MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KETUJUH PULUH TUJUH


__ADS_3

Laila menganga terkejut setengah mati.


Ia berdiri di samping Firman dengan tangan saling berpegangan erat. Didepan mereka berdiri Ali Akbar sambil memangku seekor kucing berwarna hitam.


Ku_kucing hitam?


Seketika Laila merasakan dadanya sesak.


Namun lebih kaget lagi tatkala genggaman Firman menghentak dan menariknya beranjak pergi dari obrolan yang terlihat serius itu.


"Firman!"


"Ayo, La, kita pergi! Anak itu memang sudah bukan lagi bagian dari kita!" ujar Firman dengan suara yang keras.


"Hah?!?"


Laila tentu saja kebingungan karena tidak mengetahui perselisihan diantara Firman, dia dan Ali.


Ia hampir terseret dan...


"Masuk, La!"


Firman menyuruhnya masuk ke dalam mobil.


"Mau kemana kita?" tanya Laila tak mengerti pada kemarahan Firman.


"Kita pergi dari sini!"


"Kemana?"


"Kemana saja asal enggak lihat wajah demeuk si Ali lagi!"


Laila menelan ludahnya.


"Kenapa kamu sampai semarah itu pada Ali, Man?" tanya Laila mencoba mencari tahu.


Firman fokus pada laju mesin kendaraannya yang dipacu.


"Man!? Firman!?"


"Dia sekarang lebih mementingkan pertemuannya dengan si Anton Darmawan! Dia lupakan kita! Dia justru lebih memilih pergi dengan Anton ketimbang dengan kita! Kamu dengar sendiri kan tadi dia bilang apa sama kita?! Dasar temen ga da akhlak!"


Laila termangu menelaah ocehan Firman tentang Ali Akbar.


Apa ini mimpi? Apa ini kisah kehidupanku yang lalu seperti mimpi tempo hari? Ketika Mama dan kakak-kakak terlihat masih menjalani kehidupan jahiliyah mereka?


Cekiiiitttt...


Laila terkejut, Firman menginjak pedal rem tiba-tiba.


Bruk bruukkkk


Gubrak gubrakk gubrakkk


Mobil yang mereka tumpangi bertabrakan dengan keras dengan sebuah mobil tronton hingga terlempar berguling beberapa kali.


Dan...


Samar-samar Laila merasakan dadanya sakit serta kepalanya pening. Namun masih dalam kondisi sadar meski matanya kunang-kunang berbayang.


"Fir_man...! Firman..." rintihnya sembari berusaha menggapai tangan Firman dan mencoba melihat wajah Firman yang tenggelam di balon air bag.


Firman terkulai tak sadarkan diri.

__ADS_1


Laila melihat darah yang banyak bahkan tangannya pun kini di penuhi dengan ceceran darah segar yang entah punya siapa.


Perlahan kesadarannya penuh dan merasakan kalau mereka dalam kondisi duduk terbalik dengan safety belt masih terpasang di pinggang.


Terdengar suara ramai,... perlahan Laila turun kesadaran dan pingsan.


Ali yang baru saja pulang dari kerja di hari pertama, lagi-lagi terkejut melihat benda yang sudah Ia sembunyikan itu tergeletak di lantai kamar dengan posisi kasur semrawut berantakan.


Seketika jantungnya berdegup kencang.


"Laila! Laila sepertinya masuk cermin ajaib lagi!" pekiknya cemas ketakutan.


Ali berlari ke kamar mandi. Berharap menemukan Laila kembali seperti tempo hari di malam pertama mereka pindah ke rumah kontrakan itu.


Tidak ada.


Kamar mandi kosong.


Ali kembali ke kamar, keluar rumah dan menoleh ke kiri juga kanan dengan wajah pucat pias ketakutan.


Ini adalah kali kedua Laila tersedot pusaran pintu portal teleportasi yang berhubungan dengan sistem galaksi kehidupan.


Ali masuk kembali ke dalam dan duduk bersila dengan tubuh bergetar.


"Ya Allah ya Tuhanku... kembalikanlah Laila ke kehidupanku yang ini, ya Allah! Kumohon ya Allah! Kumohon kebesaran-Mu wahai Allah Zat Yang Maha Kuasa!"


"Allahu laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa naum. Lahuu maa fissamaawaati wa maa fil ardli man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa biidznih, ya’lamu maa baina aidiihim wamaa kholfahum wa laa yuhiithuuna bisyai’im min ‘ilmihii illaa bimaa syaa’ wasi’a kursiyyuhus samaawaati wal ardlo walaa ya’uuduhuu hifdhuhumaa wahuwal ‘aliyyul ‘adhiim."


