MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KETIGA PULUH DUA


__ADS_3

Mereka saling berpandangan.


"Ngapain Lo nolongin gue?"


Ali terkesiap.


Anton menyerangnya dengan kalimat kasar.


Tapi kali ini Ali bukannya marah dan kecewa karena Anton bukannya berterima kasih malah menghardik.


Kini Ali mengerti sekali, mengapa Anton sering membullynya dulu di sekolah.


Grep.


"Apaan sih Lo? Peluk-peluk gue? Ih, najis banget badan bau sampah!!"


Anton semakin marah dan mendorong tubuh Ali.


Tapi Ali tak bergeming.


Ia ingin memberikan Anton kekuatan tanpa harus berkata-kata.


Dan ternyata,...


Tangis Anton pecah sembari mengucapkan kata-kata kasar yang kian meracau.


"Tanpa bantuan Lo, gue juga bisa bertahan. Toh selama ini gue selalu bertahan. Bertahan dan berusaha menahan harga diri gue yang diinjak-injak orangtua juga kakak-kakak gue. Hik hik hiks... huaaa hiks! Sana Lo! Makin puas kan Lo sekarang lihat kondisi gue yang mengenaskan? Hahh? Seneng kan Lo? Seneng Lo liat kelemahan gue yang jadi bulan-bulanan Keluarga gue?!?"


Ali terus merangsek memeluk Anton yang berkali-kali menolak dan memukuli punggungnya.


Hingga akhirnya, Ia lemah juga dan menangis di bahu Ali.


Tangisan pelan yang menyayat hati.


Anton bahkan sampai jatuh terduduk dan Ali mengikutinya dengan mengimbangi hingga keduanya masih menangis pelan di atas rerumputan hijau.


Berkali-kali Anton menyusut air matanya.


Ia berusaha menguatkan dirinya seperti selama ini.


Bertameng jadi orang paling kuat paling berkuasa kepada teman-teman yang dianggap lemah termasuk Ali yang dulu tak pernah melawan Anton saat dibully.


Ali juga sesekali mengusap air mata dan cairan encer yang turut mengalir dari lubang hidungnya.


Tak ada kata-kata, hanya isak tangis kecil yang lama sekali.


Hingga akhirnya keduanya kembali saling bertatapan. Karena tersadar sertifikat milik Anton yang bertuliskan kalau Anton Darmawan adalah juara satu lomba melukis pelajar SMP tingkat se-kotamadya jadi basah dan ternoda air mata Anton sendiri.


"Tuh, lihat! Alam pun enggan mengakui kalau Aku ini juara satu lomba melukis! Cih!" sungutnya seperti kesal pada diri sendiri.


Ali tersenyum lebar.


"Tidak apa. Yang penting Aku mengakui kehebatan mu soal lukisan. Dan Aku yakin, Tuhan Maha Tahu itu. Hehehe..."


"Dasar! Kau ini bikin Aku semakin hilang harga diri! Kalau kau tahu kelemahanku, lantas Aku tidak bisa lagi membullymu, hei anak yang sok ikut campur urusan orang!"


"Tetaplah bully Aku. Aku akan terima itu."


"Bodoh! Dasar psikopat gila! Bisa-bisanya kau diam saja ketika Aku terus-terusan membuatmu malu! Kenapa tidak melawan! Kenapa justru seperti memberikan badan untuk terus jadi bullyan!?"

__ADS_1


"Itu karena Aku sadar diri. Itu karena Aku berkaca seperti yang sering kamu perintahkan. Aku, anak tukang sampah. Otomatis memang badanku bau sampah. Karena bapakku memberiku makan dari hasil jual sampah. Itu benar bukan?"


"Hik hiks hiks huaaa..."


Anton kembali menangis.


Kali ini, Ia-lah yang justru memeluk Ali duluan.


Tangisnya kembali pecah di bahu Ali. Dengan tangan berkeringat, Anton memegang bahu orang yang dulu begitu Ia benci.


"Kau tau? Aku benci orang-orang yang lemah! Aku benci, sangat benci! Karena mengingatkan diriku sendiri ketika Aku sedang berada di rumah. Hiks hiks..." katanya seraya melepaskan pelukannya.


Anton menyingsringkan ingusnya yang mengental karena banyak menangis.


Sriiinggg...


"Lawan kalau ada yang membullymu! Lawan! Jangan diam saja, apalagi jika tingkahnya sudah sangat keterlaluan!!!" cetus Anton dengan emosi yang meledak-ledak menatap Ali.


"Jangan seperti Aku! Jangan lemah karena Aku tak kuasa melawan orang tuaku sendiri dan saudara-saudaraku sendiri!"


