MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KEEMPAT PULUH DUA


__ADS_3

Trong trong...


Trong trong


Trong trong


Mereka memukul kentongan yang terbuat dari potongan bambu yang dibolongi bagian tengahnya.


Mata Ali membulat.


Cermin ajaib? Darimana Yadi tahu kalau Aku memiliki cermin ajaib? Apakah... dari Keti? Keti? Keti kemana Keti?


"Tunggu! Kalian mau apa???"


Ali menahan Yadi dan beberapa sesepuh yang mulai mendorong tubuhnya, memaksa masuk gerbang rumah besar Eyang Toro.


"Biar kita selesaikan semua sekarang juga!"


"Apa maksudmu? Keti mana? Si Hitam mana?" Ali mulai was-was. Ia tak melihat keberadaan si kucing hitam yang adalah jelmaan Keti, putri dari Asilah dengan Embah Kandut.


"Keti... tidak ada! Keti meninggal dunia bukan? Kau lah yang menyebabkan kematiannya!"


Ali terkejut. Mulutnya menganga dan matanya melotot menatap lekat wajah Yadi yang datar.


Apakah karena Keti ikut masuk ke dimensi cermin ajaib, lalu Keti beneran meninggal dunia di kehidupan yang ini???


Ali tidak mengerti.


Hingga tiba-tiba, Ali seperti mendengar suara seseorang mengatakan sesuatu.


"Jangan kamu percaya ucapan mereka, wahai keturunanku! Jangan sampai mereka masuk dan mengetahui keberadaan cermin ajaib! Mereka mencari cermin ajaib itu untuk memasuki system Galaksi Kehidupan. Mereka ingin mengubah takdir sesuai seperti yang mereka inginkan! Jangan sampai hal itu terjadi, Ali. Karena jika sampai terjadi, maka hancurlah dunia ini. Dunia kacau balau, kejahatan merajalela karena semua orang bisa memanipulasi kehidupan mereka!"


Deg.


Jantung Ali serasa dipukul palu besar.


Ternyata firasatnya benar. Ada sesuatu yang tidak beres yang terjadi di kampung Kandut ini. Dan ternyata, sepertinya ada rebutan cermin ajaib yang jadi media system Galaksi Kehidupan antara Eyangnya dengan Mbah-nya Yadi, Embah Kandut.

__ADS_1


"Aku melarang kalian memasuki rumah Eyangku!!!" seru Ali dengan suara lantang.


Semua diam sesaat. Bahkan suara kentongan juga ikut terdiam. Hanya cahaya obor yang sesekali meliuk-liuk kena terpaan angin malam yang dinginnya mulai menyesap.


Yadi menghampiri Ali.


Ia menarik kerah baju Ali seraya bertanya, "Siapa kau? Apa kapasitasmu di kampung ini?"


"Aku adalah Ali Akbar, putra Agus Kurniawan anak satu-satunya Eyang Toro yang terselamatkan!"


"Apakah ada bukti? Bisa jadi kau hanyalah gelandangan miskin yang tidak punya tempat tinggal, kemudian mengarang cerita seolah kau keturunan Eyang Toro! Bisa saja kan?"


"Aku punya surat sertifikat rumah ini dan surat hibahannya tertuliskan nama bapakku sebagai pewaris tunggal rumah ini. Aku tidak bohong!"


"Mana? Mana buktinya? Dia ini orang kota! Orang kota pandai membual!"


"Bukankah Embahmu dulu juga berasal dari kota? Dia datang ke sini dan juga membual pada penduduk desa? Begitu maksudmu, Yadi?"


Perang mulut terjadi.


Seorang sesepuh desa yang seumuran Kadus Toha menengahi keduanya.


"Baik. Aku bisa tunjukkan!"


"Ayo!!!"


"Tunggu!!!... Aku tidak memperkenankan kalian semua ikut masuk! Cukup bapak ini saja yang mendampingiku ke dalam!!!" seru Ali membuat Yadi cengkat.


"Apa?!? Kami adalah penduduk asli desa ini! Tak pantas kau melarang kami yang jauh lebih lama tinggal di desa ini!"


"Apakah telingamu masih kurang jelas? Atau otakmu tumpul hingga tidak memahami tata krama? Meskipun kau asli desa ini, tetapi rumah ini adalah kawasanku. Jika aku melarang siapapun masuk ke dalamnya, itu adalah kekuasaanku. Mutlak dan bahkan jika Aku memukulmu dengan tuduhan masuk ke rumah orang tanpa permisi, Aku akan dibebaskan dari tuduhan yang memberatkan!"


Sesepuh itu menahan Yadi dengan tangannya.


