
Sejak Ali menekan Firman dengan ucapan yang sulit diterima akal sehatnya, Firman jadi pendiam.
Bocah sebelas tahun itu tak banyak bercakap dengan Ali seperti diawal kedatangan ke wahana taman hiburan.
Ali memahami. Butuh otak yang bersih tentunya untuk mencerna keadaan dirinya yang sebenarnya kini adalah dirinya yang sudah berumur sembilan belas tahun, bukan Ali yang sebelas tahun seperti Firman.
Fokus Ali juga memperhatikan Rudi. Si kecil yang memang cukup hyperaktif di usianya yang baru akan menginjak dua tahun itu.
Sesekali bocah itu berlari kesana-kemari, membuat Ali agak kewalahan mengejarnya. Tapi justru Rudi seringkali tertawa dan makin kencang larinya jika dikejar.
Hingga suatu ketika, Bapaknya Firman mengajak kami naik wahana bianglala. Yaitu kincir angin raksasa.
Seketika dada Ali terasa sesak dan panas dingin sekujur tubuh.
"Jangan!!!"
Ali melarang mereka naik.
Apalagi Rudi turut serta dibawa.
Ali takut peristiwa maut itu terjadi tepat dihadapannya.
"Jangan naik yang ekstrim-ekstrim ya?"
"Hahaha..., Kak Ali takut ya?" goda Teguh sambil tertawa-tawa.
Ali tersenyum kecut.
Ia memang sangat takut. Tapi bukan dengan ketinggian. Tapi takut kalau-kalau takdir kematian Rudi telah sampai dan dia juga turut menjadi saksinya.
Ali tak mau Rudi mati seperti cerita masa lalu.
Rudi, adik bungsu Firman meninggal dunia jatuh dari wahana permainan ketinggian puluhan meter.
Padahal jelas-jelas kalau wahana itu aman ditaiki oleh seluruh anggota keluarga asalkan dengan pengawasan ketat oleh orang yang lebih tua.
"Itu bukan permainan ekstrim koq, Li!" hibur Bapaknya Firman.
Tapi Ali tetap menolak dan melarang mereka naik.
Akhirnya mereka memutuskan naik komidi putar Turangga rangga, poci-poci, gajah beledug dan naik sampan ke istana boneka.
"Ah, ga seru! Kita naik yang menantang dong, Pak!"
"Yuk naik bianglala! Ibu kepingin liat dari ketinggian seratus meter, Pak!"
"Horeee..."
Hanya Ali yang gemetar. Ia diam tak bergeming.
"Semuanya silahkan naik. Ali tunggu di sini aja sama Rudi. Ya, Pak, Bu?"
"Hahh?!?"
Kedua orang tua Firman tertawa kecil.
"Yuk Li, naik. Ga apa-apa koq. Itu aman lho!" rayu Firman pada akhirnya.
Ali menarik tangan Firman agak menjauh dari ibu bapaknya.
__ADS_1
"Firman, dengar!"
"Jaga Rudi baik-baik!"
"Apaan sih? Ucapan Lo dari tadi aneh! Lo kenapa sih Li? Lo kok kayak orang stres?"
"Iya. Emang gue lagi stress. Gue ga mau kenapa-kenapa sama Rudi, adek bungsu Lo!"
"Ck. Tau gini, males gue ajak Lo liburan bareng keluarga gue!"
"Firman. Sayangilah semua anggota keluargamu, karena merekalah yang akan menjadi backing dalam hidup Lo nanti!"
"Backing? Apaan lagi? Hahaha... Ish! Dahlah kalo emang ga mau naek, jangan nakut-nakutin!"
Firman melangkah kembali ke kumpulan keluarganya.
"Yuk Pak, Bu! Si Ali ga mau ikut. Kita aja deh. Dia mau tunggu di bawah, katanya!"
Ali berlari cepat sambil berteriak, "Ikut!"
Lalu kalau sampai kejadian itu tetap terjadi, lantas bagaimana? Percuma dia ada di sini. Di tahun saat dirinya masih kelas lima SD. Pasti Tuhan memberinya kesempatan setidaknya untuk sedikit mengubah jalan cerita agar tidak menjadi kesedihan.
Firman tertawa kecil.
Melati dan Teguh juga ikut bersorak. Termasuk Rudi yang menggapai rambut Ali hingga berantakan.
"Jangan, Rudi! Ga boleh, Sayang!"
"Bu, nanti kita harus pegangan yang kuat, ya? Rudi juga, harus dipegang erat-erat." Ali mulai mengatur semua anggota keluarga Firman. Sungguh tingkahnya seperti kakek-kakek saja.
Ibu Firman tertawa mengiyakan.
Jantungnya berdebar kencang. Takut sekali karena kini dia ada di waktu yang membuat keluarga itu berduka.
Tangan Ali terus menggenggam erat jemari tangan Rudi. Sesekali Rudi menepis, tapi Ali kembali pegang dengan erat.
Hingga tiba-tiba,
Krek.
Bianglala berhenti di tengah jalan.
Bola mata Ali membulat.
"Tenang, tenang! Cuma ada kesalahan teknis koq. Pasti akan jalan lagi. Hehehe..., jangan panik!"
Rudi mulai agresif. Dia terlihat grusak-grusuk duduknya meskipun dipangku ibunya.
"Rudi, jangan seperti itu!" pekik Ali mulai khawatir.
"Si Ali kenapa jadi kayak kakek-kakek cerewet sih? Ck!" umpat Firman kesal dengan tingkah Ali.
