
HAPPY READING AND ENJOY
Tiga hari sejak kedatanganya di Jakarta hari ini Nadeo akan datang ke kempus barunya, tidak banyak yang pemuda tampan itu siapkan hanya tas punggung berisi 1 buah pena dengan buku binder biasa yang ia bawa ketika kuliah di Bandung.
"Nanti bareng Niken aja perginya, kebetulan kampus kamu lewat sekolahnya. Jadi pak Bram gak perlu antar jemput dia lagi, kamu tau sendirikan anak itu sangat merepotkan" ucap Derry disela sarapannya.
Mau tidak mau Nadeo menganggukkan kepalanya tanda setuju, jujur saja Nadeo ingin menolak tapi rasa sungkan dan tidak enakan terlalu menyelimuti dirinya.
Jika Pak Pram sudah tidak lagi di repotkan oleh Niken, maka mulai dari sekarang ia harus menstok kesabaran.
"Untuk mobil kamu bebas mau pakai yang mana, kuncinya bisa kamu ambil di pak Pram" sambung Derry yang lagi-lagi di angguki Nadeo.
"MAMAAAAA KAOS KAKI NIKEN YANG WARNA PINK MAMA TARUH DIMANAAAA" teriakan nyaring itu terdengar dari lantai dua.
"Anak itu selalu saja berteriak" geram Derry memijat kepalanya.
"MAMAAAA DENGER NIKEN GAK SIH" teriakan Niken kembali terdengar diriingi langlah kakinya menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa.
Gadis berbaju batik berlengan pendek, rok hitam di atas lutut, rambut kusut belum di sisir dengan kaos kaki sebelah itu menatap Zohra dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Menggelikan" gumam Nadeo yang masih dapat di dengar Derry.
"Ini udah jam 6. 55 kamu juga belum siap? Makanya jangan nonton drakor terus. Kamu udah gadis tapi kelakuan masih aja kayak anak tk" omel zohra menatap tampilan berantakan Niken.
Tidak ada jawaban dari Niken, gadis itu justru mendudukkan dirinya di samping Nedeo tidak lupa mengambil roti yang sudah diolesi coklat yang ada di piring Nadeo.
__ADS_1
"Mama beyisik" ucapnya di sela-sela suapa roti yang ada di mulutnya.
Nadeo menggelengkan kepalanya pelan, reflek tangan kanannya menyingkirkan rambut panjang Niken yang terlihat mengganggu.
"Kalau bicara makananya di telen dulu"
"Hm"
"Kaos kaki yang pink mama taruh dimana? Mau aku pake hari ini" tanya Niken lagi.
"Pake yang hitamkan bisa? Pake yang ada dulu ini udah siang nanti kamu telat, rambutnya juga belum di sisir lagi. Lain kali bangun yang pagi" omel Zohra di balas gumaman pelan dari Niken.
"Mulai hari ini kamu berangkat bareng Nadeo kam_"
"Gak mau!" Tolak Niken sebelum Derry menyelesaikan ucapannya.
"Iyaaaa papaku iyaaa"
***
Kalau ada yang lebih menyebalkan dari segal hal yang menyelkan di dunia ini, maka Nadeo dengan mantap akan menjawab adalah menghadapi gadis dengan nama Niken.
"Bentar dulu lipstiknya gak cocok jadi keliatan kayak cabe-cabean!" Omel Niken seraya menghapus warna dibibirnya.
"Lo itu mau sekolah nuntut ilmu bukan pergi kepasta, ayo turun gue juga udah telat!!"
__ADS_1
Niken melirik Nadeo tak suka "berisik banget ngalahin mama lo" balasnya
Nadeo menggeram kesal, sudah 15 menit sejak sampai di depan gerbang sekolahnya Niken masih setia memoles wajahnya.
Tidak ada raut panik ketika Niken melihat gerbang yang hendak tertutup, gadis itu lebih peduli akan penampilan dirinya yang jelas-jelas sudah terlibat cantik.
"Pake yang ini" tunjuk Nadeo pada lipstik berwarna pink pudar milik Niken.
"Pilihan lo bagus juga"
Menolehkan wajahnya kekiri dan kanan di depan cermin tidak lupa berpose singkat "perfeck"
Cup..
Benda lembut sedikit basah itu menyentuh pipi kiri Nadeo.
"Makasih dan semangat kuliahnya" ucap Niken sebelum keluar dari mobil.
"Jangan lupa jumput gue jam 3!" Lanjut Niken lalu berlarian masuk kedalam sekolah.
"Dasar nakal" gumam Nadeo menatap kepergian Niken.
Berbagai jenis make up, kuncir, sisir dan cermin berserakan di mobil, Nadeo menggelengkan kepalanya.
"Perasan temen-temen cewe gue gak seribet anak ini" desis Nadeo merapikan pernak pernik Niken dengan sabar.
__ADS_1
BERSAMBUNG