MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEDUA PULUH TIGA


__ADS_3

Minggu pagi seperti yang dijanjikan, Ali ikut Firman sekeluarga liburan ke wahana Dunia Fantasi dengan mobil yang dipinjam Bapaknya Firman dari pekerjaannya sebagai seorang supir pribadi.


Ali sangat gugup dan degdegan khawatir kalau kejadian tujuh tahun yang lalu akan kembali terulang. Yakni kematian adik bungsunya Firman yang bernama Rudi, umur dua tahunan kala itu.


Dulu Rudi kabarnya jatuh dari wahana kincir angin raksasa dari ketinggian puluhan meter. Dan keluarga Firman menutupi rapat cerita kematian putra bungsu mereka termasuk Firman.


Ali sebenarnya mulai melihat gejala yang tidak beres dari tingkah Firman.


Firman seringkali marah-marah pada Ibu Bapaknya membuat Ali jadi jengah.


"Gendong aja sendiri! Itu kan anak kalian!" umpat Firman ketika Ibunya meminta bantuan Firman untuk menggendong sebentar tubuh Rudi yang ringan karena ingin mengambil botol susunya di tas yang ditaruh di bagasi belakang.


Bapaknya Firman yang mengemudi. Sedangkan dua adiknya Teguh dan Melati masih kecil, masih berumur tujuh tahun dan lima tahun.


Ali yang mulai gugup akhirnya mengambil alih memangku tubuh Rudi yang menangis rewel minta susu.


"Jangan galak begitu, Man sama ibumu! Kualat Lo nanti!" ujar Ali mencoba mengingatkan Firman.


"Udah. Jangan sok-sokan jadi ustadz, ceramahin gue!" hardik Firman kesal pada Ali.


Begitulah Firman. Ia sepertinya jadi benci kedua orang tuanya yang menurutnya berkelakuan menyebalkan.


Firman memang tidak salah. Anak sekecil itu dipaksa tahu keadaan keluarganya yang tidak pada tempatnya.


Namun Firman juga tidak boleh seenaknya menghakimi Ibu Bapaknya tanpa tahu asal-usul cerita awal sebenarnya sampai mereka menikah dan memiliki empat anak sedangkan Bapaknya Firman telah memiliki istri lain.


Ali kesulitan membuat Firman menyadari kekeliruannya.


Seburuk-buruknya orangtua, seorang anak tidak boleh menghardik apalagi sampai menghakimi kesalahan yang mereka perbuat.


Bukankah ada pepatah, seburuk-buruk papan jati, tidak boleh menjelekkan saudara sendiri. Apalagi ini adalah orang tua yang melahirkan kita. Dosa besar hukumnya durhaka pada kedua orang tua.


Ali ingin membukakan mata hati Firman yang mulai terlihat menyebalkan karena sering terlihat emosi menjawab pertanyaan ibu serta bapaknya yang justru baik sekali kepadanya.


Mobil berhenti di parkiran wahana hiburan.


Firman keluar cepat sembari menarik tangan Ali agar segera menuju loket.


"Tunggu orang tuamu, Man! Mereka bawa banyak barang. Bantu yok?"


"Halah, ga usah! Biarin aja, toh mereka orang dewasa bisa koq bawa semuanya!"


"Tapi Ibumu kerepotan bawa adik-adikmu juga!"


"Perasaan mereka itu adik gue, kenapa jadi Lo yang repot sih?" celetuk Firman mulai geram pada Ali.


"Man, mereka juga adik-adik gue! Gue sayang koq sama mereka karena mereka lucu!"


"Bagi Lo mereka lucu. Bagi gue, mereka benalu!"


"Astaghfirullahal'adziiim! Firman! Ga boleh ngomong begitu tentang adik-adik Lo! Lo harusnya bersyukur, punya mereka. Gue, ga punya saudara, cuma sebatang kara. Justru gue kepengen punya adik tapi kata Ibu, Allah belum kasih jadi kita harus lapang dada nerima nasib."


"Ngemeng mulu Lo, kek tukang obat!" semprot Firman membuat Ali tertawa menyeringai.


Ali berlari kembali ke keluarga Firman. Menuntun tangan dua adiknya Firman, Teguh dan Melati.


Ia harus menjadi orang yang memiliki budi pekerti baik karena meskipun beli tiket uang sendiri, tetapi jika Bapak Ibunya Firman tidak bersedia mengajaknya serta, liburan ke dunia fantasi tidak akan terjadi.

__ADS_1


Meskipun perjalanan Ali saat ini membawa misi.


Yaitu misi menggagalkan kematian Rudi. Adik bungsunya Firman yang baru berusia dua tahun itu.


Ali tidak ingin menambah beban keluarga Firman yang kesulitan menghandle empat anak mereka.


Justru keikutsertaannya untuk mengurangi beban dan merubah nasib hidup seseorang yang semoga saja bisa Ia gagalkan.


Setidaknya Rudi tidak meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan, jatuh dari wahana permainan.


Saat ini usia Ali dan Firman baru sebelas tahun. Namun Ali yang mengisi raganya saat ini adalah Ali dewasa yang berusia sembilan belas tahun. Jadi pemikirannya jauh di atas pemikiran Firman yang layaknya anak-anak belasan yang moodian.


"Li! Sini ngapa!? Dih, Lo emangnya ikutan ke Dufan cuma buat jadi pengasuh adek-adek gue? Sini! Kita naik kora-kora yok?!"


Ali tersenyum.


Niatnya memang tidak murni untuk bermain saja. Tapi menjaga agar ketiga adik Firman tidak sampai kena musibah.


"Firman! Sini dulu, Nak! Ibu sama Bapak mau ke toilet dulu. Kalian jangan pergi terlalu jauh. Nanti kesasar!"


