
Ali terperangah.
Ada gambar foto wajah Keti disebuah figura berukuran 10R di dinding bilik ruang depan sebuah saung yang kata Yadi tidak berpenghuni itu.
"Itu, fotonya Keti?" seru Ali spontanitas.
Yadi ikut terkesiap. Wajahnya berubah tegang dan seperti menoleh kepada kucing hitam yang sedari tadi mengibas-ngibaskan ekornya didekat kaki Yadi.
"Kamu..., pernah bertemu gadis itu?"
Ali mengangguk yakin.
"Bagaimana bisa, kalian bertemu satu sama lain?"
"Dia salah satu sahabat baruku. Kami sudah cukup akrab dan..., sepertinya lumayan banyak momentum diantara kami berdua."
Dug.
Yadi meninju papan bilik hingga nyaris goyang hampir roboh mengagetkan Ali yang tak mengerti kenapa Yadi bertingkah seperti itu.
"Dia... pacarku!"
"Maaf. Maaf, Aku tidak tahu!"
Ali bingung, bagaimana menyikapi Yadi yang sepertinya terbakar cemburu. Ali tanpa sadar mengungkapkan kedekatannya dengan Keti, tentu saja hal itu membuat pria yang cukup tampan dan gagah itu seperti kebakaran jenggot.
"Kami belum sejauh yang kamu fikirkan juga. Lagipula, hanya berteman dekat apakah itu salah? Aku hanya respek pada Keti yang baik dan welcome ketika Aku sedang kebingungan seorang diri masuk perkampungan yang sunyi sepi mencekam ini!"
"Skip obrolan tentang Keti! Kita langsung bahas saja ritual-ritual apa yang harus kau ketahui di malam satu suro nanti!"
Ali mengangguk.
"Dengar! Kita harus bisa melakukan ini. Fokus untuk sebuah masa depan desa Kandut agar kembali normal!"
"Tunggu! Tolong jelaskan secara detail! Jangan buat Aku bingung dengan jalan cerita desa ini yang penuh misteri sampai membuat Aku merasa pusing karena seperti berputar-putar di satu titik jangka lingkaran!"
"Hhh...!"
Ali menunggu Yadi bercerita dari awal kisah desa Kandut yang kata Pak Toha Kadus desa Kandut sekarang adalah desa yang kena kutukan alam.
...............
"Werrrr werrrr werrrr!"
Seorang pria paruh baya sedang asyik memberi makan soang dan bebek-bebek peliharaannya yang cukup banyak sampai puluhan ekor itu.
Pria itu bertubuh tinggi tegap dan berkharisma.
Wajahnya tampan bersinar cerah terkena cahaya matahari pagi yang mulai meninggi.
"Mbah..., mangan dulu!"
Terdengar suara cempreng perempuan dari balik rumah besar yang berdiri kokoh.
"Iyaa, sebentaaar!" jawabnya masih asyik dengan hewan-hewan unggas peliharaannya itu.
__ADS_1
"Pagi, Mbah Toro!" sapa seorang gadis manis yang melintas dengan mengayuh sepeda ontelnya.
"Pagi. Mau berangkat sekolah, Jeng?"
"Nggih, Mbah! Hehehe..."
Gadis itu menghentikan laju sepeda dan mencium punggung tangan Mbah Toro, sesepuh desa kampung baru yang dia bangun bersama beberapa orang sesepuh lainnya yang dipercaya memiliki kharisma serta wibawa dalam menjaga stabilitasi rohani penduduk kampung baru yang hanya terdiri dari beberapa belas rumah saja.
"Hati-hati ya di jalan! Jangan lupa berdoa sebelum mulai menimba ilmu! Belajar yang rajin dan turuti kata guru-guru di sekolah. Semoga Allah merahmati ilmu yang kamu dapat!"
"Aamiin..."
Seperti itulah petuah para orangtua di jaman dahulu. Selalu memiliki vibes yang luar biasa untuk investasi spiritual masa depan putra-putri mereka nantinya.
Ajeng adalah putri pertama Mbah Toro dengan Ibu Suminah. Mereka dikaruniai lima orang anak dan Agus Kurniawan adalah anak bungsu mereka yang saat itu masih berusia lima tahun.
