MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEDUA PULUH ENAM


__ADS_3

"Apa yang telah terjadi? Apa, apa kita sedang berada di tempat dan waktu yang berbeda, Hitam?"


Ali menguatkan pendengarannya.


Lamat-lamat terdengar suara bocah-bocah tertawa terbahak-bahak di sekitar area.


"Suara anak-anak!"


Ali mencari lokasi yang sayup-sayup suara tawa canda ria dan hentakan kaki seperti sedang menyepak bola.


"Dari arah sini!" tunjuknya setelah yakin kalau suara-suara itu terdengar jelas dari balik rerumputan tinggi yang menjadi penghalang.


Srek srek


Krosak krosak...


Sebuah lapangan sepak bola!


Netra Ali membulat.


Ada sekitar dua puluh dua orang anak usia belasan tahun sedang bermain sepak bola di sana. Bahkan dengan formasi lengkap berikut atribut seragam kesebelasan masing-masing.


Hanya bedanya, minus penonton.


"Meooong..."


Si Hitam melompat turun dari dekapan Ali. Lalu berlari ke arah lapangan yang cukup luas.


"Bek kanan oi bek kanan, Adi! Ayunkan kakimu dengan benar! Jangan menyepak kaki lawan! Ini bukan tanding karate! Ck. Bagaimana bisa Indonesia masuk sepuluh besar piala dunia kalau pemainnya masih suka arogan di tengah lapangan!?! Sekarang pun cuma dapat posisi di kursi urut nomor 160. Ish, kapan melesat naik jika kalian tidak mau berubah!?"


Ali termangu menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya di kampung yang sunyi ini.


Seorang lelaki tampan, mungkin seumuran dengannya atau lebih di atas Ali sedikit sedang berteriak-teriak memberikan pengarahan.


Anehnya, Si Hitam justru mendekat dan...


"Hai, Sayang! Aku sedang mencoba menjadi coach dulu nih!" ujarnya sambil membungkuk dan mengelus punggung Hitam yang terlihat akrab dengannya itu.


"Hitam..."


Lelaki itu menoleh pada Ali.


Ada raut wajah yang terperangah yang Ali tangkap dari auranya.


Si Hitam justru mengibaskan ekornya dan mengelilingi satu kaki lelaki itu seperti sedang memberikan kode pada Ali.


Tapi Ali justru tak faham maksudnya. Kecuali hanya menerka kalau Hitam adalah peliharaan si lelaki itu karena mereka ternyata akrab satu sama lain.


Kalo emang si Hitam peliharaan ni orang, kenapa kucing imut itu lebih sering terlihat di sekitar rumah Mbah Toro?! Hm... kayaknya sih bukan! Atau, atau karena mereka terpisah dari dimensi yang berbeda?!?


"Tunggu!... Perkenalkan! Namaku Ali Akbar!"


Pria itu menerima uluran tangan Ali tapi dengan wajah dingin tanpa suara.


"Nama Abang siapa?"


"Siapa kamu?" Dia justru balik bertanya. Bahkan pertanyaan yang Ali anggap ambigu dan aneh.


Sesaat Ali termangu.


Karakter Ali kini telah berubah. Jauh lebih berani daripada sebelumnya.


Lo jual, gue beli.

__ADS_1


"Kamu sendiri, siapa?" tanyanya tak kalah tegas.


Lelaki itu mendengus dengan bibir menyeringai.


"Aku? Aku siapa? Hahaha... Kasihan! Kau tak kenal Aku?"


"Tentu saja Aku tidak mengenalmu! Aku orang baru di sini. Tempat tinggalku di rumah besar yang berdinding tinggi itu!"


Spontan bola mata lelaki itu membesar.


"Disitu?" tanyanya mengulangi.


Kini Ali yang tersenyum smirk.


Mampus Lo! Kena mental kan Lo? Gue... pewaris rumah paling besar itu! Gumam hati Ali jumawa.


"Apa hubunganmu dengan almarhum Mbah Toro?" tanyanya lagi dengan menyelidik.


"Hei! Tunggu!!!... Kau menyelidikiku tapi Aku sendiri tidak tahu siapa kamu! Bisakah kau perkenalkan dirimu yang mungkin tersohor di kampung ini?!"


"Aku... cucunya Mbah Kandut! Penguasa kampung ini!"


Eng Ing Eng...


Dada Ali berdesir kencang.


Ia kini berhadapan dengan cucunya musuh bebuyutan Mbah-nya. Dan posisi mereka sama. Sama-sama cucu.


Keduanya saling pandang seolah akhirnya menemukan suatu jawaban.


"Apakah kau tahu, kita ada di dua dimensi yang berbeda? Kita sama-sama hidup di dunia. Tapi seolah ada perbatasan yang tak kasat mata diantara kita. Padahal kita sama-sama makhluk yang bernyawa!"