Anton menunduk. Masih ada tetesan air mata yang jatuh di sudut mata kirinya.


"Ayo, kita beli kanvas dan cat minyak! Aku yakin, kamu punya uang banyak buat traktir Aku beli alat-alat melukis yang harganya mahal itu!" tutur Ali seraya menarik tangan Anton.


"Bangk+e ni bocah songong! Berasa jadi pahlawan sekarang berani malak gue!" hardik Anton sembari berdiri dan bersungut-sungut kesal.


Ali tertawa lepas.


Kini Ia seperti sedang bersama Firman. Sahabatnya yang selalu tahu sisi baik dan buruknya.


Anton adalah anak yang kesepian. Sangat kesepian dan menahan kesedihan di relung hati yang terdalam.


Ali kini mengerti mengapa sampai hati Anton dulu begitu senang melakukan perundungan kepadanya disaat sekolah dasar.


Kini toko buku Gramedia di pasar baru jadi tempat hangout mereka berdua melupakan kesedihan.


Anton membelikan banyak sekali kanvas dan cat minyak yang harganya lumayan fantastis bagi Ali.


"Gila! Jangan, Ton! Itu kebagusan! Harganya ga pantes buat Aku yang masih pelukis pemula!"


"Banyak bacot Lo ah! Nolak-nolak terus, sok ganteng Lo! Tar kalo Lo nolak lagi, muka Lo yang gue jadiin kanvas buat kita ngelukis bareng!"


"Hahaha... suwe banget gue!"


Ali senang, hatinya menghangat.


Anton benar-benar berubah. Sangat berubah bahkan sampai mau menginjak gubuk rumah kontrakannya yang bau sampah yang sering kali dia hina.


"Wuaaa, kereen! Ternyata Lo punya rumah pohon! Anjirrr! Lo makin bikin gue iri, Bangs+at!"


Begitulah Anton. Meskipun kata-katanya toxic kepada Ali, tapi kini Ali telah mengetahui kalau Anton aslinya baik.


Dan...


Sriiinggg


Sriiinggg


Srrriiiiiiinggg

__ADS_1


Nguunggg


Seperti sekumpulan lingkaran labirin yang berputar terus. Menarik kembali tubuh Ali dan...


"Dimana ini?"


Ali tengah berdiri diantara rak-rak kayu jati besar berjejer dengan ratusan bahkan mungkin ribuan buku tertata rapi di dalamnya.


Bau-bau kertas yang sedikit membuat kepala Ali pusing hingga Ia memijat pelipisnya sendiri.


"Per_pus_takaan?!?" gumamnya pelan setelah tersadar.


Kret kret


Ali berjinjit.


Ternyata lantai papannya berdecit kena pijakan kakinya.


"Perpustakaan yang keren!!!" serunya setelah benar-benar tersadar dan melihat jendela kaca yang berembun.


Ali berjalan pelan sekali menuju jendela kaca itu.


Mengusap kaca jendela yang agak kusam karena sepertinya sudah sangat lama tak dibersihkan.


"Woa! Itu kan...?! Itu masjid seberang rumah!?" serunya baru menyadari kalau dia sedang berada di loteng lantai rumah warisan Eyangnya.


Teringat perkataan Simbah Marsinah, kalau di lantai atas ada ruang perpustakaan Mbah Toro.


"*Apakah kamu sudah memasuki kamar baca Mbah-mu di lantai atas paling pojok?"


"Kamar baca Embah Toro? Apakah Mbah Toro punya kamar baca?" Ali balik bertanya.


"Cobalah masuk ke dalamnya. Kata Mbah, buku adalah jendela dunia! Kamu pasti akan temukan banyak buku cerita koleksi Mbah Toro*?"


Ternyata inilah perpustakaan itu! Kereen!!!


Ali berdecak kagum berkali-kali.


Matanya melalap semua buku yang berjejer rapi di setiap sekat-sekatnya.


Ia sangat kagum dengan Mbah-nya yang ternyata adalah seorang pustakawan sejati.


Mulai dari buku komik, bahkan buku-buku filsafat kehidupan dari penulis-penulis terkenal sepertinya ada di sana.


Ali lebih tertarik dengan jejeran komik manga dan novel-novel tua.


"Candy-Candy edisi pertama? City Hunter detektif kocak tahun? Ck ck ck... woaaa, ternyata dari jaman dulu pun udah ada komik sekeren ini! Simbah Toro beneran gokil!!!"


Gusrak!!!


Sontak Ali terkesiap.


Seperti suara orang atau benda besar bergerak jatuh.


"Apa itu?"


"Ma_maaf..."


"Ke_ti? Keti??? Kamu tahu Aku di sini?"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2