
"System Galaksi?!?"
Ali dan Keti membaca tulisan di lembaran berikutnya dengan berbarengan dan intonasi tanda tangan.
Keduanya kembali bertatapan.
"Apa...Cermin Ajaib yang ada di kamar termasuk dalam system ini?"
Ali dan Keti kemudian beranjak dari duduknya. Berjalan perlahan turun melewati anak tangga yang terbuat dari papan kayu jati.
Ali lebih dulu turun dan Keti mengekor dibantu Ali.
Keduanya kini terlihat semakin akrab bahkan sudah seperti sepasang kekasih meskipun belum terdengar kesepakatan hubungan. Saling berpegangan tangan erat seolah tak ingin menjauh dari satu sama lain.
Kini Ali membuka pelan pintu kamar utama dan menatap seksama lemari pakaian jati asli yang kokoh berdiri di hadapan mereka.
"Tunggu!"
Ali menoleh ke arah Keti yang kembali membuka buku tebal yang menjadi penuntun mereka ke kamar.
"Siapa tahu ada petunjuk!"
Ali mengangguk setuju dan membantu Keti dengan menahan bagian bawahnya agar gadis imut itu tidak lagi kesusahan untuk membuka lembaran berikutnya.
Sringgg
Seperti ada bubuk sihir yang berwarna keemasan mengiringi hempasan lembaran baru dan tertulis sebuah kalimat.
..."Alam semesta ini adalah ciptaan Allah SWT. Sengaja diciptakan untuk tempat para makhluk berkumpul, mencari keridhoan Allah Ta'ala. Semua umat telah memiliki jalan yang sudah ditetapkan. Lengkap dengan nasib dan takdir yang sudah digariskan. Untuk itu tetaplah berpegang teguh kepada Al-Qur'an dan hadits."...
..."Janganlah bersedih, ketika Allah memberimu ujian kehidupan. Bisa jadi ujian dan cobaan yang kau anggap sangat berat itu justru Allah berikan untuk meningkatkan kadar kualitas keimananmu serta bermaksud meninggikan derajatmu."...
QS. Ar-Ra'd Ayat 28 :
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
Ali dan Keti menghela nafas berbarengan.
Kini lembaran berikutnya adalah,
..."Jangan lupa surat pembukaan. Bacalah dan bacalah selalu sebagai pengingat kita kepada Allah Ta'ala. Bersyukurlah atas segala rahmat-Nya. Dia-lah Sang Maha Pencipta, yang memiliki hari pembalasan. Tempat berlindung dari segala pelindung. Yang akan selalu menunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalan yang Dia ridhoi."...
Kini Ali mulai faham.
Ia memiliki firasat jika hendak mendapatkan petunjuk yaitu dengan membaca Qur'an surat Al-Fatihah terlebih dahulu sebelum membuka pintu lemari agar cermin ajaib yang berada di bagian dalamnya bisa kembali Ia lihat.
"Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin. Ar-Rahmanir Rahim. Maliki yaumiddin. Iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in. Ihdinash shirathal mustaqim. Shirathal ladzina an'amta 'alaihim ghoiril maghdzubi 'alaihim waladldlallin."
Ali membaca surat Al-Fatihah dengan suara lantang. Keti mengikuti pelan.
Tiba-tiba...
Seperti cahaya yang bersinar dari dalam lemari. Kian terlihat semakin terang dan Ali mem membukanya dengan jantung berdebar.
"Ada!"
Ali berseru kegirangan.
Keti tersenyum setelah melihat wajah Ali yang sumringah karena firasatnya benar.
Kini ada pantulan wajahnya dan juga pantulan wajah cantik Keti di dalam cermin kaca.
Pasangan yang serasi.
Ali tertegun, dirinya terlihat semakin dewasa dengan wajah yang manis rupawan.
Ali kembali tidak percaya pada penglihatannya. Seperti merasa dibohongi oleh cermin ajaib yang menampilkan visual keren padahal aslinya jauh berbeda.
__ADS_1
Hingga tiba-tiba cermin ajaib berputar-putar membentuk galaksi dan terbuka seperti lorong pintu sebuah labirin.
Tapi kali ini, tidak terasa tubuh Ali yang akan tersedot melainkan seperti menunggu. Menunggu Ali untuk masuk sendiri kedalamnya dengan hati tulus ikhlas mengubah nasibnya.
