Mereka Yang Jatuh Cinta

Mereka Yang Jatuh Cinta
Cerita malam


__ADS_3

HAPPY READING ALL


.


.


.


.


Angin malam menerpa kulit Cici, rasa dingin sudah pasti menyelimuti tubuh remaja yang hendak dewasa itu. Setelah banyak kegiatan menyengkan yang ia lewatkan bersama Teman-teman Nolan yang menurutnya sangat asyik, justru berefek pada kesehatannya.


Kepalanya sedikit pusing ingin sekali ia meminta izin pulang kepada Nolan tapi rasa segan selalu lebih mendominan perasaannya.


Cici tidak cukup berani untuk meminta izin di saat Nolan tengah bercengkerama hangat dengan Ethan dan Kai di temani jagung bakar dan secangkir kopi yang masih hangat.


"Angin malam tidak baik untuk kesehatan" celetuk suara halus yang tiba-tiba datang, dengan selimut tebal yang ikut ia berikan pada Cici.


"Kakak kenapa belum tidur?"


"Suamiku belum tidur, jadi aku juga tidak bisa tidur" jawabnya dengan kekehan pelan yang membuatnya terlihat cantik meski di bawah sinar lampu remang-remang.


Mendengar jawaban Leona, Cici hanya tersenyum kikuk, bingung respon apa yang akan ia berikan pada wanita cantik dan murah hati di depannya ini.


"Aku belum mengantuk ci. Jadi ku putuskan untuk menemani kamu sejenak" jelas Leona seadanya.


"Kakak tidak perlu repot-repot menemani aku. Sebaiknya kakak istirahat besok pagi bukannya kalian sudah harus kembali ke Jakarta. Kakak Nara juga sudah terlelap bukan?"


"Seharusnya kalimat itu yang aku berikan padamu. Bukannya kamu juga harus sekolah?"


"Matamu saja sudah memerah menahan kantuk" sambung Leona memperhatikan Cici.

__ADS_1


"Aku belum mengantuk kok kak!"


"Benarkah?" Cici menganggukkan kepalanya seraya melebarkan selimut yang tadi di berikan Leona.


Hening...


Dua manusia cantik beda generasi, dengan ciri khas masing-masing itu berkecamuk dengan pikirannya sendiri.


"Kak.."


"Ci.."


Mendengar ucapan mereka yang serempak membuat keduanya tertawa pelan, namun cukup menyita perhatian Ethan, Kai dan Nolan.


"Amore..., kenapa belum tidur" panggil Ethan sedikit berteriak 


"Aku belum mengantuk baby, jangan mengganggu kesenanganku dengan Cici!"


Tidak ada jawaban dari Leona, hanya anggukan kepala dengan tangan yang membentuk kata oke iya berikan pada Ethan.


"Dia sangat cerewet" ucap Leona


"Itu tandanya kak Ethan mengkhawatirkan kakak"


"Ia aku tau. Asal kau tau saja ci. Rasa yang Ethan miliki tidaklah cukup besar dibanding perasaan yang aku miliki untuknya. Entahlah semakin hari aku semakin terjerat pesona pria tampanku itu" ucap Leona memandang Ethan dengan pandangan penuh cinta.


"Siapapun pasti sudah dapat menyimpulkan perasaan cinta yang besar dari mata kalian berdua. Kak mata tidak pernah berbohong memancarkan sinarnya, dan aku pun melihat pancaran cinta kalian"


"Aku ingin bercerita banyak soal perjalanan cinta kami, tapi aku rasa itu tidak perlu. Perjalanannya sangat panjang dan melibatkan banyak orang"


"Haha semoga saja nanti kisah cintaku tidaklah rumit" sambung Cici disertai tawa kecil yang memperlihatkan lesung pipinya dengan mata yang ikut menyipit.

__ADS_1


"Hem semoga saja" kekeh Leona.


Jam terus berjalan dan kini sudah menunjukkan pukul 23.14 wib, Leona maupun Cici masih saja bercengkrama hangat di balik selimut yang cukup tebal.


"Jadi setelah lulus apa rencanamu nanti?"


"Aku ingin kuliah kak. Ya semoga saja aku lulus dengan nilai yang cukup baik agar bisa ikut kuliah jalur beasiswa" jawab Cici semangat dengan mata berbinar.


"Aku doakan semoga apa yang kamu inginkan terkabul. Bicara soal beasiswa kamu bisa bertanya dengan Nolan"


"Mas Nolan?"


"Hem, dia salah satu pendiri kampus swasta ternama di Jakarta. Kamu bisa meminta rekomendasi darinya. Atau mungkin kamu juga bisa bertanya soal beasiswa di luar negri, dia lulusan universitas hongkong dengan jalur beasiswa" cerita Leona sedaanya yang membuat Cici melongo tak habis pikir.


Toh jika Nolan sekaya itu, untuk apa ia mengajar di sekolah yang letaknya sangat pelosok? 


"Nolan adalah sosok pria berprinsip ya meski sedikit menyebalkan" celetuk Leona.


"Ah iya kak, Jika mas Nolan memiliki banyak uang lalu untuk apa ia mengajar di sini?" Tanya Cici hati-hati dengan nada yang terdengar begitu gugup.


"Ci, Nolan punya banyak usaha di Jakarta bahkan di luar Negri. Nolan bukan pria yang sibuk bersantai dan hura-hura. Menjadi pengajar tidak ada di dalam kamus Nolan, aku rasa aku tidak punya hak untuk menjawabnya lebih lanjut"


"Oh iya Ci, kau pernah pernah ke Jakarta?" Sambung Leona.


Jakarta? Ah jujur Cici ingin sekali mendatangi kota besar dengan gedung bertingkat itu. Mendengar nama Jakarta saja membuat banyak khayalan manis yang sudah memenuhi kepala Cici.


Tapi, jangankan Ke Jakarta ia ke Kota Bandung saja dapat dihitung jari.


"Bagaimana kalau kau ikut kami Ke Jakarta, maksudku bagaimana kalau kau berlibur ke Jakarta saat libur nanti?"


"Akan aku pikirkan lagi kak"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2