
Dua piring nasi uduk ditambah dua potong tempe goreng, menjadi menu paling nikmat bagi pasangan suami istri yang baru sehari itu membangun biduk rumah tangga.
Sulit dibayangkan, usia muda dua puluh tahun menikah, tanpa pekerjaan, tak punya uang pula. Memikirkan hal itu seketika pusing kepala Ali.
Meskipun disampingnya ada Laila yang manis cantik sedang sarapan dengan lahap dan sesekali melirik dirinya mesra, namun otak logika Ali berputar keras.
Aku kini adalah seorang pemimpin. Seorang imam, kepala keluarga. Harus punya tujuan hidup dan arah yang jelas untuk masa depan. Bagaimana mungkin Aku dan Laila seperti ini terus-menerus, sedangkan hidup kian keras dan hidup butuh biaya.
Uang makan, kebutuhan sehari-hari, bahkan uang kontrakan perbulan, semua menunggu Ali dapatkan.
Makan di warung nasi uduk seperempat jam, lumayan murah karena masih terjangkau dan Laila mengeluarkan uang dua belas ribu rupiah untuk sarapan pagi mereka.
Entah bagaimana nanti makan siang, makan malam, dan makan-makan lainnya di hari-hari berikutnya.
"Kita harus keliling, cari kerja!" tukas Ali sesampainya di rumah.
"Aku, sebenarnya sudah seminggu ini kerja di cafetaria dekat samping V night club."
Deg.
Jantung Ali berdegup mendengar penuturan Laila.
Pantas saja kau bersikeras untuk tetap tinggal di Ibukota. Ternyata...
"Di cafetaria, atau night club nya?" timpal Ali membuat Laila mendongak dan menatapnya tajam.
"Mengapa mengkotak-kotakkan pekerjaan? Apakah sehina itu bekerja sebagai pelayan?" ucap Laila sengit.
"Pekerjaan pelayan tidak hina. Sama juga seperti pemulung. Itu pekerjaan halal, selama tidak dicampur adukkan dengan pekerjaan haram."
"Maksudnya?"
"Hhh..., kamu tahu maksudku."
"Jadi kamu pikir aku kerja jadi pelayan cafe juga merangkap sebagai penjaja cinta?" seru Laila dengan nada bicara tinggi.
"Bisa saja kan, orang mulung nyambi nyuri barang orang disaat ada kesempatan?" kini Ali pun tak kalah sengit.
__ADS_1
Dua anak manusia yang ternyata memiliki kepala sekeras batu, sedang berdebat satu sama lain. Akhirnya berujung dengan helaan nafas kekecewaan.
"Bisa gak kita gak bahas hal pekerjaan yang melenceng? Karena jujur saja, Aku gak bisa terima kamu tuduh kerjaanku haram!"
"Aku gak nuduh, La,"
"Barusan itu apa?"
"Aku nanya. Kerja di cafetaria atau night club nya. Itu pertanyaan, bukan tuduhan."
"Karena memang benar Aku kerja di dua tempat itu!"
Bingo!
Ali tersentak. Bagaikan tersengat lebah tiba-tiba, jantungnya berdegup kencang.
Bagaimana bisa Ia menikahi perempuan yang bekerja di dunia malam yang Ia ketahui bagaimana kehidupan di sana.
"Demi Allah, aku cuma pelayan saja, Ali! Sumpah demi Allah! Ga ada nyambi ambil pelanggan dengan jalur eksklusif seperti pelayan yang lain!"
Teruslah berkoar, Laila! Akhirnya karakter aslimu kau buka sendiri juga tanpa harus Aku yang membukanya!
Tak ingin mengucapkan banyak kata lagi, karena pada akhirnya hubungan mereka akan semakin buruk nantinya.
"Kamu kecewa menikah denganku? Iya kan?"
Ali semakin pusing, suara Laila terdengar bising.
"Haruskah Aku berhenti kerja cari kerjaan yang cocokologi sama keinginan kamu? Iya?" tambahnya lagi.
Ali bungkam. Matanya menatap Laila.
Ada sebongkah kesabaran dalam hati yang menyeruak dan menyuruh otaknya untuk berfikir lebih jernih.
Tangan Ali mengusap rambut Laila.
"Kita sudah memulainya. Tentunya dengan nama Allah, hubungan ini bukan lagi hubungan main-main. Tapi satu hal yang ingin sekali Aku tekankan, marilah kita hidup dengan baik dan benar. Apa kamu akan mendukungku, La?"
__ADS_1
Laila mengangguk cepat.
"Aku akan berhenti kerja. Kita mulai dari awal bersama-sama. Jadi OB pun tidak mengapa. Asalkan kamu tetap berada di sampingku."
Harus senang atau sedihkah Ali menanggapi perkataan Laila.
Hatinya memang menghangat, tapi batinnya meremang karena terlalu banyak kejanggalan.
Laila, memaksanya menikah. Padahal mereka tidak pernah ada hubungan apa-apa kecuali persahabatan yang terjalin sejak masih kecil.
Ternyata Laila punya niat hingga bermanuver melakukan semua hal besar dalam hidupnya.
Ali bingung.
Antara bingung dan beruntung.
Bingung, karena belum tahu maksud tujuan Laila sampai bertingkah seperti ini kepadanya. Mengajaknya menikah dengan tiba-tiba meskipun gadis itu tahu siapa Ali Akbar. Pria yatim piatu yang sebatang kara bahkan tak punya harta apapun termasuk uang.
Beruntung karena ternyata Laila juga menerimanya paket lengkap termasuk melakukan hubungan badan tanda pernikahan mereka bukanlah main-mainan atau hanya sekedar di atas kertas akta nikah yang di buat pak Arifin selaku ketua RW tempat tinggal Laila dulu.
Ali membisu, Laila memeluknya erat.
"Kita harus secepatnya cari kerja. Maksudku, Aku. Kamu perempuan, Aku tidak menekankan kamu untuk bekerja mencari nafkah. Karena sekarang, Aku lah yang berkewajiban mencari nafkah untuk keluarga. Entah hasilnya bagaimana nanti, Aku tidak bisa berjanji banyak. Apalagi janji membahagiakanmu dengan harta. Maaf..."
Laila memeluknya lagi.
Kemudian melu+++ bibir Ali dengan penuh kasih sayang.
"Aku tidak salah memilih suami. Terima kasih, Suamiku. Terima kasih, ya Allah!"
Ali hanya bisa berdoa pada Allah, semoga hidupnya benar-benar bahagia.
Setidaknya dia tidak lagi sendirian meratapi nasib. Ada Laila yang setia dan selalu bilang "Jangan tinggalkan, Aku!" membuat hati Ali senang.
Dia telah dewasa. Bukan lagi remaja apalagi anak-anak.
Dia harus bisa tegas pada dirinya sendiri dan masa depan. Sistem Galaksi Kehidupan memberinya banyak pengajaran.
__ADS_1
BERSAMBUNG