MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KELIMA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Laila termangu duduk di depan Ali.


Penolakan Ali terdengar menyakitkan hati.


"Tolong, jangan salah faham, Laila. Kita masih teramat muda untuk menikah. Ditambah, kehidupanku tidak jauh lebih baik dengan keadaanmu saat ini. Kalau kamu ingin minta perlindungan, carilah orang yang lebih baik, bukan diriku. Maaf..., Aku tidak punya kemampuan untuk mengurus dirimu. Bahkan untuk mengurus diriku sendiri, Aku masih belum punya kemampuan. Tapi..., kalau kamu ingin tinggal di kota Jakarta, Aku bisa menemanimu bernegosiasi dengan Papamu. Kamu bisa tinggal di Ibukota tanpa harus melakukan pernikahan pura-pura."


"Ali...! Aku ingin menikah, serius. Bukan pura-pura!"


"Maaf...! Tapi dimataku keputusan yang kamu ambil terlihat tergesa-gesa dan sangat jelas sekali sandiwaranya."


Laila menunduk.


Ali membuka semua kartunya.


Laila memang tidak benar-benar ingin menikah secepatnya juga.


Semua langkah yang ingin dia ambil, semata-mata adalah karena Papanya memberinya syarat. Yaitu, menikah dan ada Suami yang menjadi wali penanggung jawabnya selama tinggal di Ibukota.


Papa Mama tidak ingin mendapatkan karma karena melepaskan anak gadisnya begitu saja di kota besar.


Hidup lama di Ibukota, membuat mereka kian khawatir Laila akan terjerumus kedalam lembah nista jika tanpa panduan orang tua.


Dunia perkotaan teramat kacau balau.


Pergaulan serta lingkungan sekitar, tidak bisa dipercaya. Bahkan Laila bisa saja terbawa arus kehidupan modernisasi jika tinggal sendiri jauh dari orang tua.


Jika Laila menikah, Papanya lebih lega. Ada sosok laki-laki yang berstatus sebagai suaminya, yang akan mengurus Laila lahir batin dunia akhirat.


.......


Laila dan Ali menghadap Papa Mama Laila di rumah yang sudah di sita pihak perusahaan.


Hari ini mereka sudah putuskan untuk pindah ke pulau seberang. Tinggal beberapa jam lagi, orang tua Laila akan segera berangkat ke Lombok dengan kapal laut sekitar pukul sebelas siang.


"Pak, Laila Purnama ingin sekali tetap tinggal di Ibukota."


Ali memulai pembicaraan.


"Dengan siapa? Dan bagaimana nanti Laila hidup dan tinggal?"


"Saya akan,"


"Bertanggung jawab atas Laila? Sebaiknya kalian nikah siri saja. Lebih aman dan tidak akan ada fitnah nantinya!"


Ali termangu. Ternyata fikiran Papanya Laila juga se-simple itu.


Menikah, memang ibadah.

__ADS_1


Menikah diwajibkan bagi insan yang sudah dewasa, siapa lahir batin baik jasmani maupun rohani. Juga siap finansial dan hal-hal yang menjadi penunjang untuk hidup setelah berumah tangga.


"Saya..., tidak berani, maksudnya belum berani, Pak! Saya belum punya pekerjaan. Saya juga yatim piatu. Saya..., untuk makan sehari-hari sendiri pun saya tidak bisa menjanjikan sehari bisa makan tiga kali. Apalagi... kalau menikah. Tanggung jawabnya berat, Pak. Saya takut Laila tidak bisa..."


"Berarti kamu memang belum siap menanggung hidup putri saya. Saya tidak akan mengizinkan Laila tinggal di Ibukota sendiri. Laila..., ikut Papa!"


Ali terkejut, Laila merapatnya dan menggandeng tangannya dengan wajah memelas.


"Kita kan sudah berjanji untuk menikah setelah dapat pekerjaan. Ali...!"


Wajah Laila menatap Ali penuh pengharapan.


"Permisi, Pak... Saya, mau diskusi dulu dengan Laila."


Terdengar decakan Papanya Laila.


Keduanya melipir untuk berdiskusi seperti yang Ali bilang.


"La! Aku kan tadi sudah bilang..."


"Li! Tolong! Aku gak mau Papa nikahin sama bangkotan tua, atasannya di kota Lombok sana! Please..., andaikan Aku ikut pindah, hidupku pun akan mereka gadai menjadi istri muda Pak Gerry, pengusaha sukses di Lombok!"


Ali terlihat bingung. Laila membuka semua rahasianya.


"Aku, hanya minta bisa tolong sama kamu. Firman sudah tiada. Andaikan ada Firman..., mungkin Aku tidak harus memohon padamu seperti ini. Hik hiks hiks... Tolong...!"


"Jangan menangis, Laila! Baiklah...!"


Masa depan seseorang sedang dipertaruhkan di sini. Ali tidak mungkin tinggal diam.