Ayat kursi dan surat-surat pendek Al-Qur'an Ali lantunkan guna menarik tubuh Laila agar kembali pulang ke kehidupan yang sekarang.


Ali khawatir Laila tidak bisa mengikuti permainan di kehidupan yang terlewati portal perjalanan waktunya.


"Bismillahirrahmanirrahim. Qul-huwallahu ahad. Allaahush-shomad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakul-lahu kufuwaan ahad. Ya Allah, hanya kepada-Mu lah aku memohon dan meminta pertolongan."


Laila harus kubantu! Laila pastinya dalam kesulitan mengikuti nasib hidupnya di kehidupan lain!


Ali berusaha ibadah dengan khusu' agar bisa menarik Laila kembali ke sini.


Selepas sholat, Ali berzikir sampai waktu bergulir perlahan merayap kegelapan malam.


Keti yang sedang mendengarkan musik lewat earphone di telinganya sambil rebahan setelah belajar malam tiba-tiba seperti terkena setrum listrik.


"Aduhh!!!" pekiknya tersentak kaget.


Deg deg deg


Deg deg deg


Deg deg deg


Keti termangu. Melamun bingung kenapa jantungnya berdenyut cepat sekali.


Ia bangkit dari rebahnya.


Duduk nge-freezz beberapa menit, kemudian bangkit memeriksa kembali tas ranselnya. Khawatir ada salah satu buku pelajaran yang tertinggal.


Satu persatu buku Ia perhatikan dengan seksama.


Lengkap.


Mata pelajaran untuk besok, semua LKS dan buku tulis latihan serta soal telah Keti masukkan semuanya.


Ada apa ya? Kenapa jantungku berdegup kencang begini?

__ADS_1


Katrina membuka laci meja belajarnya yang ada di bagian paling bawah.


Tangannya meraih tiga buah buku besar setebal Al-Qur'an.


Buku yang masih kokoh meskipun lembaran kertasnya telah berubah warnanya menjadi kuning kecoklatan itu, polos tanpa judul.


Keti membuka lembaran pertama salah satu buku dan..., seperti sebuah televisi berukuran mini.


Keti melihat Ali Akbar yang sedang duduk bersimpuh dengan keringat serta air mata meleleh di pipi.


Seperti sebuah media CCTV yang bisa melihat dan memperhatikan semua gerak-gerik Ali di lembaran pertama buku besar itu.


"Kak Ali!" seru Keti semakin memacu jantungnya yang berdenyut kian cepat.


Keti menyambar jaket Hoodie serta dompet keramatnya. Dan bergegas keluar kamar dengan berteriak memanggil nama asisten rumah tangga orang tuanya.


"Mas Yadiii! Antar Keti ke rumah Bianca!" serunya memanggil nama ART baru Papanya yang berjenis kelamin laki-laki.


Yadi masuk ke dalam rumah lewat pintu dapur.


"Ada apa, Non?"


"Cepat antar Aku ke rumahnya Bianca!"


"Motor atau mobil Non?"


"Motor saja, biar lebih cepat!"


Yadi mengangguk. Matanya menatap tajam wajah Keti yang terlihat panik.


Mereka bergerak pergi menuju kontrakan Ali.


Yadi begitu lihai membawa motor matic hingga hanya hitungan belasan menit mereka telah sampai di tujuan.


"Mas Yadi pulang saja!"


"Enggak! Saya di sini, nunggu Non Katrina sampai selesai!"


"Ck!" Keti hanya berdecak sekali. Ia bergegas setengah berlari menuju pintu rumah kontrakan yang Ali dan Laila sewa.


Tentunya dengan tatapan mata Yadi yang seolah enggan berkedip, terus melihat Keti yang kini berdiri di depan pintu.


Tok tok tok


Tok tok tok


Krek


Ali membukakan pintu. Berharap Laila-lah yang datang dan pulang.


Betapa terkejutnya Ia melihat Keti yang berdiri di depan pintu depan raut wajah muram bahkan berkaca-kaca.


"Kak Ali!" pekiknya tanpa bisa menahan perasaan lagi.


Keti merangsek memeluk Ali yang diam membisu dengan dada berdebur kencang.


Ali terkesiap.


Sepasang mata tajam menatapnya tak berkedip.


"Yadi!?!"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2