
Toro mendatangi kediaman Hayuh dan meminta pertanggungjawaban Sang Mertua yang menjadi kepala koordinasi acara di hari kemerdekaan RI pada saat itu juga.
Tapi Hayuh berdalih kalau itu adalah kecelakaan yang bisa menimpa siapa saja.
Tak disangka, Hayuh justru terlihat santai padahal putri sulung mereka dari istri pertama meraung-raung menangis mendapati keempat anaknya pulang ke rumah dalam kondisi terbujur kaku karena tenggelam di danau desa.
"Dengar, Suminah! Kalian masih bisa mendapatkan keturunan lagi. Anak hanyalah titipan, yang pasti semuanya akan kembali kepada Sang Illahi."
Toro hampir saja menempeleng kepala Bapak mertuanya. Sangat enteng sekali mulutnya mengeluarkan kata-kata seperti itu.
Toro yang kadung membenci Hayuh membawa Suminah untuk hengkang dari kampung itu dengan membuka lahan baru untuk perkampungan yang baru.
Sebuah kampung baru yang jauh berada di pelosok.
Toro membangun semuanya dari nol bersama Suminah istrinya.
Setahun, dua tahun hingga lima tahun, ketekunan Toro membangun perkampungan membuahkan hasil.
Pemerintah memberikan nama Kampung Baru sebagai salah satu desa hasil pemekaran dan mendapatkan bantuan berupa pengaspalan jalan dari pusat serta perusahaan aspal yang tertarik untuk membuka cabang disana karena Kampung Baru memiliki prospek bagus sebagai kampung industri nantinya.
Kandut yang mendengar pencapaian Toro di kampung baru yang Ia sebut kampung antah berantah karena jauh dari perkampungan normal tentu saja menjadi geram.
Kandut membabat Kampung Baru dengan mengadakan pemilihan dua kampung dijadikan satu dengan mendekati para pamong praja serta sesepuh-sesepuh kampung di tempat Hayuh berkuasa.
Mengingat Kampung Baru hanyalah terdiri dari puluhan Kepala Keluarga saja, jadi pihak aparatur negara setempat pun mengizinkan desa Sepadan mengambil alih Kampung Baru dan mengadakan pemilihan kepala desa berikutnya.
Toro yang benar-benar kesal karena usahanya lima tahun ini disabotase kembali oleh Kandut akhirnya menjadi oleng juga.
Dendamnya berubah menjadi kesumat.
Saat itu, usia Agus putra bungsunya masih delapan tahun.
Toro pun mengambil langkah mengibarkan bendera perang pada mertua serta adik iparnya itu karena kekesalan yang berubah menjadi kobaran bara api yang siap melalap siapapun.
Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, Toro membuat skenario.
Ia meminta Suminah untuk pergi jauh dari Kampung Baru membawa Agus serta.
Suminah tidak ingin meninggalkan Toro.
Baginya, hidup dan mati adalah Kuasa Allah SWT. Ia ingin selalu mendampingi Toro meskipun apa yang terjadi.
Tapi Toro ingin Suminah menuruti perintahnya karena terlalu bahaya untuk anak istrinya tinggal berdekatan dengannya saat ini yang sedang dipenuhi amarah tinggi.
Toro mengusir Suminah dengan kata-kata kasar. Mengatakan kalau Suminah adalah keturunan dari orang tua yang tidak punya hati nurani. Orangtua yang berubah menjadi iblis. Dan kemungkinan besar dirinya yang mengalir darah Iblis lama-lama pun bisa ikutan menjadi iblis.
Tentu saja kata-kata itu membuat Suminah sakit hati dan pergi membawa Agus sampai ke kota besar.
Toro yang sebenarnya sangat menyayangi anak istri, tidak tega membuat Suminah terluka hatinya.
Tapi ini Ia lakukan demi keselamatan orang-orang yang Ia sayangi juga.
__ADS_1
Kandut berhasil menjadi kepala daerah.
Kampung Baru dirubah namanya menjadi Desa Kandut, seperti nama kepala desanya yang berkuasa saat ini.
Warga kampung baru dihasut hingga mereka menjadi benci kepada Toro, sesepuh dan pendiri kampung baru.
Kandut mencoba mengambil hati warga sana yang makin berkembang memiliki seratus lebih kepala keluarga.
Ia juga membangun masjid besar di depan jalan raya depan rumah Toro. Alasannya adalah supaya Toro selalu kepanasan setiap mendengarkan azan.
Justru ilusi sihir yang dibuat Kandut menjadi kebalikan.
Toro yang terbiasa mengaji, membaca kalam Illahi justru dituduh memiliki ilmu hitam yang sangat berbahaya bagi keselamatan jiwa para penduduk sekitarnya.
Toro masih melakukan tapa Nyepi di dalam rumah besar yang Ia bangun pula tembok tinggi sebagai pagar pembatas agar orang-orang tidak bisa melihat masuk kegiatannya di dalam rumah.
Toro masih tirakat selama empat puluh hari kedepan. Meminta bantuan Allah lewat karuhun-karuhun nenek moyangnya yang diperantarai oleh roh Ajie Pangestu, almarhum Bapaknya.
Hingga suatu hari...
Seorang perempuan seusia Suminah datang membawa anak perempuan cantik berkulit putih pucat. Bahkan rambut dan bulu-bulu alis, bulu matanya pun berwarna putih.
Marsinah namanya dan Asilah nama putrinya.
Di kampung itu, baru pertama kali ada orang yang berkulit albino. Sehingga Marsinah justru menjadi bully-an warga setempat.
Toro seorang pria yang suka sekali membaca buku bahkan memiliki ruang perpustakaan sendiri di dalam rumahnya mengetahui kalau Asilah putri Marsinah bukanlah makhluk asing atau manusia kutukan.