Semua orang di kampung ini memanggilnya dengan sebutan 'Mbah', termasuk anak dan istrinya sendiri.
Mbah Toro adalah putra seorang dukun sakti mandraguna di kampung Sepadan bernama Ajie Pangestu. Sedari muda Ia sudah terbiasa membantu bapaknya mengobati pasien-pasien yang datang meminta bantuan dengan berbagai keluhan. Baik itu keluhan penyakit supranatural maupun penyakit kedokteran.
Toro spesialisasi pendamping Ajie ketika mendapatkan pasien yang mengalami penyakit yang lumayan berat dan butuh bantuan dirinya membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an termasuk ayat kursi juga bantuan dari beberapa jin Islam yang tinggal bersamanya.
Ajie memang memakai metode pengobatan dengan kalam Illahi seperti kitab kuning dan Alquran selain meditasi, puasa mutih, ni'is serta ilmu kebatinan yang memang Ia miliki sedari kecil.
Ajie mendapatkan karomah bisa melihat makhluk-makhluk astral yang konon katanya adalah roh para leluhur Nenek moyangnya beratus-ratus tahun yang lalu.
Wallahu a'lam.
Setelah Ajie wafat, semua benda-benda mistis yang konon didapat dari tapanya di dalam hutan dan gunung diturunkan semua kepada Toro yang memang adalah anak tunggal Ajie.
Toro yang seorang anak laki-laki normal tidak memiliki kemampuan supranatural dan indera keenam, tiba-tiba mampu mengobati seorang kepala desa bernama Pak Hayuh yang sakit keras. Sudah satu bulan, beliau terbaring lemah tak berdaya. Dimana saat itu kampung mereka jauh dari kota dan masih sangat minim dokter apalagi rumah sakit.
Toro yang seorang pemuda biasa yang berusia 21 tahun akhirnya berhasil menyembuhkan Hayuh hingga beliau menikahi Toro dengan putri pertamanya Suminah.
Hidup Toro yang awalnya hanyalah biasa, perlahan naik kasta karena berhasil menikahi kembang desa putri seorang kepala daerah.
Mereka bahkan memiliki banyak aset berupa tanah persawahan dan perkebunan. Tentu saja itu semua dari Hayuh yang seorang saudagar kaya raya.
Rumah tangga Toro-Suminah layaknya pasangan lain. Romantis, namun kadang penuh drama tawa dan tangis bercucuran air mata.
Ajeng lahir, dua tahun kemudian Asmoro lahir. Setelah Asmoro berusia tiga tahun Hasan dan Husein pun lahir. Dua tahun kemudian lahirlah Agus Kurniawan.
Beranak pinak membuktikan kalau rumah tangga mereka sangatlah bahagia.
Hingga suatu ketika datanglah seorang pemuda tampan yang konon katanya adalah anak asli daerah desa mereka dan menetap dekat kediaman mereka. Kandut namanya.
Toro mulai curiga, Pak Hayuh sang mertua terlihat sangat baik dan berhubungan akrab dengan pemuda itu.
Ada kejanggalan yang tercium. Aroma ketidakberesan itu terlihat jelas di mata batin Toro.
Ternyata benar, rupanya Kandut bukan pemuda sembarangan.
Kandut adalah putri dari cinta pertamanya Hayuh sebelum menikah dengan Ratni tapi sayangnya mereka tidak berjodoh karena Lilis nama ibunya Kandut memilih merantau ke kota dan menikah dengan pria Kota.
Kandut juga seorang pria yang ternyata adalah pemuja ritual-ritual malam guna memperoleh apa yang dicita-citakan.
__ADS_1
Sedari kecil Kandut terbiasa tidur dari satu makam ke makam lain di komplek pemakaman yang berbeda.
Semua itu katanya untuk meminta agar diberikan kemudahan dan kelancaran setiap harapan serta keinginannya dipandang juga dihormati banyak orang.
Niatnya kembali ke kampung karena semasa hidup, Lilis pernah bercerita kalau kampung kelahirannya itu dilintasi jalan tali alas. Yakni jalan ke dunia lain yang hanya sewaktu-waktu bisa dilihat orang manusia istimewa.
