MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEENAM PULUH ENAM


__ADS_3

Ali polos? Tidak sepolos itu juga.


Usia muda, dua puluh tahun, bukan berarti dirinya tidak faham hal-hal begituan.


Nonsens buat pria remaja yang beranjak dewasa tidak mengerti urusan lawan jenis dan segala tektek bengek perabotan lenong perempuan di jaman sekarang ini.


Ali memang belum pernah praktek kerja nyata dan hanya sering kepo pada teorinya saja. Ditambah ada juga mata pelajaran sekolah yang membahas onderdil organ tubuh manusia baik laki-laki maupun perempuan. Ali tidak bodoh, meskipun lugu untuk usianya yang sudah kepala dua dan tinggal di Ibukota.


Seiring waktu dan umur kian bertambah, libido serta darah muda yang bergejolak, hal yang wajar jika nafsu bir++inya meningkat pesat.


Apalagi, dihadapannya ada seorang gadis yang dulu begitu Ia puja sampai terbawa mimpi berpacaran dengan Laila.


Mata mereka saling beradu pandang.


Getaran-getaran lembut perlahan seiring terpaut dengan tingkah Ali yang mulai aktif.


Jemarinya mengusap lembut anak rambut Laila yang terlihat berantakan karena nyaris jatuh terjelembab di lantai tadi.


"Laila..., kamu, cantik sekali."


Bisikan lembut Ali membuat Laila tertunduk.


"Hmmm..."


Mendengar des++++ Laila kembali memancing syah++tnya.


Teringat pada pergumulan panas yang di alam mimpi Ia tadi bersama Keti. Seiring membuat Ali ingin bercinta secara nyata walaupun kini dihadapannya adalah Laila, bukan Keti.


Ya Allah ya Tuhanku! Dosakah Aku jika menggauli Laila? Tapi..., Laila adalah istri sahku meskipun baru siri. Sedangkan Keti? Hhh... aku tidak tahu, apa status kami. Hhh...


Laila benar-benar membuat Ali kian berani.


Bahkan ketika handuk yang membalut tubuhnya lepas merosot jatuh di atas lantai, tingkahnya hanyalah diam meskipun tertunduk malu.


"Maaf..., Aku merusak dastermu, La!"


"Kau memang bajingan, Ali Akbar!!! Dia milikku, bukan milikmu!!!"


Ali terkesiap. Gendang telinganya menangkap suara Firman yang memakinya.


Ali spontanitas melengos. Mengalihkan pandangannya dari tubuh indah Laila yang sempat dilalapnya tanpa berkedip.


"Laila..."


"Yaah?"


"Apakah kamu cintai Firman?"


Deg.


Jantung Laila Purnama seperti diketuk palu besar.


Seketika Ia mengambil handuk yang tergeletak dan membalut lagi tubuh sinyalnya yang menggairahkan.


"Jika kamu tidak inginkan Aku, jangan ingatkan Firman!" cetusnya dengan suara dingin sedingin es batu balokan.


Laila mengambil pakaian ganti.


Mencopot handuknya dengan cepat dan menarik kesal dasternya yang robek parah.


Hampir mimisan Ali melihat Laila yang setengah bug++.


Ali menundukkan kepalanya. Malu sendiri.


Tapi si junior susah Ia kendalikan dan...


Grep.


Biarkanlah aku sesekali menjadi pria nakal pada Istriku sendiri! Gumamnya dalam hati.


Iminnya tak bisa ia kondisikan, meskipun ditahan imannya.


"Ali!"


Laila memekik tapi senang dalam hati.


Ali mendorong tubuh Laila rebah di atas kasur. Tubuh sintal itu bahkan seperti membal, membuat Ali semakin naik bergejolak naf++nya.

__ADS_1


Ia mencium ceruk leher Laila yang berisi.


Harum tubuh Laila memabukkan Ali hingga tak sadar diri lagi. Ali mabuk kepayang bermain-main di area yang selalu ada dalam bayangan khayalan.


Nikmatnya bercinta, begitu isi hati dan kepalanya.


Tidak mungkin bisa Ia lewatkan kesempatan ini. Kesempatan yang selalu ia impikan semasa akil baliqnya tumbuh.


Ada yang basah, tapi bukan ngompol. Ali benar-benar mempraktekkan teori yang sudah Ia dapat dari alam mimpi.


Entah ini benar entah tidak.


Yang jelas Laila adalah istri Ali dan Ali suaminya Laila.


Terhenyak Ali menatap sprei yang berantakan seperti kena hantaman rudal perang semalam.


Laila sudah bangun dan sepertinya sedang mandi.


Ali teringat pada cerita-cerita yang samar Ia dengar. Jika sprei terdapat bercak merah pertanda istrinya adalah seorang perawan tingting. Tapi jika tidak ada,... entah.


Deg deg deg deg


Deg deg deg deg


Ali mencari-cari noda darah yang keluar dari lubang Laila, tapi... Hanya tercium bau perengus perpaduan air mani dan cairan sper++nya yang asem-asem tai kucing.