Toro mencoba melindungi kedua perempuan beda umur itu atas nama kemanusiaan setelah selesai melakukan tirakatnya. Dan mengajak keduanya tinggal di rumah besarnya.
Toro yang sudah boleh mengeluarkan emosi dan juga kekesalan hatinya mendatangi kediaman Hayuh dan Kandut.
Saat itu, hujan turun dengan derasnya.
Petir menyambar bersahutan seperti berada tepat di atas kepala.
Toro berjalan keluar pukul sembilan malam, mendatangi rumah besar sang Mertua di kampung sebelah.
"Hayuh, Kandut! Keluarlah! Keluar lawan Aku!!!"
Teriakan Toro menggelegar.
Nyaris sama kerasnya bagaikan petir dan kilat di langit yang gelap.
Hujan deras tak menjadi penghalang bagi Toro.
Kandut tersenyum menyeringai.
Kepuasan batinnya mencuat melihat Toro yang kalah telak oleh gerakannya yang super cepat.
Toro bahkan seperti tak punya nyali membiarkan Kandut dan tak melawan sampai akhirnya kursi jabatan kepala daerah berhasil Kandut duduki.
__ADS_1
Padahal, Toro sedang mengasah kemampuan ilmu kebatinannya lagi. Karena Ia sadar, dirinya bukan terlahir sebagai manusia yang berkemampuan tinggi. Namun Toro yakin, Allah akan memberinya kesempatan dan kekuatan jika dirinya rajin berlatih dan fokus konsentrasi dengan tetap berpegang teguh kepada tiang agama serta pondasi keimanan yang tetap mengagungkan Allah Ta'ala sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
Jeleggerrr
Jeleggerrr
Sreeek!!!
Hayuh dan Kandut terkesiap.
Toro berhasil mengambil petir yang menyambar menjadi sebuah senjata berbentuk petir kecil memanjang di tangan kanannya.
Sesekali senjata itu bersinar terang laksana kilat petir yang menyambar.
Kandut mengucek kedua bola matanya.
Petir seketika hilang tinggal hujan deras yang masih mengguyur.
"Mari kita bertanding layaknya kesatria jantan! Jangan terus melakukan hal yang biasa dilakukan para pecundang!" seru Toro laksana petir yang menggelegar.
Kandut masih bisa tersenyum lebar meskipun hatinya mulai ketar-ketir karena ilmu Toro rupanya semakin tinggi hingga mampu menangkap kilatan petir menjadikannya senjata di tangan.
"Jangan jadikan warga sebagai korban dan tumbalmu untuk mencapai tujuan! Mari lawan Aku langsung saat ini juga! Siapa yang menang, dia boleh menguasai segalanya!"
"Hehehe... Toro, Toro! Tak kusangka kau berani juga mengajakku duel setelah penduduk kian benci dan menjauhimu yang jelas-jelas memiliki ilmu hitam!"
Satu persatu warga berdatangan ingin menyaksikan pertandingan seru antara dua orang pintar ilmu kebatinan.
Selama ini, mereka hanya melihat lemparan bola api yang beterbangan di malam hari. Saling melayang menuju kediaman kedua orang yang disegani di kampung mereka ini.
Kandut memang setiap malam menggempur kediaman Toro dengan banaspati. Berharap pria itu mati dimakan setan Kober yang Ia kirimkan lewat ilmu teluhnya yang sudah Ia kuasai sedari muda.
Tapi bola apinya selalu kembali ke kediaman Kandut juga Hayuh. Yang orang-orang lihat seperti bola api yang beterbangan di malam hari.
Toro yang sedang melakukan tirakat saat itu tentu saja memiliki kekebalan tubuh yang luar biasa sehingga kiriman teluh itu tidak mempan menembus rumah apalagi tubuhnya.
"Aku tahu, sebenarnya ilmumu tidak setinggi bualanmu! Kau penjilat ulung selain punya bekingan persekutuan para iblis! Sudah pasti orang awam melihatmu sebagai orang yang berilmu tinggi. Padahal...,"
"Jangan banyak bacot! Mari kita bertanding dengan benar di malam satu suro!" sela Kandut yang sebenarnya sangat takut sebab malam ini ia sedang tidak siap sama sekali.
Ditengah derasnya hujan, Kandut ternyata baru saja melakukan sebuah dosa besar yang berhasil membuat kekuatan tubuhnya melemah.
Kandut, baru saja... memperK+sa Asilah yang berhasil Ia culik ketika baru pulang mengaji di masjid yang tak jauh dari rumah Toro.
Perbuatan yang biadab.
"Kenapa harus menunggu malam satu suro? Mengapa kau tidak berani duel denganku malam ini juga? Kau takut?" sindir Toro membuat Hayuh mengambil alih pertikaian antara kedua menantunya itu.
"Aku yang menjadi wasit pertarungan kalian! Toro, Kandut... Malam ini adalah malam kesempatan kalian untuk saling mengasah lagi. Dan dua hari lagi, kita bertemu di lapangan alun-alun dengan berbagai persiapan. Jadi, kalian berdua dalam posisi yang siap. Sehingga keduanya sportif hingga bisa menentukan siapa pemenangnya!"
Toro yang tadi amarahnya sudah diubun-ubun, menerima tantangan itu. Dan kembali menahan diri untuk menghabisi Kandut malam ini. Semua karena dirinya masih memandang Hayuh sebagai Bapak kandung Suminah, Istri Toro Margens.
__ADS_1
Toro tidak tahu, Marsinah dan Asilah ternyata sedang menangis berduaan di rumah besar Toro meratapi nasib atas ujian kehidupan yang pahit dari Tuhan Yang Maha Esa.
BERSAMBUNG