastik belanjaan Cici, tangan kekar lainnya sudah lebih dulu menyambar.
"Biar saya aja, rumah pak kades juga tidak searah dengan jalan rumah saya" Ucap Nolan menatap Ujang yang tengah cengengesan.
"Ara ayo pulang" ajak Nolan tanpa sadar menarik salah satu tangan Cici.
"Untung bapak cakep, kaya sama pintar. Aku mah apa atuh" gumam Ujang menatap punggung Cici dan Nolan yang semakin menjauh.
***
"Kamu belanja sebanyak ini?" Tanya Nolan disela-sela langkah kakinya masih dengan sebelah tangan kanannya menggenggam tangan putih cici.
"Buat stok mas. Berat ya? Sini bia__"
"Berisik" potong Nolan.
__ADS_1
Hembusan angin sore dengan suara bebek yang bersahutan di tengah sawah dan beberapa anak desa yang tengah berlarian sepanjang jalan adalah pemandangan yang amat jarang Nolan lihat saat di Jakarta.
Disini anak-anak masih bermain permainan tradisional seperti petak umpat, wayang dan sebagainya. Berbeda dengan anak-anak Kota yang kecil kecil sudah main ponsel.
"Seharusnya jalan disini sudah di aspal" celetuk Nolan tiba-tiba.
"Namanya juga jalan kecil pak, kemarin-kemarin ini sempat di aspal tapi lama kelamaan rusak juga. Mau di bangun kepala desa belum ada dana" jelas Cici
"Hem"
"Belajar yang serius, jangan sampai membuat sekolah malu. matematika itu mudah kalau kita suka dan berusaha"
"iya mas"
"Leona katanya mau ketemu kamu di Jakarta"
mendengar nama wanita cantik dan baik hati itu membuat Cici tersenyum tulus. sungguh demi apapun ia benar-benar mengidolakan Leona meski baru mengenalnya, wajahnya yang ayu, tutur katanya yang lembut dan asik membuat kesan menyenangkan.
"Yang benar mas? aduh gak sabarnya" girang Cici penuh semangat.
"iya, nanti aku sendiri yang akan menemani kamu menemuninya"
"Leona itu wanita yang menyenangkan dan energik, aku lihat-lihat kalian cocok juga"
"mas Nolan benar"
masih dengan langkah pelan, menikmati suasana sore yang nyaman di iringi cerita singkat tanpa sadar membuat mereka semakin dekat.
__ADS_1
BERSAMBUNG...