Laila, yang awalnya dia kira telah berubah karakter dan kepribadian, ternyata memiliki beban berat kehidupan yang menghimpit hingga harus terlihat seperti perempuan yang gatal karena mendesak Ali untuk dinikahi. Rupanya...


Ali sedih, jiwa mudanya sempat terpancing alur kehidupan yang manipulatif dan seringkali berubah-ubah.


Kini Ia menyadari kembali, orang baik tak selamanya baik. Orang berubah jahat bisa jadi karena kehidupannya yang keras dan kerap memaksanya merubah diri.


Jangan menilai sampulnya saja, tapi masuklah kedalam psikologinya juga. Bisa jadi karena tekanan hiduplah yang membuat seseorang berubah menjadi pribadi yang menyebalkan.


Hari itu juga, sepertinya memang sudah jadi takdir Allah, Ali menikahi Laila dihadapan kedua orang tua Laila dan tiga kakak laki-laki Laila.


Sementara dari pihak Ali, hanya diwakili tetangga Laila dan ketua Rukun Warga yang menjadi saksi pernikahan siri dihadapan Amil serta ustadz setempat.


Kisah yang sama sekali tidak pernah Ali bayangkan. Tak pernah Ia prediksi sebelumnya, kalau akhirnya Ia benar-benar berjodoh dengan Laila. Gadis cinta pertamanya sejak masih sekolah dasar yang tak pernah bisa Ia raih hatinya karena ibarat Bumi dan Langit.


Kini, gadis berwajah cantik menawan dengan tubuh sintal itu duduk disampingnya. Berada dalam kerudung yang sama. Duduk manis dengan wajah tertunduk dan senyum tipis malu-malu kucing.


"Saya terima nikah dan kawinnya Laila Purnama binti Bapak Muhammad Hanafi dengan mas kawin uang sebesar seratus ribu rupiah dibayar tunai!"

__ADS_1


"Sah???"


"Sah!"


"Saaahhh!"


Seperti terbang jiwa Ali melayang. Usia dua puluh tahun Ia sudah melaksanakan ijab kabul sekali tarikan nafas dihadapan keluarga Laila.


Kini statusnya adalah seorang suami. Suami yang wajib bertanggung jawab sepenuhnya terhadap jiwa raga Laila Purnama. Lahir batinnya, dunia dan bahkan akhiratnya juga.


Ali meneteskan air mata, teringat Bapak Ibunya yang telah tiada.


Walaupun pernikahan itu seperti sebuah kesepakatan saja, tetapi berjanji di depan Amil penghulu, wali nikah dan para saksi, dan Allah SWT tentunya, menjadi beban tersendiri bagi Ali.


Ada ketakutan luar biasa jika Ia tak bisa menjadi penanggung jawab yang baik. Tapi mau bagaimana lagi, hidupnya sat set sat set seperti ini. Begitulah Kehebatan Allah. Ali yang seorang pria yang baru beranjak dewasa, miskin, yatim piatu dan tak memiliki harta sepeserpun, tiba-tiba bisa menikahi gadis cantik yang dulunya Ia puja.


"Semoga nanti putraku tercinta menikahi gadis pujaannya dan hidup bahagia!"


"Hehehe..., kalau Ali nikah, Ibu bakalan terima istri Ali meskipun punya banyak kekurangan?"


"Ya iyalah. La wong pilihan putraku sendiri. Biarpun Aku Ndak terlalu suka, ya harus menerima. Harus bahagia dan mendoakan agar kalian bahagia. Hm... gadis yang seperti apa ya, jodohnya Ali nanti?"


"Yang cantik, manis dan senyumnya menawan meskipun Ali menikahinya tanpa mahar uang berjuta-juta, Bu! Hehehe..."


"Aamiin... Tapi, jaman kamu nikah nanti, pasti mahar buat calon mempelai pasti sudah belasan juta ya paling kecil. Hhh... kamu harus kerja keras, Le. Cari uang buat lamaran. Kira-kira, Ali nikah tahun berapa ya? Hehehe... Jangan-jangan, tahun 2023 awal! Hihihi..."


"Ibu?!? Yaelaah... masa' Ali nikah umur dua puluh tahun? Ya ampun, itu anak orang mau Ali kasih makan apa? Dedak? Dedaunan? Hehehe... Mana ada cewek yang mau nikah tanpa dibawakan modal usaha, modal uang!"


"Ada. Kalo Allah Berkehendak, hayo?!? Hehehe..."


Deg.


Ali terbangun dari mimpinya yang sedang bercengkrama santai dengan ibunya. Lebih tepatnya almarhumah Ibunya ketika dirinya masih berumur lima belas tahun kala itu.


Obrolan ngalir ngidul yang menjadi kenyataan kini.


"Ali?!? Kenapa?"


Ali terkesiap. Laila terbaring di sampingnya dengan berpakaian daster tipis berwarna merah menyala.


"Di_dimana kita?"


"Di rumah keluargaku. Tadi kamu sempat pingsan setelah ijab kabul."


"Hahh???"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2