"Ish!"


Ali mengambil ponselnya.


Mendecak kesal karena kuotanya habis hingga tidak bisa googling tentang pengalaman making love nya semalam.


Ali bergerak ke kamar mandi.


Sinar matahari menerobos masuk jendela pertanda hari sudah beranjak siang.


Pantesan si Laila gak bangunin gue minta anterin ke kamar mandi! Gumam Ali dalam hati.


"La?!" panggilnya malu-malu.


Ceklek.


"Boleh,"


"Masuk sini."


Ali meriang. Tangan Laila menariknya masuk ke dalam kamar mandi.


Tubuh Laila dua kali lipat lebih menggoda dibandingkan semalam.


Tubuh polos tanpa sehelai benang dan basah serta mengkilap berbalur sabun mandi yang wangi.


Ya Allah ya Tuhanku...


Ronde selanjutnya mereka lakukan dengan gaya yang berbeda dari semalam.


Ali kian pintar seiring dengan kemajuan yang pesat dalam melakukan manuver.


"Sakit! Nyeri kebanyakan!" rintih Laila pelan meringis sambil tersenyum memegang pangkal pah+nya.


Ali tertawa kecil. Lututnya juga lemas dan bergetar.


"Mandi junub, Yang!" bisik Ali membuat Laila tersenyum.


"Doanya apa? Beneran La ga tau," ujar Laila malu.


"Aku juga ga tau, tapi... kamu kan kalo selesai menstruasi pasti mandi bersih. Doanya apa?"


"Nawaitul ghusla lifraf il hadatsil akbari minal haidil lillahi ta'ala. Artinya, "Saya berniat mandi wajib untuk mensucikan hadas besar dari haid karena Allah Ta'ala."


"Kalo mandi junub? Beda ya?"


"Beda. Kamu emang gak pernah mimpi basah ya?"


"Hahh? Mimpi basah?"


Laila terkekeh. Ia menangkup wajah Ali dan gemas menciumi pipinya.

__ADS_1


"Mandi basah. Sering pasti. Emang guru agama kamu di SMA gak ngajarin?"


"Ngajarin, pasti. Tapi akunya yang dableg, lupa hafalannya. Jadi bodoh begini. Ehh La, boleh tanya?"


"Apa?"


"Kamu..., kamu..., apa perawan atau,"


Plakk.


"Ali?!?" seru Laila berang sampai spontan menampar pipi Ali keras.


Sontak Ali tertunduk. Sadar kalau pertanyaannya menyakiti hati Laila.


"Ma_af..."


"Kamu bodoh banget! Emang ga bisa bedain perawan sama janda? Aku perawan, belum pernah nikah!" kata Laila makin emosi.


Ali menunduk kian dalam.


Tubuhnya menggigil kedinginan.


Laila mengguyur tubuhnya cepat. Menghilangkan noda sabun dan busa shampoo yang masih melapisi badannya.


Tapi Ia juga mengguyur tubuh Ali laksana memandikan tubuh bocah usia lima tahun.


"Jongkok!" perintahnya dengan kesal.


Tukk.


Laila mengetuk kepala Ali dengan gayung.


"Aduhh!" Ali mengaduh.


"Ikutin!" perintah Laila lagi.


"Nawaitul ghusla li raf'il hadatsil akbari minal jinaabati fardhan lillahi ta'ala. Artinya: "Aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari jinabah, fardu karena Allah ta'ala."


"Pelan-pelan,..." ucap Ali dengan suara merajuk.


"Nawaitul ghusla, li raf'il hadatsil akbari,"


"Nawaitul ghusla, li raf'il hadatsil akbari,"


"Minal jinaabati,"


"Minal jinaabati,"


"Fardhan lillahi ta'ala."


"Fardhan lillahi ta'ala."


Byuurrr...


Laila memandikan Ali. Mereka berdua kembali terkekeh.


"Kenapa kamu tanya Aku perawan atau bukan?" tanya Laila membuat Ali tertunduk diam.


"Aku baru pertama kali melakukan hubungan intim dengan pasangan." Jawaban Ali membuat Laila menjawab cepat.


"Ya sama! Kamu fikir, aku pacaran sana sini suka dicas mereka dengan gampangnya? (Tukk : Laila kembali mengetuk kepala Ali dengan gayung)"


Ali memeluk tubuh Laila.


"Maaf, maaf... maaf istriku!"


"Kamu khawatir ya? Kamu cemas Aku sudah hilang keperawanan? Apakah cinta berawal dari semua itu? Apakah itu penting? Apakah dijaman sekarang ini keperawanan teramat penting? Dan..."


Grepp.


Ali menyergap mulut Laila hingga berhenti mengoceh.


Ali melum++ dengan cepat. Sungguh nikmat.


"Menikah ternyata semenyenangkan ini!" katanya sambil tersenyum bahagia menatap wajah Laila, istrinya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2