MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEDUA PULUH SATU


__ADS_3

Ali merenung duduk di bawah anak tangga.


Ia kembali teringat ketika diajak Pak Toha berkunjung ke rumahnya.


Rumah yang suram dan gelap. Tanpa cahaya penerangan seperti dirinya di rumah besar ini.


Aliran listrik memang terputus dari pusat kota.


Beberapa kali membuat laporan kepada aparat pemerintah yang lebih tinggi yakni kantor kecamatan dan perusahaan listrik milik negara yang ada di kota utama, tetap saja belum juga mendapatkan aliran listrik yang memadai.


Padahal dulu, sepuluh tahun yang lalu semuanya baik-baik saja.


Meskipun kampung baru yang merupakan kampung pemekaran, namun peradaban sudah masuk di sana. Listrik, tower yang dibangun pihak telekomunikasi seluler. Semua pernah berfungsi dengan baik.


Tapi kini kampung itu seperti kampung yang terisolir padahal jalan raya menuju ke sana baik-baik saja tanpa hambatan yang berarti.


Anehnya aliran listrik yang baru saja terpasang, di malam hari terputus tanpa sebab dan itu sudah beberapa kali hingga pihak PLN memutuskan untuk tidak lagi merespon pengaduan warga setempat yang meminta penerangan.


Benar-benar kampung kutukan.


Trreeererrt


Trreeererrt


Suara seperti aliran listrik yang kosleting.


Lampu kristal ruangan rumah berkedip-kedip menyala lalu mati lagi.


Ali bangkit dan setengah berlari menaiki anak tangga. Ia masuk ke dalam kamarnya dengan nafas terengah-engah.


Benar saja.


Lampu kristal kamarnya juga berkelap-kelip seperti layaknya lampu disko.


Tringgg


Tringgg


Tringgg


Ada kilatan cahaya dari balik pintu lemari.


Cermin ajaib!


Ali bergegas membuka pintu lemari dan...


Cermin ajaibnya ada di balik pintu memantulkan kembali wajah Ali yang kian bersinar.


Ali seperti gadis remaja yang suka mematut diri. Ia menyentuh raut wajahnya yang oval dengan hidung mancung dan sorot mata tajam serta alis yang tebal. Rambutnya juga hitam bergelombang. Agak gondrong namun justru membuat tampilannya semakin sempurna.


Ali mengagumi dirinya yang ada di cermin.


Tubuhnya, tinggi dan tegap padat berisi. Terlihat keren sekali.


Sangat berbeda dengan dirinya yang dahulu yang selalu Ia rutuk setiap kali bercermin.


"Inikah Aku sekarang, ya Allah?" gumamnya pada diri sendiri.


Hingga tiba-tiba,


Syuuunggg


Syuuunggg


Seperti ada benda bergerak memutar dengan gaya sentripetal mirip wahana komedi putar yang ada di pasar malam.


Dan,


Wuuuss

__ADS_1


Wuuuss


Tubuh Ali bagaikan tersedot masuk ke dalam lorong labirin waktu yang membuat kepalanya pusing hingga harus pejamkan mata.


Dadanya sesak sesaat.


Namun kemudian,


Ia merasakan kalau gerakan itu telah berhenti dan membuka kelopak matanya pelan.


Dimanakah Aku sekarang? gumam hati kecilnya was-was.


Diedarkannya pandangan. Seperti ruangan kamar yang pernah ia lihat, tapi Ali lupa dimana tepatnya.


Terdengar sayup-sayup suara orang mengobrol dari balik pintu.


Ali tak berani membuka pintu. Ia hanya bisa mengintip dari celah anak kunci yang menampilkan siluet tiga orang yang sedang berinteraksi dengan serius.


"Firman? Ibu Bapaknya?"


Ali kembali menyapu ruangan kamar dengan pandangannya.


"Hm. Aku ingat. Ini kamarnya Firman!" serunya sendiri.


Ya. Ini adalah kamarnya Firman. Dulu gue pernah masuk sekali dan setelah itu, ga pernah Firman izinin gue buat datang-datang lagi ke rumahnya!


Ali kembali mengintip dari balik celah lubang anak kunci.


"Gimana mungkin, kalian bisa menikah tanpa kuketahui? Hahh?"


Plak. Plak!!!


Kaget sekali Ali melihat seseorang sedang menampar pipi Ibu dan Bapaknya.


"Jangan pukul kedua orang tuaku!!!" teriak Firman membuat Ali tersentak.


"Aku tidak peduli! Siapapun orangnya, berani memaki Ibu Bapak seenaknya, Aku akan jadi orang nomor satu yang menentangnya!"


Firman terlihat kacau karena emosi yang meledak-ledak.


Ali bungkam mendengar ocehan Firman.


Ternyata, ternyata Firman memiliki permasalahan keluarga yang cukup pelik!


Ali baru tahu, kalau Ibu Firman adalah istri kedua Bapaknya.


Kehidupan mereka tergolong biasa saja. Sama seperti dirinya. Firman bahkan punya tiga orang adik, yang Ali pikir dahulu adalah kehidupan yang sempurna.


Hidup mereka ternyata harus menunggu sisa dari istri pertama Pak Anwar, Bapaknya Firman.


"Dengar ya kalian semua! Aku, akan mengutuk kehidupan rumah tangga kalian! Tidak akan bahagia selamanya karena kau telah merebut Suamiku dan kau, berani menyelingkuhiku dengan perempuan model hina seperti ini? Pulang ke rumah sekarang juga! Kita urus perceraian kita sekarang juga!!!" pekik perempuan yang berdandan super rapi dengan perhiasan emas menempel di sekujur tubuhnya. Mirip toko mas berjalan.