Ada semacam jalan lain menuju istana tempat tinggalnya para makhluk tak kasat mata seperti hewan-hewan misterius, siluman dan makhluk astral lainnya.
Kandut sangat tertarik untuk memasuki alam lelembut dengan masuk ke jalur jalan tali alas itu.
Kandut sangat terobsesi untuk memiliki dunia dalam tanda kutip.
Sedari kecil menjadi anak yatim yang tidak kenal Bapaknya dan tinggal berdua saja dengan Ibu yang sangat miskin membuat Kandut berani ambil resiko apapun untuk kejayaan serta kedigjayaannya di masa mendatang.
Orang pertama yang didekati Kandut dan berhasil kena sirep ilmu gendamnya adalah Hayuh.
Hayuh mulai merasa kalau selama ini Ia terlalu percaya pada Toro akhirnya menurun kadar kepercayaannya sejak dekat dengan Kandut.
Kandut menyihir pandangan mata Hayuh dengan membuat ilustrasi kalau Toro hanyalah seorang lelaki kotor yang sedang memanfaatkan dirinya dalam segala hal termasuk di awal pertemuan mereka.
Kandut bilang, Toro-lah justru yang memberinya kiriman penyakit agar bisa mengobati Hayuh dan menikah dengan Suminah putri pertama Hayuh.
Hayuh percaya kata-kata Kandut.
Kandut bahkan berjanji akan membuka kedok Toro asalkan Hayuh bersedia bekerja sama dengannya melakukan ritual-ritual aneh yang bertentangan dengan syariat agama.
Rupanya ketekunan Kandut dalam melakukan kegiatan itu membuahkan hasil. Ilmu hitamnya kian terasah seiring mulai banyaknya setan-setan yang tergabung dalam lingkaran dunia spiritual yang Kandut geluti.
Hayuh semakin percaya Kandut.
Bahkan Hayuh menikahkan putri tunggalnya dari pernikahan keempatnya dengan seorang perempuan cantik penembang karawitan.
Hayuh naik tahta kembali pada periode pemilihan berikutnya dengan bantuan doa-doa ajian ilmu hitam Kandut yang perlahan berhasil merubah sikap karakter serta perilaku Hayuh yang awalnya taat beribadah menjadi pemimpin yang suka ambil jalan pintas.
Ibadah lima waktunya perlahan mulai ditinggalkan.
Hayuh merasa ilmu kebatinan Kandut jauh lebih mumpuni dan sakti dibandingkan Toro yang kian kurang melemah kekuatannya sejak menikah dengan putri pertamanya dan dikaruniai lima orang anak.
Tapi Hayuh tidak sadar, kalau Kandut adalah pemilik perjanjian dengan sekumpulan jin iblis dan para setan yang setiap saat meminta tumbal dari keberhasilan yang didapat.
Hayuh ternyata benar-benar telah dicuci otaknya sampai lupa kalau Ajeng, Asmoro, Hasan Husein adalah cucunya sendiri dari darah dagingnya yang murni.
Sampai tega memberikan roh keempat anak Toro setelah berhasil membuat Toro sibuk keliling kampung lain untuk urusan kemaslahatan umat atas perintahnya dibawah pengaruh Kandut.
Keempat putra-putri Toro ditenggelamkan di sebuah danau terluas di desa mereka ketika sedang naik sampan saat ada perayaan festival kebudayaan yang digelar pemerintah dalam merayakan hari kemerdekaan.
Tujuh belas Agustus, tanggal bersejarah sekaligus tanggal yang selalu Toro ingat sebagai tanggal pahit yang menyakitkan dirinya beserta istri.
Sebenarnya sebelum kejadian Toro sudah mendapatkan firasat.
Ia seperti sudah membaca pergerakan Kandut yang benar-benar haus tahta dan gila kehormatan hingga dirinya semakin rajin tapa Geni untuk memuluskan rencananya sejak semula.
Sayangnya Toro berfikir kalau Hayuh tidak mungkin tega menjadikan putra-putrinya sebagai tumbal makanan para Iblis yang sudah merasuki jiwa Hayuh.
Pertikaian mulai terbuka diantara mereka sejak saat itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG