
Ali menoleh pada tangan mungil nan indah yang ada dalam genggamannya.
Keti?
Matanya membulat lebih besar ketika menatap ke bagian perut Keti yang membuncit.
Keti? Koq... kayak perempuan hamil? Dan... disini gadis imut itu cantik sekali! Bahkan memakai make-up seperti perempuan dewasa. Ehh? Pake kontak lensa juga? Warna hitam pekat? Bulu mata palsu? Alisnya diukir? Mak... itu pipinya kiri kanan juga kayak habis kena tabok. Merah pink ke orange-orange-an!?
Ali menatap Keti lebih dekat.
Ia semakin kaget ketika Anton Darmawan datang dengan Laila yang bergelayut mesra di lengannya. Bahkan Ali perhatikan, sesekali dada Laila menempel erat di tangan Anton.
Ehh???
"Dasar ya pengantin baru ini! Hehehe... bikin kita iri ya, Pup?" kata Keti semakin membuat Ali kian bingung.
Pengantin baru? Laila dengan Anton? Terus... Pup? Aku 'pup'? Apaan sih nih?!?
"Kalian yang bikin kita selalu menganan. Tahu-tahu langsungkan pernikahan. Setahun kemudian nongol lagi dengan calon Ali Akbar junior. Ngeselin parah kan!? Padahal kita yang berencana nikah sejak tiga tahun yang lalu. Ternyata, kita keduluan ya Yang?"
Ali menjilat bibir bawahnya.
Seperti mimpi, dirinya ternyata menikah dengan Keti dan Anton Darmawan berhubungan spesial dengan Laila Purnama hingga akhirnya menikah. Lalu Firman, dimana Firman sekarang? Dan, apakah ini adalah kisah Ali di masa depan?
"Betewe sekarang tahun berapa gaes?" tanya Ali pada semua.
"Tahun 2030. Kenapa, Li?"
"Tahun 2030? Beneran? Bukannya tahun 2023?"
"Yaelaah, masih aja suka amnesia ni bocah tua tengil!"
Keti dan Laila tertawa mendengar celotehan Anton meledek Ali.
"Keti? Kita nikah tahun berapa?"
Keti menatap Ali bingung.
"Dua tahun lalu, Pipup. Tahun 2028. Masa' lupa hari bersejarah kita? Ish jahara deh!"
"Hahh?!? Ini beneran ya? Alhamdulillaah!!! Akhirnya gaeess... hahaha hahaha kupikir Aku akan hidup sendirian sampai akhir hayat."
Plak.
"Sayang? Itu kepala lho, bukan gendang yang bisa asal kemplang!" tegur Laila pada Anton yang geregetan melihat tingkah Ali yang kekanak-kanakan.
"Emang suamiku itu orangnya gitu koq! Kadang nyebelin ya gitu! Suka nge-blank dan tiba-tiba berlaku aneh. Hehehe... Aku sih udah ga kaget lagi, Kak!"
"Hehehe... maklum, Ket, terlalu banyak duit dia! Saru' antara liat duit sama liat sampah, dimatanya tak ada beda! Hehehe..."
Ali menelan saliva.
Anton sejak dulu tidak berubah.
Bullyannya tak pernah jauh dari sampah.
"Firman dimana ya? Aku koq belum lihat Firman?"
__ADS_1
Ali bingung. Raut wajah Laila berubah murung dan Anton seperti takut terjadi sesuatu dengan Laila.
Benar saja.
Tiba-tiba Laila jatuh terduduk tapi untungnya Anton dengan sigap menangkap tubuh Laila.
"Ke_kenapa?" tanya Ali bingung.
"Pipup! Kenapa sih kamu bikin suasana jadi suram gini?" umpat Keti dengan suara berbisik menghardik Ali.
"Hahh? Ke_kenapa? Ada apa dengan Firman?" bisik Ali semakin penasaran.
"Kak Anton, Kak Laila, maaf... kayaknya Ali lagi kumat. Kami pamit permisi dulu ya, maafkan Suami saya yang kadang gak jelas ini!"
Anton mengangguk. Laila hanya menunduk tak merespon ucapan Keti yang kemudian berjalan keluar dari ruangan kafe sembari menuntun tangan Ali.
"Keti? Kita mau kemana?"
"Ssstt!!!"
Lagi-lagi Keti hanya menyuruh Ali diam dan lanjutkan langkah.
Hingga mereka berada di taman jalan. Keti menghempaskan tangan Ali dengan kesal.
"Dasar orang yang gak punya perasaan!!! Ngapain sih nanya-nanya Kak Firman sama Kak Laila, Puuup?!? Gimana sih?"
"Hhahh!?!"
Ali menghempaskan pant++nya di kursi taman.
Ia bingung tapi malah membuat suasana pertemuan dengan teman-teman menjadi canggung.
Keti melongo menatap Ali yang berbicara seperti orang yang kurang waras dimatanya.
"Berapa usiamu? Sembilan belas tahun? Yassalam!!! Ih!"
Bug.
Keti memukul bahu Ali dengan keras.