"Yang dikatakannya benar. Tunggu sebentar. Jika dalam waktu dua puluh menit Aku tidak keluar, kalian bisa merangsek masuk!"


Ali memperhatikan satu persatu wajah-wajah serius pada pria yang mengelilingi Yadi.

__ADS_1


Sepertinya mereka adalah para pengikut setia Embah Kandut.


Ali masuk ke dalam rumah. Mengambil tas ranselnya dan langsung menunjukkan bukti kuat kalau dia memanglah keturunan Eyang Toro.


"Kartu pengenalmu? Akta kelahiran dan Kartu Keluarga?"


Surat-surat kelengkapan Ali perlihatkan kepada sesepuh tersebut. Hingga beliau tak lagi bisa berkata apa-apa selain mengangguk mengiyakan.


Mereka keluar tak lama kemudian.


"Pemuda ini asli putra Agus Kurniawan. Agus adalah putra bungsu Eyang Toro yang hilang dibawa pergi putri Pak Hayuh setelah Asilah dan Marsinah datang!"


"Hm..."


Semua menatap Ali dengan tatapan bermacam-macam. Ali berusaha abaikan itu, karena bisa membuat down jiwanya.


"Ali! Ini adalah malam satu suro. Malam yang selalu kami agungkan setiap tahunnya dengan melakukan ritual-ritual cuci diri dan cuci benda-benda keramat. Karena kamu adalah orang kota yang pastinya tidak mengetahui adat istiadat serta tata krama di kampung ini, biar kami jelaskan terlebih dahulu."


Ali mendengarkan dengan seksama perkataan sesepuh yang barusan ikut masuk rumah Eyang Toro untuk memeriksa surat-surat Ali.


"Eyangmu memiliki banyak senjata keramat. Dan sudah terbiasa bagi kami memandikannya setiap tahun, bahkan meskipun rumah ini belum kami huni sebelumnya!"


"Kalian terbiasa masuk rumah orang meskipun rumah itu tidak ada penghuninya?" tanya Ali menyelidik. Terdengar agak songong memang, membuat sesepuh itu sedikit kesal.


"Dengar, hai anak muda! Di kampung ini, semua wajib memandikan benda-benda keramatnya setiap malam satu suro! Wajib! Karena jika tidak, maka akan ada kejadian musibah atau bencana yang muncul."


"Hm. Jadi setiap tahun malam satu suro kalian datang ke rumah ini? Mengobrak-abrik isi rumah yang kalian anggap keramat dan memandikannya? Bukankah itu perbuatan yang kurang baik dan terkesan seperti lelucon saja?"


"Hei! Tengilnya bocah ini!" Yadi meradang.


"Itu semua demi untuk menjaga keselamatan para penduduk desa tentunya! Dan bukan saja rumah Eyang Toro, tapi semua rumah kosong yang disinyalir ditinggalkan penghuninya begitu saja!"


"Apa kalian menemukan benda-benda keramat itu? Lalu, apa yang kalian perbuat jika tidak menemukan?"


"Kami terbiasa mengepretkan air suci yang dicampur kembang tujuh rupa ke segala penjuru rumah! Karena tidak mungkin bisa menemukan benda-benda itu dalam kondisi rumah kosong bertahun-tahun dan kotoran menumpuk. Sekarang, kamu pasti membereskan semua sampah bukan? Pasti kamu sudah mengetahui satu persatu kamar Eyangmu, tempat menyimpan benda-benda keramatnya. Eyang Toro pasti memiliki banyak benda keramat termasuk cermin ajaib yang sudah lama kami cari. Cermin yang Mbah Kandut dapatkan dari tapa patigeni nya puluhan tahun lalu. Tetapi cermin itu diambil paksa Eyang Toro lewat tirakatnya sebelum Bapak dan Nenekmu kabur meninggalkannya!"


Kini Ali mulai menyambungkan benang merahnya.

__ADS_1


Ternyata cermin ajaib itu justru milik Mbah Kandut! Dan ternyata Eyangku lah yang mencurinya karena sangat berbahaya sekali cermin ajaib medium system Galaksi Kehidupan jatuh ke tangan orang yang salah. Ternyata begitu rupanya! Dan kini mereka semua sama-sama menghilang karena berada di dimensi dunia lain. Di galaksi kehidupan yang lain, yang tidak semua manusia awam mengetahui. Dan itu bukan alam lelembut yang orang bilang alam makhluk astral, karena orang-orang itu masih hidup. Hanya terjebak pada system Galaksi Kehidupan yang mereka gunakan lewat cermin ajaib!


BERSAMBUNG


__ADS_2