MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEEMPAT PULUH TUJUH


__ADS_3

"Masalahnya saat ini, Ali juga bingung, belum tahu cara penggunaannya dan cara menempatkan waktu perjalanan sesuai dengan yang Ali inginkan, Eyang! Bahkan..., bahkan Keti, Keti sampai mengalami hal yang buruk. Keti tidak bernafas dan bernyawa lagi. Raganya ada di kediaman Yadi, cucunya Mbah Kandut. Ali masih harus mencari cara agar bisa masuk cermin ajaib dan masuk ke waktu yang pas dimana saat itu Keti yang sedang berwujud seekor kucing tertabrak mobil yang dikendarai Firman, Eyang!"


Netra Toro membulat.


"Tunggu!!!"


Ali merasakan jantungnya berdegup kencang.


Toro berjalan tertatih dengan tubuhnya yang bungkuk.


"Aku mendapatkan ini!"


Toro mengambil sesuatu.


Usia tua dan tubuh ringkih tidak bisa dimanipulasi. Meskipun Eyang Toro masih normal serta tidak pikun tetap saja usianya kini sudah hampir mencapai seratus tahun.


Sebuah buku bertilam bahan sutra warna biru dongker. Mirip buku yang Ali dapatkan dari cahaya di loteng ruang perpustakaan Eyang Toro.


"Ini!"


"Itu buku yang serupa dengan yang Ali temukan di ruang perpustakaan, Yang!"


Toro membuka sampul depannya.


Toro tertegun dengan hati membatin.


Berarti buku ini berseri, sepertinya!


Toro mengambil secawan air putih. Ia mencelupkan jari telunjuknya ke dalam air, kemudian memercikkannya di atas halaman pertama yang putih tulang kosong tanpa tulisan apapun.


Dan...


Toro mengambil pelita hingga terlihatlah bayangan di balik lembar halaman buku yang basah.


"Seri Kedua!" seru Ali dan Toro bersamaan.


Keduanya kini saling berpandangan.


"Sepertinya buku ini ada tiga seri. Seri kesatu kamu yang pegang, seri kedua ada disini. Dan seri ketiga..., kemungkinan ada di tangan Yadi!"

__ADS_1


Ali terkesiap mendengar pemikiran Eyangnya.


"Bisa jadi! Yadi bisa tahu Ali memiliki cermin ajaib, pasti dari buku seri ketiga yang dipegangnya itu!"


Cetak.


Ali menjentikkan jemarinya.


"Eyang! Tolong bantu Ali, Eyang. Bantu Ali menemukan cara untuk masuk pintu portal dimensi lain lewat cermin ajaib menuju waktu yang Ali mau. Adakah, Eyang?"


"Kamu tahu Ali? Allah itu Maha Gaib. Allah adalah pemilik kunci dari segala kunci. Pemilik ilmu dari segala ilmu. Semua orang bisa membuka dan mempelajarinya, lewat Al-Qur'an yang di surat pertama kali Allah turunkan lewat malaikat Jibril kepada nabi besar Muhammad SAW, 'Bacalah!'. Bacalah! Tuhan menyuruh kita untuk membaca. Apapun itu. Baca buku, baca situasi, baca keadaan juga baca diri sendiri. Lalu, mengajilah! Kaji Al-Qur'an, kaji ilmu, kaji diri sendiri. Pertanda ada sesuatu di dalam Al-Qur'an dan juga buku-buku termasuk buku seri sistem Galaksi Kehidupan ini!"


Aliran darah Ali seperti berdesir kencang.


Betul kata Eyang! Aku sendiri belum pernah membuka halaman buku seri system Galaksi Kehidupan yang kupegang sampai sekarang. Bahkan untuk sekedar membaca Al-Qur'an juz ketiga puluh pun yang hanya terdiri dari surat-surat pendek, Aku terlalu sibuk wara-wiri dengan alasan ingin membuka tabir. Padahal Allah telah memberiku banyak kemudahan. Air kolam untuk mandi dan berwudhu yang suci mensucikan hati juga isi kepala, waktu yang luang dan suasana sekitar yang sepi dan lengang. Bahkan tak adanya signal, aliran listrik yang sebenarnya itu adalah untuk memudahkan Aku fokus pada tujuan! Dan bukankah Eyang sudah memperingatkan Aku untuk tidak tinggalkan sholat?


"Eyang..."


"Sudahkah terbuka fikiranmu, wahai cucuku Ali Akbar?"


Ali merasakan jantungnya berdebar kencang.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)


Asyhadu allaa ilaaha illallaah (2x)


Asyhadu anna Muhammadan rasulullaah (2x)


Hayya 'alash shalaah (2x)


Hayya 'alal falaah(2x)


As shalaatu khairum minan naumi (2x)


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (1x)


Laa ilaaha illallaah (1x)


Dan raut wajah Toro yang meskipun keriput tapi memancarkan sinar cerah tanda hatinya yang telah lega.

__ADS_1


"Eyang! Eyang?!? Eyang!!!"


Ali terperangah. Toro bagaikan sebuah robot hologram yang perlahan samar terlihat, lalu menghilang tanpa jejak bayangan.


Tring


Ali lebih terkejut lagi.


Kini Ia berada di sebuah lapangan luas yaitu tempat Yadi dan anak-anak kecil bermain bola.


"Astaghfirullahal'adziiim..."


Ali gemetar. Tubuhnya bergetar dan lututnya lemas terasa.


Hari telah beranjak pagi meskipun masih dirajai kegelapan malam. Azan Subuh selesai berkumandang. Kini tinggallah Ali yang terduduk lemas dengan kedua bola mata menjelajahi alam sekitar.


Ali teringat satu ayat pamungkasnya.


Lagi-lagi suara Agus ayahnya terngiang jelas sekali.


"Ali...! Hafalkan ayat kursi, Nak! Dimana pun, kapanpun Kamu dan dalam kondisi apapun apalagi kondisi yang membuat down mu jatuh karena tekanan keadaan serta kehidupan, bacalah ayat ini. Ayat kursi mampu membuat kuat jiwamu yang lemah. Percayalah pada ucapan Bapak. Karena Bapak sendiri sudah mengamalkannya selama belasan tahun. Sejak Bapak di PHK dan jadi pengangguran berat, sejak dunia terasa begitu berat diatas kepala, ayat kursi lah yang membantu bapak tetap fight. Bahkan bisa bertahan menjalani hidup dan bersyukur bisa menafkahi Ibu dan kamu sampai detik ini."


Meleleh air mata Ali di pipi.


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim.


Artinya: “Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar.”


Ali berdiri sekuat tenaga yang tersisa setelah perjalanan panjang semalaman yang nyaris membuatnya seperti orang yang hilang akal.


Di ayunkan langkahnya dari yang semula berat hingga perlahan meringan karena bibirnya tak henti mendawamkan ayat kursi sepanjang perjalanan.


Matanya menatap pintu gerbang rumah besar Eyangnya. Hatinya girang bukan kepalang. Terlebih melihat ada beberapa pria melintas menuju masjid besar yang ada di seberang rumah Eyang Toro.


Ali membelokkan langkah.


Ia memutuskan untuk sholat Subuh berjamaah di masjid sebelum bergegas pulang ke rumah warisan Eyangnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2