
"Keluarga pasien saudara Firman?"
Ali dan Laila berdiri berbarengan.
"Bagaimana kondisi teman Saya, Dok?"
"Masuklah! Kondisi pasien... mengkhawatirkan! Ada tulang rusuk yang patah dan... sebaiknya cepat hubungi anggota keluarganya. Kondisi pasien dalam keadaan kritis!"
Ali dan Laila saling bertatapan kaget.
Keduanya masuk ke dalam ruangan pemeriksaan.
Laila mengambil ponselnya dari dalam tas dan menelpon Ibunya Firman.
Ternyata hubungan mereka sudah sejauh ini! Sampai Laila punya nomor hape Ibunya si Firman. Aku senang...,
Ali terkesiap.
Kondisi Firman semakin mengkhawatirkan.
Ali tersentak, tangan dingin Laila yang basah menggenggam erat jemarinya.
Laila terlihat shock dan ketakutan. Ia baru saja menutup sambungan teleponnya dengan Ibunya Firman.
Firman... tersengal-sengal.
Nafasnya terlihat tidak beraturan. Dan Ali merasakan firasat yang tidak enak.
"Firman! Bertahanlah!!!" pekik Ali panik.
"Asyhaduallaa ilaaha illallah wa asyhadu annaa muhammadarrosulullaah..."
"Asyhaduallaa ilaaha illallah wa asyhadu annaa Muhammadarrosulullaah..."
Laila turut mengumandangkan kalimat syahadat yang Ali gumamkan di telinga kanan Firman.
"Firman! Hik hiks hiks... Firman!"
Ali mulai resah. Ketakutannya kian menjadi seiring melemahnya denyut nadi Firman dan...
__ADS_1
"Maaf..., kondisi pasien, tidak bisa kami selamatkan. Tulang rusuknya yang patah menembus jantung dan paru-paru pasien. Limpanya juga pecah."
Kalimat yang sangat menyakitkan hati meluncur dari bibir dokter yang memeriksa kondisi Firman.
"Firman...,"
"Firman kenapa, Li? Firman kenapa, Ali?"
Laila histeris. Ia menangis seraya mengguncang-guncangkan bahu Ali dengan kencang. Ali terdiam. Membisu dengan lelehan air mata di pipi.
"Firmaaannnn!!!" jeritnya setelah tersadar dengan kondisi sang pacar.
Laila memeluk tubuh Firman yang kini kosong tanpa nyawa. Hanya raganya yang terbujur lemah dan perlahan dingin ditinggalkan rohnya.
Ali terisak di pojokan.
Menangis sesegukan karena jalan cerita ini kembali berbeda dengan yang pernah dialaminya.
Tak lama kemudian Ibu Bapak Firman datang ke klinik. Menangis sama histerisnya seperti Laila.
Sungguh kejadian naas yang tak terduga.
Entah bagaimana akhir cerita ini dan kelanjutannya. Ali hanya bisa berpasrah diri pada ketetapan yang Tuhan beri.
Firman, memang sudah ditakdirkan untuk pergi lebih dahulu dari dirinya juga Laila.
Firman meninggal dunia, diusianya yang kedua puluh tahun.
Ali lemas. Lututnya gemetar, jantungnya berdebar.
Takdir Firman memang sudah tertulis di lauful Mahfudz.
Ali hanya bisa terdiam dan pasrah mengikuti Ketentuan Tuhan.
Pemakaman Firman dihadiri banyak orang, termasuk teman-teman sekolah dasar mereka dan juga keluarga besar Laila.
Firman pergi diiringi tangisan kesedihan.
Kabar kematian Firman yang menjadi korban penganiayaan Anton cs mulai ramai dibicarakan orang.
__ADS_1
Pihak keluarga Firman juga tak tinggal diam. Laporan ke pihak yang berwajib sudah dilayangkan setelah prosesi pemakaman.
Anton yang sedang dalam pelarian, kini jadi daftar pencarian orang.
Seperti kisah yang pernah terjadi, namun saat itu Firman meninggal dunia karena kecelakaan balapan liar yang digagas Anton hingga rivalnya itu juga akhirnya masuk bui.
Keluarga Laila memundurkan jadwal kepindahan mereka karena Laila masih harus bolak-balik ke kantor kepolisian sebagai saksi kunci.
Lima hari kemudian, Anton berhasil ditangkap.
Kini Ali berdiri berhadapan dengan Anton yang wajahnya bengkak. Tulang hidungnya juga patah karena bogeman Ali ketika membantu Firman yang dikeroyok Anton dan kroco-kroconya.
"Hhh...! Satu nyawa melayang karena ulah kesombonganmu, Anton Darmawan! Apa kamu puas? Hatimu senang? Rasa sakitmu terobati? Apa orangtuamu bakalan bersorak kegirangan karena kamu masuk sel tahanan pada akhirnya? Hhh... Miris! Ketika keluargamu membenci kekuranganmu, tapi kau justru makin membuat mereka malu. Sangat disayangkan akhirnya kau salah memilih langkah, Nton!"
Puk puk puk.
Ali menepuk pundak Anton.
"Semoga masa depanmu baik nantinya! Itu doa tulusku padamu!"
Andaikan saja kau berteman denganku, dan kita tidak hidup dalam kemunafikan karena rasa iri berlebihan, mungkin jalan cerita hidupmu akan berbeda.
Ali menghela nafas. Meninggalkan Anton yang menangis sesegukan.
Kini hanya ada penyesalan yang teramat dalam di hatinya terdalam.
Anton menyesal terlalu benci Ali. Ia seperti berkaca setiap kali melihat Ali yang pasif ketika dibully.
Nasi sudah berubah menjadi bubur.
Tidak bisa ditanak lagi agar tetap menjadi nasi.
Setiap langkah yang diambil, memang mengandung resiko. Dan inilah resikonya jika Ia selalu bertindak tanpa berfikir.
Selain menghilangkan nyawa teman sekolah dasarnya sendiri, Anton juga menghilangkan kesempatan dirinya berubah ke arah yang lebih baik karena terjerumus nafsu masa muda yang penuh emosi sesaat saja.
Satu pelajaran hidup yang Ali ambil, apapun langkah yang dipilih, selalu ada konsekuensinya. Ada hukum sebab akibat, hukum tabur tuai, hukum doa jalur langit. Semua, tergantung pilihan masing-masing.
BERSAMBUNG
__ADS_1