"Al-Fatihah, Ali!" seru Keti membuat Ali menoleh dan kembali membaca surat Al-Fatihah dengan suara lantang.
Tangannya meraih jemari Keti.
Entah mengapa, Ia ingin sekali membawa Keti bersamanya melakukan perjalanan menembus lorong waktu.
Sringgg
Sriiinggg
Sriiinggg
Mereka berdua kini kembali bersama.
Saling menggenggam erat tangan masing-masing yang basah keringat dan dingin karena rasa cemas yang berlebih.
Hingga,
"Meooong..."
Ali terkesiap.
Keti berubah menjadi si Hitam kembali dan sedang ada dalam dekapannya.
"Keti?!?"
Krosak-krosak.
Sontak Ali bersembunyi. Terdengar suara langkah kaki yang bergesekan dengan daun kering rerumputan di halaman sebuah rumah yang tidak Ali kenal.
"Laila ga terima Papa punya istri lain!!!" pekik seseorang yang suaranya sangat Ali kenal.
"Laila?!?" gumam Ali sambil mendekap tubuh Keti semakin erat.
"Mana ada nikah lagi alasannya kemanusiaan!?! Papa jahat! Papa sama sekali gak peduli perasaan Mama!!!"
Laila berteriak keras. Memaki dan menghardik orang yang selama ini begitu Ia sayangi.
Ali mengintip dari balik pohon besar.
Laila dan Papanya sedang bertengkar hebat. Keduanya saling mengungkapkan alasan dan berusaha membuat lawan bicara menerima kekalahannya.
Ali hanya diam tak bergeming.
Ini adalah permasalahan keluarga. Tidak mungkin Ia masuk dan turut campur pula karena tak ada kapasitasnya sama sekali.
Hingga Laila menangis dan Papanya hanya bisa mengusap bahunya lembut seraya membujuk agar putri tunggalnya itu ikut masuk ke dalam rumah. Kembali berdiskusi dengan keluarganya yang lain termasuk Mama dan dua kakak laki-lakinya yang masih ada di dalam sana.
Laila menolak. Ia hanya berkata ingin tetap berada di luar. Work out karena pembicaraan diantara mereka sudah tidak sehat lagi. Begitu katanya.
Ali memperhatikan dalam diam.
Selintas terlihat wajah Laila yang berubah kian cantik dan makin dewasa.
Sepertinya usia mereka saat ini adalah usia yang lebih tua dari yang seharusnya.
Ali menatap dirinya sendiri. Mungkin saat ini usianya lebih tua sekitar tiga atau empat tahun dari sebelumnya.
Berarti, Aku saat ini sedang berada di masa depan? Berarti waktu itu juga bukan mimpi? Apakah ini memang jalan hidupku di masa mendatang? Tapi mengapa Keti malah harus berubah menjadi seekor kucing?
Setelah Papanya Laila Purnama masuk ke dalam rumah, Ali baru berani keluar dari persembunyiannya dan langsung menghampiri Laila yang berjongkok dengan wajah ditutup dua telapak tangan sambil terisak menangis.
"Laila..."
Laila menoleh.
"Ali?!? Ali..."
__ADS_1
Tanpa diduga Laila langsung berdiri dan berlari ke arah Ali dengan pelukan yang tak Ali duga.
Keti sampai melompat dari pelukan Ali karena terkejut dengan perlakuan Laila yang tiba-tiba meloncat merangkul Ali.
Tampak wajah Ali yang merah padam juga kebingungan.
Sudah bukan hal yang aneh jika seorang laki-laki akan mudah takluk oleh perempuan. Terutama perempuan yang dahulu pernah dipuji dan dipujanya.
Padahal baru saja Ali merayu Keti dalam wujud manusia, tiba-tiba kini Laila merangsek ke dalam pelukannya.
"Hik hik hiks...Ali!"
Ali hanya bisa mengusap lembut punggung belakang Laila. Ia tak bisa berkata-kata apa-apa selain menghela nafas panjang dengan tatapan mata menatap ke arah Keti yang juga tak berkedip menatap Ali.
Maaf, Keti. Maaf... Kenapa Aku merasa seperti sedang ter-gep selingkuh?!? Hhh...