"Ada apa? Ada masalah apa kamu memukulku terus-terusan?"
"Tadi di kamar mandi jatuh ya? Kepalanya kejedot tembok ya?"
Ali menggeleng.
Grep
Kini Ia meraih jemari mungil Keti tanpa takut-takut lagi. Karena konon katanya Keti adalah istrinya. Bahkan saat ini Keti sedang mengandung anak Ali.
"E tunggu! Kamu beneran nikah sama Aku? Beneran, Ket?" tanya Ali lagi membuat Keti kian pusing dan menepuk kening dengan telapak tangan kanannya.
"Ya Allah ya Tuhanku!!!"
"Memangnya siapa yang melamarku dua tahun lalu? Siapa yang meniduriku setiap malam sampai perutku tekdung begini?! Hah? Setan?"
"Astaghfirullah! Kalo ngomong jangan sembarang, Ket! Ga boleh ngasal jeplak. Takut setan lewat. Takut malaikat catat. Dosa Neng ngomong padu' gitu!"
__ADS_1
"Tuhaaan!!! Ada apa dengan Suamiku iniii!!!"
Ali menghela nafas panjang.
Ia mulai faham kenapa Keti panik begini. Itu karena dirinya yang juga panik dan bicara tanpa pikir panjang padahal keadaannya sedang berada dalam portal perjalanan waktu.
Ali duduk dan merenung.
Ada senang, ada sedih.
Senangnya, karena ternyata Ia dan Anton juga jadi sahabat. Sama seperti dengan Laila dan Firman. Juga senang karena Ia akhirnya terdeteksi menikah. Bahkan dengan gadis imut yang berwajah bak artis India dengan bola mata berwarna hijau kebiru-biruan yang berdiri tegak dihadapannya saat ini.
Tapi Ali sedih.
Ali belum tahu kabar Firman.
Bahkan tidak tahu dimana sekarang Firman berada.
"Firman sudah meninggal dunia lima tahun yang lalu."
"Apa???"
Sontak saja Ali terkejut.
Keti ikut duduk di samping Ali dengan tatapan memandang lurus ke depan.
"Kak Laila dan Firman kan adalah sepasang kekasih. Mereka mengalami kecelakaan lalu lintas. Kak Firman tewas ditempat. Dan Kak Laila mendapatkan donor darah dari Kak Anton dan beberapa anggota keluarga Anton yang memiliki golongan darah yang sama dengan Kak Laila."
Mulut Ali menganga lebar.
Tak percaya kisah hidup Firman se-tragis itu.
"Firman?!?"
"Ada apa denganmu, Pup? Kenapa akhir-akhir ini kamu terlihat sangat aneh?" tanya Keti membuat Ali segera berbalik menghadap Keti dan menegangi kedua pangkal lengannya.
"Apakah kita menikah di desa Kandut? Siapa yang menjadi wali nikah kamu? Apakah Yadi yang menikahkan kita? Atau,"
"Desa Kandut? Desa mana? Kita ini tidak pernah tinggal di desa! Hei, kamu mimpi ya semalam? Makanya kalo tidur jangan terlalu malam. Sibuk sih dengan kerjaanmu dengan tumpukan biji-biji besi sampai jadi gini!"
Kini Ali yang berbalik bengong.
Ia menggaruk-garuk kepalanya yang runyam meskipun tidak gatal.
"Koq bisa begini ceritanya? Kenapa jadi rancu dan semrawut begini jalan hidupku?" gumam Ali membuat Keti terbelalak.
"Kamu merasa hidupmu semrawut bahkan menikah denganku pun sangat kau sesali?"
"Bukan Keti, bukan begitu! Kumohon jangan salah faham. Menikah denganmu adalah anugerah terindah bagi hidupku. Tapi Aku, aku merasa kisah hidupku dimasa lalu yang kacau semrawut justru jadi tertata berkat adanya kamu. Sumpah demi Allah! Aku bersumpah atas nama Tuhanku! Jangan marah dulu! Entah mengapa memori ingatanku seperti hilang separuh-separuh. Sehingga Aku tidak bisa mengingat masa lalu, termasuk pertemuan kita."
"Hhh... Haish! Pipuuup Pipup. Aku beneran dibuat keder jadinya nih!"
"Kamu ga ingat bagaimana kita ketemu? Kamu lupa kalau kamu sudah buat aku nyebur di selokan jalanan ibukota jadi hitam kotor seluruh badan karena kamu bawa motor ngebut ketika mendengar kabar Firman dan Kak Laila kecelakaan?"
"Hahh?"
Ali termangu.
__ADS_1
Ternyata cerita hidupku berubah lagi! Ternyata, Keti bukanlah Keti yang kukenal di desa Kandut, yang adalah anak haram Mbah Kandut. Ada apa ini? Ketika aku melewati portal seperti pintu perjalanan waktu di kehidupanku, aku bisa merubah sesuatu yang seharusnya terjadi. Dan ternyata, inikah imbasnya? Setiap kali Aku merubah kejadian yang seharusnya terjadi, maka jalan cerita akan berubah. Begitukah rupanya?!?
BERSAMBUNG