Firman menangis histeris.


Ia marah-marah pada kedua orang tuanya yang telah berbuat nista dengan menghina diri sendiri akibat perbuatannya.


Ali bingung.


Hendak keluar kamar tapi takut justru jadi mengganggu situasi Keluarga Firman yang sedang panas.


Duhh! Gue mesti gimana ya?


Ali melihat ke arah meja belajar di kamar Firman.


Buku-buku berserakan. Ternyata mereka saat ini tengah belajar bersama mengerjakan tugas kelompok.


Ali kembali beranjak dari belakang pintu. Ia pikir, tugasnya saat ini adalah mengisi seluruh tugas sekolah karena itu lebih penting daripada ikut campur ke dalam keadaan rumah tangga Ibu Bapaknya Firman yang sedang genting.


"Ibu! Kenapa Ibu jadi perempuan perebut laki orang? Kenapa? Bapak, buat apa Bapak menikahi Ibu sedangkan Bapak punya istri? Bapak menipu Ibu? Sampai sejauh ini? Sampai kalian punya empat orang anak? Kalian ini sudah tidak waras!!!" maki Firman dengan jelas Ali dengar.

__ADS_1


Sungguh Ali faham, jika Firman seperti orang yang menelan matahari.


Kabar berita ini tentu saja membuat shock jiwanya.


Ali mulai menyadari kalau Firman lebih sering main di rumah pohonnya. Dari pagi bahkan sampai pagi lagi kalau sedang liburan sekolah.


SD mereka satu sekolah. Tapi SMP dan SMA, mereka masuk sekolah yang berbeda. Namun Firman masih setiap hari mendatangi rumah pohon. Mengerjakan PR, makan siang, bahkan jajan pun, Firman lebih suka berbagi dengan Ali.


Pernah suatu ketika Ali bertanya, kenapa Firman lebih betah di rumah kontrakannya yang kecil dan kadang bau sampah daripada berleha-leha di rumah sendiri bersama ketiga adik-adiknya. Firman berdalih pusing kepala tidak bisa konsentrasi mengerjakan apapun jika di rumah.


Ternyata..., ini permasalahannya.


Ali menyesal. Teramat menyesal.


Sebagai sahabat yang seringkali mendapatkan kebaikan dari Firman dirinya justru tidak peka. Tidak pernah sedikitpun peduli kepada orang-orang di sekelilingnya.


Ali yang dulu justru selalu merasa dirinya adalah orang yang paling sengsara.


Jauh berbeda dengan Firman apalagi Laila.


Firman bahkan sering mentraktirnya disaat Ibu Bapaknya telah tiada. Ali tidak peduli, uang darimana dan apakah Firman punya masalah yang bisa Ia bantu pecahkan, Ali baru sadari kini.


Dalam pertemanan, seharusnya ada tindakan take and give. Saling menerima dan saling memberi.


Firman terlalu baik padanya. Dan Ali justru berfikir Firman baik padanya karena ada Laila yang juga baik padanya.


Ali tidak pernah berfikir sejauh itu.


Tidak punya kepedulian kepada sahabat-sahabatnya yang selama ini begitu baik padanya.


Tak heran jika akhirnya mereka pergi satu persatu, tinggalkan Ali dengan penderitaan yang tak henti. Karena mungkin mereka sudah capek dan lelah menjadi Paman Berkaki Panjang.


Krieeet...


Ali pura-pura tidur pulas ketika Firman masuk kamar.


"Li, Li! Li!! Bangun, Li!"


"Hahh? Apaan? Dimana ini?" Ali pura-pura terbangun dengan wajah celingukan sambil mengusap air liurnya.


"Hehehe, dasar semprul! Malah tidur! Yuk ah, kerjain PR nya di rumah Lo aja!?"


Ali menggaruk-garuk kepalanya.


"Kenapa emangnya?" tanyanya pura-pura dungu.


"Lo ga denger suara tangisan adek-adek gue? Berisik! Dahlah, gue bilang juga apa. Mendingan kerjain PR di tempat Lo aja! Yuk!?"


"Ya udah. Serah Lo deh!"


Ali menatap wajah Firman yang masih polos dengan seragam putih merah yang masih melekat di badan.


"Let's go!"


Firman membantu Ali merapikan buku-buku mereka yang berserakan di atas meja belajarnya.


"Padahal gue lagi enak nulis di meja belajar sampai kebawa mimpi! Ish, di rumah gue mana ada meja belajar. Yang ada kita cuma lesehan di atas lantai!" gerutu Ali membuat Firman tergelak. Beda sekali wajahnya dengan Firman yang tadi terlihat marah-marah pada Ibu Bapaknya.


Ali tersenyum lega.


Hati kecilnya berjanji, akan berusaha menjadi sahabat yang baik yang bisa menghibur Firman di kala sedih.


Sama seperti Firman yang selalu ada dan setia menemaninya. Meskipun dulu Ali justru selalu berfikir risih dan ingin pergi jauh agar Firman tidak menempelnya terus setiap hari.


Persahabatan itu ternyata tidak se-simple itu. Mengaku sahabat tapi justru berlaku seperti seorang benalu yang hanya mengambil keuntungan pribadi dari sebuah persahabatan yang tulus murni.


Ali mengakui dirinya telah salah selama ini.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2