"Papa akan melangsungkan pernikahannya dengan seorang perempuan yang menjadi korban tabraknya hingga kakinya cacat lumpuh. Aku tidak terima meskipun Mama dan dua kakakku pasrah. Tidak bisa begitu! Pertanggungjawaban Papa hanyalah sebagai seorang yang menabraknya, bukan sampai harus menikahi perempuan itu! Itu tidak adil untuk Mama!" tutur Laila membuat Ali mulai faham pada permasalahannya.
"Tapi perempuan itu juga jadi ditinggal kabur calon suaminya yang akan menikahi seminggu lagi karena kakinya jadi cacat, Laila!"
Mamanya Laila muncul. Wajahnya terlihat lelah, tapi pembawaannya cukup tenang. Mengisyaratkan kalau beliau telah memahami keadaan yang terjadi pada suaminya.
"Mengapa harus Papa yang menikahinya?"
"Karena Papa yang bersalah menabraknya dan membuat gadis itu cacat hingga ditinggal pergi calon suaminya. Ini untuk menyelamatkan nama baik keluarga gadis itu, Sayang!"
"Haruskah seperti itu?"
"Surat undangan sudah di sebar. Tidak mungkin juga untuk melakukan pembatalan pernikahan. Ini hanya sesaat saja. Setelah itu,"
"Mereka cerai? Apakah Papa akan setega itu melakukannya setelah resmi menjadi suaminya? Apakah tindakan Papa justru akan semakin melukai gadis itu yang hanya dinikahi sesaat saja? Itu hanya taktik Papa untuk menikah lagi! Laila yakin, Papa tidak akan tega mentalak perempuan yang sudah dinikahinya apalagi setelah lumpuh karena kecelakaan lalu lintas yang disebabkan Papa!"
Ali bingung. Ia tak bisa membantu permasalahan yang menurutnya pelik ini.
Ali juga mengerti Laila.
Apa yang Laila ucapkan juga ada benarnya.
Jika hanya menikahi sesaat untuk menutupi aib, lalu menceraikan setelah pernikahan terjadi, sepertinya itu justru akan semakin menyakiti hati korban tabraknya Papa Laila.
Ali merasakan dilema yang Laila juga rasa.
"Mama siap dimadu? Mama siap ditinggal Papa gilir padahal selama ini Papa selalu pulang tiap hari tiap malam?"
Pertanyaan sang putri membuat pertahanan diri Mamanya ambrol seketika.
Kini keduanya menangis berpelukan.
"Jika ini memang sudah menjadi takdir yang Allah tetapkan, Mama ikhlas menerimanya, Laila! Hik hik hiks..."
"Mama...!?! Mama!"
"Mama akan belajar menjalaninya dengan ketabahan."
"Dimana ada perempuan yang ikhlas menerima takdir suami menikah lagi? Padahal perjalanan rumah tangga yang sudah dijalani bahkan lebih dari dua windu? Apakah ini tingkat tertinggi keikhlasan seorang wanita? Nasib bisa dirubah, Ma! Ini belum menjadi takdir karena Papa baru akan menikahi gadis itu beberapa hari lagi! Buatlah keputusan yang membuat Laila tenang dan senang! Menolak lah, Ma! Menolak dipoligami!!!"
"Ada masa depan orang lain yang harus Papa dan Mama pertimbangkan. Gadis itu, ternyata sedang hamil muda. Setidaknya, Papa sudah membuat sesosok manusia baru memiliki identitas diri dan bukan terlahir sebagai anak tanpa bapak nantinya, Nak!"
Menganga mulut Laila.
Dan tiba-tiba Ia terkulai lemas hampir jatuh tersungkur di atas tanah halaman rumah orang tuanya.
Untung saja Ali bergerak lebih cepat hingga mampu menangkap tubuh Laila yang pingsan tak sadarkan diri.
Begitulah takdir Illahi Robbi. Ternyata dalam hidup, ada yang harus kita terima dengan lapang dada setelah berusaha berikhtiar untuk mencari jalan terbaik.
Ali kini mulai faham, mengapa setiap kali Ia merubah jalan cerita hidup seseorang yang ada di sekitarnya, akan ada takdir lain yang berubah juga.
Pertanda sebenarnya Allah memanglah sebaik-baik Pelindung dan Penguasa. Allah sebaik-baik tempat meminta. Sang Maha Pencipta Yang Maha Hebat Maha Segalanya.
Allah Lebih tahu atas apa yang terbaik bagi umat-Nya, meskipun terlihat seperti buruk dipandang umat itu sendiri.
__ADS_1
BERSAMBUNG