MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEEMPAT PULUH DELAPAN


__ADS_3

Ali Akbar pulang ke rumah warisannya pukul enam pagi. Setelah mengikuti kultum dan sholawatan bersama beberapa jemaah yang mayoritas lanjut usia.


Ali sedih juga karena tidak melihat pemuda yang seumuran dirinya maupun yang dewasa sekitar usia 30-40 tahunan sholat berjamaah di masjid.


Teringat dirinya yang dulu. Sama seperti pria-pria yang kini ada dalam pikirannya.


Ali nyaris jarang sholat berjamaah masjid. Apalagi sholat Subuh.


Walaupun Ibunya berkali-kali memukul pant+tnya dengan sapu lidi bahkan kadang menjewer telinga sampai menarik bulu kakinya yang panjang, Ali jarang bangun menuruti Ibunya.


Kini Ia sangat rindu perlakuan Ibunya yang dulu selalu Ali anggap sebagai orang tua yang kejam melebihi kejamnya Ibu tiri.


Masjid yang megah, mewah dengan lantai marmer indah namun hanya ada beberapa orang jamaah saja yang bahkan tidak sampai dua saf penuh barisannya. Sungguh teramat miris. Membuat sesak dada Ali menerima kenyataan ini.


Tapi mau bagaimana lagi. Beginilah dunia masa kini. Baik di kampung apalagi di kota besar. Semua manusia sibuk berlomba-lomba untuk dunianya. Bukan akhiratnya.


Majelis kosong melompong. Kalaupun ramai, dipenuhi oleh manusia-manusia yang suka sekali membanggakan diri dengan Keimanannya yang dianggap jauh lebih tebal dibandingkan manusia lain.


Berpakaian serba putih seolah melambangkan hatinya yang bersih padahal suka mengkafir-kafirkan hamba Allah yang lain hanya karena tidak sealiran.


Hhh...


Ali membuka kunci gembok pintu pagarnya.


Seperti berhari-hari Ia meninggalkan rumah besar itu. Bahkan kini Ali sangat rindu dengan Pak Setan, Bu Susanah, Keti dan juga Pak Toha Kadus kampung ini.


Ali yang dulu seorang introvert yang cuek dengan segala keadaan, kini mulai merasakan kesedihan dan kesepian serta butuh teman-teman yang biasanya selalu ada mensupportnya selama ini.


Tempat pertama yang Ali datangi adalah kolam mata air yang baru Ia sadari kalau alirannya yang begitu jernih, dingin dan menyejukkan itu tak pernah berhenti.


Ia segera membuka pakaian dan nyebur masuk ke dalam kolam.


Kenangan bersama si Hitam seketika berkelebat di kepalanya. Ali merindukan semua masa-masa itu.


Dengan hati sedih, Ali mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.


Sunyi, sepi, tiada berkawan.


Apalah guna rumah besar dengan perabotan mahal. Hanya sekedar pemanis pandangan saja, tapi tidak bermakna dihatinya.


Ali rendevous masa lalunya di Ibukota.


Mengingat satu persatu momen indah yang dulu baginya tiada berharga, kini justru kenangan itulah peristiwa yang paling ingin Ia ulang kembali.


Masa kecilnya yang damai.


Sungguh indah tanpa beban dan belum punya pikiran banyak selain menangis, merajuk pada orang tua karena uang jajan yang tidak sesuai harapan.


Bermain sepuasnya di tanah lapang yang kala itu adalah ruang terbuka paling mengasyikkan karena beberapa tahun kemudian tanah lapang berubah fungsi menjadi bangunan. Dan Ali bersama kawan-kawan harus menyewa bangunan yang tetap disulap jadi ruang tertutup tempat main futsal.


Miris, tapi masih lebih mending karena bisa patungan buat bayar sewa ruangan untuk main bola sepak terbatas yang bisa dimainkan oleh lima orang termasuk kiper.


Kini, ketika dirinya bertambah dewasa, justru otaknya kian dipenuhi beban berat. Salah satunya memikirkan masa depan serta biaya hidup.


Memikirkan bagaimana caranya cari uang untuk esok dan apa langkah yang harus ditempuh agar bisa maju di masa depan bukan hanya hidup untuk mengisi perut yang lapar saja. Sungguh dunia orang dewasa sangatlah menakutkan.


Andaikan waktu bisa diputar ulang kembali,


Andaikan hidup bisa direwind menjadi kanak-kanak lagi,


Seketika Ali termangu dan merenung dalam sekali.


