
Ali tersentak.
Ia bangun dari rebahnya karena gendang telinganya menangkap suara tangisan bayi yang sangat jelas sekali.
"Oaaa oaaa oaaa..."
"Huaaa..."
Ada bayi dan seorang anak perempuan sekitar umur empat tahun juga duduk disampingnya. Keduanya menangis keras.
Spontan Ali bangkit dan meraih bayi yang tergoler sambil menghentak-hentakkan kaki itu.
Satu tangan Ali juga merangkul bahu anak perempuan yang satunya.
"Adik manis, kenapa menangis?"
Anak itu terus menangis sambil menyerahkan sepucuk surat kepada Ali.
...Dari Keti, istri yang kau lupakan...
Deg.
Jantung Ali berdenyut kencang.
Keti? Istri yang kulupakan?
Ali menatap wajah anak perempuan manis yang menangis itu.
"Mamaaa, huaaa... Mamaaa! Papaaa, mamaaa..."
Tentu saja Ali gugup mendengar sang bocah mengucapkan kata Papa, Mama.
Ia menoleh ke arah lemari kaca dan tersentak lagi.
Wajahku!?! Aku... sudah sedewasa ini? Berapa umurku sekarang? Hahh??? Tahun 2034?
Ali menaruh bayi yang ada dalam dekapannya di atas kasur. Lalu bangkit dan mendekati kaca cermin di lemari juga menghampiri kalender yang menempel di dinding.
"Tahun 2034!!!" serunya kaget sekali.
Ali melalap semua gambar foto yang ada di dinding.
Foto-foto dirinya bersama Keti. Semuanya indah dan begitu mesra terlihat.
"Keti benar-benar jadi Istriku ternyata!" gumamnya sembari menatap lekat wajah manis cantik yang ada di sampingnya itu dalam gambar.
"Keti..."
Bahkan Keti juga mem-figura foto Ali yang sedang terlelap tidur dipelukannya.
Ali tersipu malu-malu.
Matanya menoleh ke gambar yang lain.
"Cantiknya istriku!" gumamnya lagi.
Ali seolah tuli dengan suara tangisan dua anak yang ada di atas ranjang tidur.
Masih ingin menikmati keindahan romansa rumah tangganya bersama Keti lewat foto-foto yang terpampang di dinding.
__ADS_1
"Ke_keti sedang hamil!" serunya dengan suara tertahan.
Ali langsung bergegas menuju ranjang dan mengambil surat yang diberikan anak perempuan itu.
Mas...
Aku pergi. Titip Alya dan Kiano. Jaga anak kita baik-baik. Bilang pada Mbak Laila, jangan jahat pada anak tiri, meskipun kalian akan punya anak sendiri nantinya. Aku... sudah memasrahkan hubungan kalian jika tidak bisa lagi dipisahkan.
Selamat tinggal. Semoga kau dan Laila bahagia. Aku turut mendoakan. Jangan sia-siakan anak-anak.
Wassalam.
Katrina
Slesss...
Kertas HVS yang hanya selembar itu jatuh ke lantai.
Ali tersadar.
"Sayang..., Mama kemana, Sayang?"
Ali langsung meraih bahu anak perempuan yang masih menangis namun kini lebih pelan volume suaranya.
"Mamaaa... huaaaa..."
Ali menjenggut rambutnya sendiri.
Kesal pada dirinya sendiri.
Ia meraih bayi yang menangis dan menuntun pelan anak perempuan itu turun dari ranjang.
Berjalan perlahan karena menuntun anak sambil menggendong bayi.
Dua anaknya, menurut keterangan di selembar kertas HVS yang Keti tinggalkan untuknya.
Keti pergi! Dalam surat Keti bilang aku... selingkuh dengan Laila? Ya Allah..., benarkah ini? Kehidupanku di tahun 2034?!
Lagi-lagi Ali hanya bisa berdecak.
Ali menangkap sosok tubuh perempuan yang sepertinya juga hendak pergi keluar rumah karena dipinggangnya tersandang tas besar.
"Tunggu!"
"Pak Ali. Saya juga akan pergi, seperti yang Bapak perintahkan. Ini, saya hanya membawa pakaian yang saya bawa ketika datang dan bekerja di rumah ini bersama Bapak Ibu."
"Tunggu, Mbak! Bukan itu, bukan. Tolong jangan pergi! Tetaplah tinggal disini! Saya mohon, saya sangat membutuhkan Mbak untuk mengasuh bayi saya!" sela Ali seraya memberikan bayi yang digendongnya pada perempuan paruh baya yang disinyalir adalah asisten rumah tangga Ali dan Keti.