Firman tidak mengindahkan ucapan Ibunya. Dia justru berlaku seolah tak mendengar dan terus berjalan sambil cengengesan melihat kiri kanan dengan pandangan terpukau.


"Man! Tunggu!"


Firman menoleh ketika Ali memanggilnya.


"Ayo!" Ia menghentakkan kaki seraya mengayunkan tungkai tangannya menyuruh Ali agar berjalan cepat.


"Tunggu Bonyok Lo!"


"Ish, mereka udah pada tua! Ga perlu ditunggu!" jawab Firman membuat Ali geram.


"Man, kenapa sih sikap Lo koq gitu sama Ibu Bapak Lo? Ga boleh begitu, Man! Lo suka sekali bentak-bentak mereka. Mereka itu orang tua yang melahirkanmu. Dosa besar lho hukumnya menghardik orang tua!"


"Ck. Apaan sih? Sejak kapan Lo jadi penasehat? Hah? Udah deh, ini urusan gue sama Ibu Bapak gue! Bukan urusan Lo! Dan gue juga ngelakuin ini karena ada sebabnya. Mereka pantas koq buat dapetin amarah gue. Setidaknya biar mereka sadar kalau mereka udah jahatin anak-anaknya juga!"


Ali menarik tangan Firman ketika sahabatnya itu hendak lanjut jalan.


"Tunggu!"


"Ali? Kenapa lagi?"


"Tuntun Melati! Gue tuntun Teguh! Ingat, nasehat Ibu Bapak barusan! Jangan sampai kesasar!"


Firman melotot memandangi wajah Ali.


Bibirnya monyong sampai naik beberapa sentimeter.


"Lo pengen banget punya adik ya?" tanyanya ketus.


"Iya. Kenapa?"


"Ambil semua adek gue. Urusin sama Ibu Bapak Lo ya?"


"Ehh? Koq!?..."


Firman mendekati Ali dan berbisik, "Gue mau bunuh Ibu Bapak gue!"

__ADS_1


"Astaghfirullahal'adziiim!!! Firman?!?"


"Hahaha... becanda, Ali! Gitu aja Lo anggap serius! Hahaha... Dasar deh! Hahaha..."


Firman tertawa terpingkal-pingkal.


Ali justru merasa ucapan Firman tidak pantas untuk jadi bahan candaan. Apalagi ada bahasa kasar dan terdengar menyeramkan yaitu kata kerja 'bunuh-membunuh'.


"Hahaha..."


Ali tidak bergeming.


Netranya menatap tajam wajah sang sahabat yang membuat Ali kecewa.


"Firman! Candaan apaan itu? Ga bagus banget candanya!" cetus Ali dengan suara datar.


"Hahaha..., dia marah!"


"Jelas gue marah! Karena gue pernah mengalami hidup tanpa kedua orang tua! Hidup gue timpang! Hidup gue hampa dan kosong! Dan gue bersyukur punya sahabat kayak Lo yang selalu ada di setiap saat menemani kesendirian gue, Firman!"


Firman bengong. Ia bingung dengan ucapan Ali yang bergetar.


Bahkan tatapan Ali terlihat sangat menakutkan.


"Ali?"


"Meskipun Lo kecewa sama Ibu Bapak Lo, ga boleh berfikir sejauh itu apalagi punya pikiran mau bunuh, upfff!"


Firman mendekap mulut Ali.


"Ish, Lo mah ga asik orangnya! Itu cuma candaan doang, Ali!"


Firman membuka tekapan tangannya dari mulut Ali sambil mengusap-usap ke pakaiannya karena ada air liur Ali yang menempel.


Melati adik Firman tertawa senang.


Sepertinya perdebatan sang kakak menjadi hiburan tersendiri baginya.


"Jangan melakukan hal-hal yang tidak baik karena emosi sesaat, Man! Kalo Lo kecewa pada orangtua Lo, tanya dengan jelas... kenapa dan apa alasannya! Bukan lantas ikut menghakimi dan jadi orang jahat apalagi durhaka pada orang tua!"


Firman menatap Ali tak berkedip.


"Apalagi yang mesti gue tanyain ketika semuanya udah sangat jelas menyakiti hati!" jawab Firman dengan mata berkaca-kaca.


"Firman!"


"Lo ga tau gimana rasanya jadi gue! Lo tinggal dan hidup dengan orang tua yang sempurna jadi panutan. Sementara gue,..."


"Setiap orang punya kekurangan dan kelemahannya. Apa Lo tau betapa malunya gue, punya bapak berhenti kerja dan akhirnya menjadi pemulung demi menghidupi anak istri? Lo gak tau kan gimana perasaan gue yang minder banget bahkan sampe nanti SMP, SMA, bokap gue cuma seorang pemulung dan pemilah sampah daur ulang! Lo mau tukeran nasib sama gue? Apa Lo kuat jadi gue? Mau? Diusia tujuh belas tahun puncaknya Ibu Bapak gue meninggal dunia karena penyakit virus Corona sialan. Lo mau tukeran hidup sama gue?"


Firman bergidik seraya memukul bahu Ali.


"Ali? Ali, Lo jangan bikin takut gue! Eling Li! Istighfar!"


"Astaghfirullahal'adziiim... gue eling dan gue juga mau Elo eling juga! Jangan bikin orang tua Lo sedih berkepanjangan karena sikap dingin Lo sama mereka! Jangan sampai Lo menyesal jika ada anggota keluarga yang pergi karena suatu keteledoran!"


Netra Firman membulat.

__ADS_1


Seketika Ia menuntun tangan Melati dan diam termenung memikirkan semua ucapan Ali.


BERSAMBUNG


__ADS_2