Ali berenang sedikit menuju kepala mata air. Menadahkan kedua telapak tangannya dan menyeruput air bening yang begitu jernih masuk ke kerongkongannya yang kering.


Beginilah hidup. Tuhan Maha Pengatur. Tuhan Maha Kuasa. Dan Tuhan Maha Berkehendak.


Hidup manusia telah diatur Sang Maha Pencipta. Sejak Ia masih berupa janin dalam kandungan, hingga akhirnya lahir ke dunia dan tumbuh dari bayi sampai dengan dewasa, semua ada fase-fasenya.

__ADS_1


Ali kini menyadari, kalau dirinya harus ikhlas dan berlapang dada menerima kenyataan hidup yang terus berjalan dan berkembang.


Tidak mungkin tetap diam di tempat.


Tidak mungkin terus kanak-kanak.


Tidak mungkin tidak ada kemajuan juga perubahan.


Setiap insan manusia ada saatnya berubah.


Berubah menjadi lebih dewasa dan bijaksana. Berubah menjadi lebih mengerti artinya hidup di dunia ini.


Walau pada akhirnya semua tergantung waktu.


Tergantung masa kapan manusia itu mampu berfikir memahami dirinya sendiri.


Bukan dengan umur yang terus bertambah.


Bukan dengan semakin lamanya Ia hidup di dunia.


Bukan.


Tetapi ketika manusia itu menyadari kekuasaan Tuhan diatas segala-galanya. Dan Tuhan Maha Baik, tidak akan terus-menerus menguji umat-Nya melebihi batas kemampuannya.


Ini bukan soal umur.


Tapi ini soal arti keihklasan yang sebenarnya.


Ketika manusia berada di titik nadir. Setelah berlelah-lelah berusaha bahkan sampai banyak mengeluarkan keringat serta air mata, hanya tinggalkan kepasrahan tingkat tinggi. Ikhlas dengan hidup yang Tuhan atur untuknya.


Tidak lagi menyalahi takdir.


Tidak lagi menjelekkan nasib.


Karena sebaik-baik manusia, adalah yang mampu menerima qodo dan qodar yang Allah berikan untuknya tanpa penghakiman apalagi menyalahkan Tuhan.


Ia membuka pintu lemari yang berisi cermin ajaib.


Kini cermin itu benar-benar ada di hadapannya. Memantulkan siluet dirinya yang tengah berdiri mematung dengan mata menatap diri dengan tatapan kosong.


"Apa lagi yang Aku inginkan? Aku ingin merubah takdirku? Menghidupkan kembali orangtuaku? Temanku Firman, atau Keti yang konon adalah pendampingku di masa depan? Apakah Aku akan hidup bahagia juga pada akhirnya? Apakah itu yang selama ini Aku inginkan? Andaikan bisa Aku memilih, bisakah Aku ditakdirkan lahir dari orang tua yang lain? Yang kaya raya dan memiliki kekuasaan hingga hidup diatas pujian banyak orang? Apakah itu adalah definisi hidup bahagia?"


Ali bergumam sendiri.


Kini dirinya tidak lagi seantusias dulu.


Baru Ali sadari. Hari ini adalah tanggal 20 April. Tepat dua puluh tahun yang lalu dirinya dilahirkan oleh seorang perempuan yang sangat hebat.


Ali merasakan kesedihan yang mendalam.


Usia dua puluh tahun, hidup sebatang kara karena Bapak Ibunya telah wafat ketika usianya mau tujuh belas tahun.


Hatinya seperti teriris pisau. Sakit rasanya tapi dia sudah bisa menerima takdirnya kini.


Tuhan pasti punya rencana lain untuk hidupnya kelak.


Entah bulan depan, tahun depan atau mungkin sepuluh tahun kemudian.


Ali tidak tahu. Bagaimana dirinya nanti.


Kini dia hanya sedang berusaha berdiri di atas kakinya sendiri. Berdiri lurus dengan kepala tegak.


Hidup adalah perjuangan. Jangan pernah lupakan itu. Bahkan sampai matipun sejatinya setiap insan manusia tetap berjuang. Berjuang melawan dirinya sendiri akankah ingkar dengan kebesaran Tuhan dan kufur nikmat, atau kian bijaksana dan tambah semangat. Karena janji Allah dalam Qur'an surat Ibrahim ayat 7 yang berbunyi : (Ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku benar-benar sangat keras."