"Namaku Yadi! Kau,... Ali? Ali Akbar?"


Priiiit


Ali membunyikan peluitnya.


Ia membubarkan para bocah yang barusan dilatihnya.


"Kalian bermainlah sendiri! Aku ada keperluan!"


Suara anak-anak berceloteh ramai mirip pasar ayam.


"Ayo! Kita duduk di saung itu!"


Ali mengangguk.


Yadi berjalan memimpin sementara Ali mengikuti langkah cucu Mbah Kandut, kades terkenal beberapa belas tahun lalu hingga namanya didedikasikan untuk nama sebuah kampung.


Harusnya nama Mbah-ku yang jadi nama kampung ini. Secara Mbah-ku adalah anak lokal yang lahir, besar dan mengabdi di kampung ini!


Pikiran Ali mulai terkontaminasi. Teringat cerita demi cerita Pak Setan dan Kadus Toha, kalau pertempuran hebat antara Mbah Toro dan Mbah Kandut-lah yang menyebabkan kampung ini seperti terkena kutukan dari Yang Maha Kuasa.


"Astaghfirullah..." seketika Ali tersadar dan beristighfar. Membuat hujan turun tiba-tiba.


Ali menyadari dirinya telah begitu arogan. Padahal Ia sendiri tidak tahu pasti, apakah Mbah-nya yang bersalah atau Mbah Kandut.


Dia hanya mendengar cerita-cerita saja. Belum mengetahui kisah aslinya. Dan kemungkinan besar si Yadi pun akan membela Mbah-nya sebagai orang yang lebih benar ketimbang Mbah Toro Margens.


Entah siapa yang berilmu hitam, siapa yang berilmu putih. Siapa yang benar, siapa salah. Ali tidak berani menerka-nerka.


"Besok malam, adalah malam satu suro!"

__ADS_1


Deg deg deg


Deg deg deg


Mendengar ucapan Yadi yang mengingatkan kembali perkataan Pak Kadus Toha membuat Ali tersadar dan langsung degdegan.


"Malam satu Muharram. Malam tahun baru Islam!" tambah Ali.


Si Hitam tidak mengeong. Ia hanya duduk terpekur di antara kedua pria yang ternyata adalah cucu-cucu dari kedua jawara kampung yang saling bersiteru hingga kehidupan di kampung ini menjadi misteri yang tak terpecahkan oleh dunia nyata.


"Aku mengajakmu kerja sama!" ujar Yadi yang seolah telah mendapatkan pencerahan setelah mengetahui kalau Ali adalah cucu dari musuh bebuyutan eyangnya, almarhum Mbah Kandut.


"Kita akan membuka tabir rahasia misteri Illahi ini?! Begitu?"


"Yap. Kita coba."


Ali menelan ludah.


Jantungnya kian meningkat intensitas debarannya. Antara percaya diri dan takut kalau ekspektasi mereka terlalu tinggi.


"Tolong jelaskan dahulu kisah mereka di masa lalu!"


"Maaf, Aku lupa, kau orang baru. Pastinya kau kesulitan dengan keadaan yang penuh tanda tanya dan misterius ini!"


"Pastinya!"


Ali lega, Yadi bisa mengerti maksudnya.


"Ayo, kita ke rumah Mbah-ku!" ajak Ali.


"Tidak! Aku lebih nyaman kita berbincang di tempat yang netral! Tidak ada intimidasi dari manapun. Baik dari pihak Mbah Toro maupun dari Mbah Kandut."


Ali faham. Ucapan Yadi benar.


"Penduduk sudah terlalu lama hidup tersiksa. Bahkan terpisah dari keluarga mereka yang ada di portal paralel seperti dunia lain. Anehnya, kami adalah sama-sama manusia. Bukan demit yang memang memiliki alam dunia lelembut."


Ali menghela nafas.


"Tempat siapa kalau begitu?"


"Sebuah saung di sana!"


Yadi menunjukkan ke arah selatan.


"Apakah ada penghuninya?"


"Kosong. Kita bisa berbincang mendiskusikan semua ritual yang akan kulakukan. Tentunya dengan bantuan doamu!"


Ali tertegun.


"Ritual? Ritual apa? Apa... dengan mantra-mantra?"


"Nantilah, kuceritakan!"


Ali adalah pribadi yang baik.


Ia memiliki karakter yang mudah akrab dengan orang baru yang berinteraksi dengan baik dengannya. Dan kelebihannya itu juga sumber kekurangannya.


Ali menjadi tidak waspada.


Ia lupa, Yadi adalah cucu Mbah Kandut yang hidup di kampung ini. Lahir dan besar di sini. Otomatis Yadi jauh lebih tahu kisah cerita misteri yang terjadi antara kedua orang terpandang di kampung ini.


Padahal...,

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2