"Aku, aku... Aku ga mau Rudi jatuh dari ketinggian, Man! Hik hik hiks... Aku gak mau kejadian itu terjadi nyata di depan mataku! Hik hik hiks... Aku ingin semuanya dalam keadaan baik-baik saja! Tidak ada yang terluka apalagi sampai ada yang jatuh dan meninggal dunia. Aku ga mau Firman dan keluarganya berduka. Hiks hiks..."
Firman merangkul bahu Ali.
Ia baru tersadar, ternyata Ali sesayang itu padanya dan keluarga.
"Tenang, Li! Jangan panik. Ya kan, Bu, Pak?"
__ADS_1
"Firman juga ga boleh jahat sama Ibu Bapak, hik hik hiks... Biarpun keadaannya tidak seperti yang kita inginkan, bukan berarti Firman boleh maki-maki orangtua sembarangan. Orang tua yang lahirin kita, Man! Ibu dan bapakmu mungkin memang punya masalah keluarga yang pelik. Tapi kamu gak boleh maki-maki mereka padahal mereka sudah dimaki-maki orang lain yang kamu sendiri tidak suka lihatnya. Huhuhu..."
"Jadi, jadi kamu dengar waktu istri pertama Bapak datang dan... maki-maki ibu bapak?"
Wajah Firman terlihat tegang.
"Dengar, Nak! Ada satu hal yang memang tidak Ibu Bapak ceritakan tentang kehidupan kami dahulu. Karena kamu masih terlalu kecil untuk tahu itu. Tapi baiklah, kami akan terbuka. Cerita di atas bianglala yang macet ini. Mungkin Tuhan menginginkan kami untuk menceritakan semuanya."
Ali dan Firman menunggu cerita Bapak.
"Ibumu, adalah cinta pertama Bapak. Kami saling menyukai sejak kelas satu SMP. Tapi ternyata, Bapak harus menikah dengan perempuan lain diusia dua puluh tahun. Karena, perempuan itu sedang hamil sementara kekasihnya kabur melarikan diri."
"Kekasih itu apa sih?" bisik Melati pada Firman.
"Pacar, pacar!" ujar Firman mencoba menyuruh diam Melati dengan colekan tangannya.
"Ibu Farida adalah perempuan itu. Beliau adalah anaknya bos kakekmu. Dan Bapak dapat kerjaan dari Papanya Farida. Tapi perjanjian kami, menikah di atas kertas saja. Dan bercerai setelah anaknya lahir dan mendapatkan akta kelahiran dengan nama Bapak dan Ibu Farida. Tapi..., Ibu Farida menolak cerai. Ia ingin anaknya tidak kekurangan kasih sayang orang tua lengkap. Tapi, Bapak cinta Ibu dan sudah berjanji akan menikahi Ibu. Ibu sempat minta putus. Hubungan kita sempat bubaran waktu itu. Tapi,... Kakek Farid meninggal dunia dan amanat kalau Bapak harus menjaga Ibu setelah beliau wafat. Bapak dan ibu lalu menikah siri dihadapan jenazah Kakek Farid. Setahun kemudian lahirlah kamu. Kami beri nama Firman agar kamu tumbuh menjadi anak yang teguh pendirian dan bijaksana tidak seperti Bapak yang tidak bisa menjadi pria hebat untuk Ibu seorang."
Firman merenung dengan pikiran anak usia sebelas tahun yang belum mampu mencernanya dengan baik.
Tapi Ali, Ali faham cerita Bapaknya Firman.
Tiba-tiba,
"Rudiii!!!" pekik Ali dan langsung menangkap tubuh mungil itu yang nyaris melesat terbang ke bawah di saat bianglala kembali berputar agak lumayan kencang.
Semua melonjak kaget.
Terutama Ali yang basah kuyup tubuhnya dengan tangan mendekap erat tubuh Rudi.
Wusss
Wusss
Wusss
Wiiinggg wiiinggg wiiinggg
Dada Ali sakit sekali seperti terbetot masuk labirin dan,
"Meooong...! Meooong!"
"Hi_hitam?!"
Ali segera bangkit dari rebahnya di atas ranjang tidur.
Matanya kembali menerawang. Ia sudah kembali ke tubuh asalnya. Tubuh seorang pria berusia 19 tahun yang tinggal di rumah warisan Eyangnya. Tinggalkan Ibukota demi untuk sebuah tempat tinggal satu-satunya yang Ia dapatkan berupa warisan turunan Bapaknya.
Ali mengusap air mata yang tersisa. Masih hangat dan masih terasa dekapan tangannya memeluk Rudi, adiknya Firman.
Ia bersyukur, kematian Rudi tidak terjadi. Rudi tidak jatuh dari ketinggian puluhan meter karena insiden macetnya mesin bianglala yang hanya beberapa menit saja hingga wahana itu sempat berhenti operasinya untuk diservis dahulu.
"Meooong!"
Si Hitam mengusap lembut wajah Ali. Seketika jantung Ali berdebar lebih kencang karena kucing itu seperti merespon kesedihan Ali di dimensi lain barusan.
"Hitam... Terima kasih banyak ya?! Entah bagaimana jika ketika Aku masuk rumah ini, tanpa kamu!" gumamnya sembari mengelus lembut kepala Hitam yang kini tak lagi menolak sentuhannya. Bahkan Hitam diam, seolah menikmati elusan Ali.
BERSAMBUNG
__ADS_1