Ali menutup kembali pintu lemarinya hingga cermin ajaib itu kembali berada di tempatnya dengan aman.


Kini Ia melangkah keluar. Kembali menuju kolam, lalu berwudhu kemudian naik tangga loteng pergi ke ruang baca Eyangnya di lantai atas.

__ADS_1


Cahaya matahari pagi masuk menerobos jendela kacanya yang tak bergorden.


Ali membuka slot kuncinya dan mendorong keluar kaca jendela sehingga udara segar langsung masuk memenuhi rongga pernafasannya.


"Subhanallah... Maha Suci Allah yang telah menciptakan semua keindahan dunia ini!" gumam Ali yang hatinya kini dipenuhi dengan rasa syukur yang bertumpuk-tumpuk.


Syukur kepada Allah, karena sampai detik ini dirinya masih diberi kehidupan.


Syukur karena masih memiliki tempat tinggal yang lumayan besar.


Syukur karena dirinya tidak dalam kondisi kelaparan dan kedinginan walaupun berhari-hari tidak makan.


Syukur karena otaknya masih diberi kewarasan dan kesabaran dalam menjalani hidup yang tak menentu ini.


Syukur dan syukur, betapa banyak nikmat Tuhan yang nyaris Ia tidak sadari dan lupakan begitu saja hanya karena cobaan kehidupan yang menderanya.


Hingga tiba-tiba matanya tertumbuk pada buku besar bersampul biru dongker polos.


"Buku System Galaksi Kehidupan!" serunya dan langsung diraihnya dengan cepat.


Tapi Ali kemudian termangu.


Dibawah buku itu ada sebuah Al-Qur'an.


Ali meraih Al-Qur'an itu dan membacanya terlebih dahulu. Satu surat pembuka, surat Al-Fatihah. Dilanjutkan surat kedua, surat Al-Baqarah. Dibacanya perlahan sampai ayat terakhir.


"Sodakallaahul'adziiim..." kata Ali mengucap kalimat penutup dan menutup Al-Qur'annya lalu mencium sampul depannya dua kali sebagai tanda penghormatan.


Tring


Tring


Tring...


Buku System Galaksi Kehidupan seri kesatu tiba-tiba bersinar terang.


Jantung Ali berdesir kencang.


Matanya menatap nanar tak berani berkedip.


Apakah Aku akan kembali melakukan perjalanan waktu? Kemana ku harus pergi? Kisah sedih mana yang harus kuganti? Akankah ada lagi ganti kesedihan di cerita hidup yang berbeda? Ya Allah ya Tuhanku... tolong berikan Aku petunjuk-Mu! Andaikan boleh Aku memilih, Aku ingin sekali kedua orang tuaku hidup. Sahabatku Firman hidup. Juga Keti yang dipenglihatan masa depanku adalah istriku juga hidup. Tapi jika Engkau tidak menghendaki kisah sedih ku berganti, Aku ikhlas. Berilah Aku kekuatan untuk terus melangkah menjalankan hidup yang sudah Engkau tetapkan. Aku terima Qoda dan Qodar baik maupun buruk dari-Mu ya Allah. Sebagai ujian kehidupan untuk hidupku yang lebih baik pastinya di masa depan. Aamiin...


Syuuunggg syuuunggg syuuunggg


Wussss


Ali tersedot ke dalam lubang labirin besar Galaksi Kehidupan.


Dan kini...,


Jleg.


Dirinya berdiri di antara teman-teman yang wajahnya satu persatu familiar dan Ia kenali.


Ali, berada di sebuah tanah pekuburan. Dan sedang mengikuti prosesi pemakaman seseorang.


Ali terkesiap. Nafasnya sedikit sesak ketika matanya tertuju pada papan nisan tulisan tangan.


...FIRMAN HERMANSYAH...


...BIN...


...ANWAR SYAH ALI BABA...


Ternyata... Allah lebih menyayangi Firman ketimbang Aku. Semoga kamu tenang di alam barzakh sana, wahai kawan! Terima kasih, telah menjadi sahabat yang setia sampai mati. Sahabat baik hati yang selalu mendukung dan mensupportku bahkan ketika Aku sedang berada difase terendahku kala itu. Maafkan semua kesalahanku, kawan! Kumaafkan semua kekhilafanmu juga. Kelak kita akan bertemu kembali di Yaumul Qiyamah. Sebagai umat Allah yang berwajah penuh kebahagiaan. Aamiin...


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2