Perempuan itu terlihat kebingungan.
"Bapak...kan sudah memberikan saya pesangon semalam?" tanyanya linglung.
"Ambillah uang itu, tapi tetap bantu-bantu saya di sini. Ya? Maaf, Mbak namanya siapa?"
Tentu saja perempuan itu terlihat semakin bingung. Terlebih tuannya sampai menanyakan namanya segala seolah ini baru pertama kali mereka bertemu.
"Lala, Pak."
"Mbak Lala, tolong jangan pergi! Saya butuh sekali cerita Mbak tentang rumah tangga saya dengan Keti. Tolong ceritakan apa yang terjadi!"
Ali menuntun Lala dan juga gadis cilik yang adalah anak pertamanya dengan Keti.
"Sebentar ya Pak, saya buatkan susu dulu untuk Kiano!"
__ADS_1
"Oh iya, iya. Mbak, untuk si cantik ini juga ya?" timpal Ali sambil menunjuk Alya, putri pertamanya.
"Kaka Alya, sini, ikut Bibi." Ujar Lala membuat Ali agak lega.
Alya menurut mengekor Lala yang menggendong Kiano.
Ali menutup wajahnya dengan dua telapak tangan.
Bingung bercampur galau tak jelas hatinya.
Ali berusaha mengingat kalau Ia sedang bertarung melawan Yadi di kehidupan yang sebenarnya.
Lalu Ia berusaha melompat ke arah petir berharap bisa mengambilnya dan menjadikan senjata seperti si Gundala Putra Petir. Ternyata, Ia justru tersambar petir dan gosong.
Tidak seperti kejadian di kehidupannya yang lalu. Yang bisa menangkap petir dan merubahnya menjadi senjata tajam berupa keris panjang.
Kali ini ternyata tidak seperti itu.
Ali termangu dengan tangan menyangga di dagu.
Pikirannya mencoba menyusuri kisah demi kisah yang telah Ia lewati.
Dulu ia pernah menikah dengan Keti sedangkan Laila menikah dengan Anton Darmawan, teman Sekolah Dasar nya juga selain Firman.
Kala itu Laila yang nyaris meninggal dunia bersama Firman karena kecelakaan lalu lintas.
Laila kehilangan banyak darah. Anton datang bagaikan pahlawan untuk Laila. Sebagian darah yang mengalir di tubuh Laila adalah darah Anton Darmawan. Bahkan biaya rumah sakit yang beratus-ratus juta untuk pengobatan Laila, itu adalah bantuan Anton dan keluarganya juga.
Lalu kini,... dalam surat Keti menyebutkan kalau Ali dan Laila malah berhubungan di belakang Keti. Dan ketahuan selingkuh hingga Keti memilih pergi.
Selingkuh? Aku? Selingkuh dengan Laila?? Membiarkan Keti pergi padahal kita sudah punya dua anak sepasang yang cantik dan menggemaskan?
"Ya Allah!!! Bodohnya Aku!"
Ali menepuk-nepuk dahinya.
"Ma_maaf, Pak. Lala tidurkan Den Kiano dan Nona Alya."
"Tidak apa-apa, Mbak. Mbak Lala, tahu kemana kira-kira Keti pergi?"
"Mmm... kan pulang ke Surabaya. Ke rumah saudaranya Ibu, Tuan Yadi."
Yadi? Yadi??? Saudaranya Keti?
"Bisa minta alamatnya? Mbak Lala tahu?"
Lala termangu bingung.
"Kan Bapak...kerja bolak-balik Surabaya Jakarta, tempatnya Tuan Yadi?"
"Haish...! Aku amnesia, Mbak! Tolong berikan alamatnya kalau Mbak tahu!"
"Sebentar. Lala pernah lihat di buku jurnalnya ibu di meja kerjanya Bapak."
"Ya, ya sudah. Biar saya saja yang cari nanti. Mbak, saya titip anak-anak saya ya? Mbak Lala masih pegang uang kan untuk belanja kebutuhan makan?"
"Ada uang pesangon yang bapak beri semalam."
"Maaf, pakailah dulu untuk beli makan dan lain-lain. Nanti saya ganti setelah sudah berhasil bawa pulang Ibu ke rumah ini lagi."
"Bukannya, bapak mau menikah lagi dengan Nona Laila Minggu besok?"
"Apa???"
BERSAMBUNG
__ADS_1