MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KELIMA PULUH TIGA


__ADS_3

Ali menatap tajam wajah Keti.


"Anton mana?" tanya Ali yang terkesan takut disebut perebut pacar orang, apalagi pacar teman sendiri.


"Sudah dapat izin dari Bang Anton. Hehehe..."


Ada sedikit rasa lega, Keti seperti Keti yang Ali kenal gayanya. Cengengesan tapi terlihat imut.


Laila yang ada didepannya sampai tersilep Keti.


"Ali?" Laila terkejut, Ali merespon gadis kecil itu dan bersedia memberikan nomor ponselnya tanpa pikir panjang.


"Terima kasih, Kak."


Keti berlalu setelah itu.


Ali tersenyum tipis berbangga hati.


Keti...! Semoga ini pertanda baik, Aku senang bisa melihatmu lagi!


"Ali?!"


"Ya, Laila?"


"Pacarnya Anwar kenapa minta nomor What'sApp mu? Buat apa?"


"Buat bisnis. Hehehe..."


Terlihat sekali semburat merah di wajah Laila. Ali agak gugup memperhatikan wajah Laila yang sangat dekat dipandangannya.


Treeet treeet treeet


"Firman telepon!"


Ali mengangkat sambungan telepon Firman. Terdengar suara yang sangat Ia rindukan seperti sudah seabad tak bertemu.


"Firman, thanks, gue bisa ikutan reuni karena Lo! Sekarang gue lagi duduk sama Laila. Hah? Apa? Anton? Tenang aja. Ga ada masalah koq dari Anton Darmawan. Iya. Hehehe..., sayang kita ga bisa ikutan komplit bertiga. Ya, lain kali mungkin. Hehehe... Oke, iya. Sip. Mau ngomong sama Laila?"


Ali memberikan ponselnya pada Laila yang terlihat grogi.


Senyumnya mengembang tipis, lalu berbicara dengan suara pelan di speaker ponsel Ali.


Ali tersenyum menyeringai.


Cinta memang buta.


Cinta membuat orang jadi terlihat gila.


Tapi entah mengapa, Laila yang dulu sangat Ali puja ternyata kini telah terlihat berbeda. Sangat berbeda dari Laila yang dahulu sebelum Ia mengenal cermin ajaib.


Seperti memiliki dua sisi mata uang, Laila sekarang terlihat sisi gelapnya oleh Ali.


Laila Purnama yang cantik, baik hati karena mau bersahabat dengan dirinya yang miskin, cupu tak punya apa-apa, ternyata... juga punya sisi menyebalkan yang membuat Ali berkurang rasa cintanya.


Apakah mungkin kini Ali telah merasa dibokong oleh Laila dan Firman?


Entah.


Laila masih tetap cantik. Sahabat Ali yang tercantik.


Tapi kini rasa cinta itu perlahan memudar dan berkurang takarannya menjadi suka saja.


Laila punya Firman.


Ali tidak ingin menjadi bayang-bayang keduanya yang justru menjadi penghambat kebersamaan mereka di masa depan.


Pulang dari reuni, Ali terkenang masa-masa dahulu di rumah kontrakannya.


Rumah kontrakannya masih ditempat yang sama.


Masih berdiri kokoh walaupun sudah rapuh dimakan rayap kusen pintu dan jendela kayunya.


Mata Ali menatap nanar ke sekeliling rumah kontrakan, termasuk pohon besar yang masih tegak dengan rumah pohon buatan Bapaknya sekitar lima tahun yang lalu.


Seperti sudah tahu jalan cerita hidupnya, kemungkinan besar Laila dan Firman besok akan menyambanginya. Laila akan mengatakan kalau dirinya akan ikut pindah keluarganya ke Lombok.

__ADS_1


Ali naik ke atas rumah pohon. Rasanya rumah itu berubah menjadi lebih sempit. Namun kemudian dia tersadar, kalau tubuhnya lah yang kini berubah membesar.


Ali berdiri mematung. Menatap diri dari atas hingga bawah. Memang ada yang berubah. Postur tubuhnya. Tak lagi jangkung tipis seperti dahulu. Bahkan lengannya terlihat kekar dengan otot bisep dan trisep-nya mengembang bak telur bebek.


Ali tertegun.


Gitar tuanya, hadiah ulang tahun dari Bapak ketika usianya menginjak lima belas tahun.


Gitar bekas, tapi senarnya masih kuat dan berhasil menjadikan Ali sedikit percaya diri karena bisa mengiringi Laila bernyanyi. Firman tidak bisa memainkan alat musik, tapi Ali mampu. Itu karena Ia sering nongkrong di ruang alat-alat perlengkapan sekolah atas rekomendasi Bu Salsa, guru Seni dan Budaya di sekolah menengah pertamanya.


Ali meraih gitar yang kini terlihat agak kecil itu di dadanya.


Apakah tubuhku kini sebesar ini? Padahal setahun yang lalu, rasanya gitar ini jauh lebih besar dari badanku.


Ali hanya bisa bergumam dalam hati.


Hingga,


"Assalamualaikum..."


Tampak Firman dengan nafas terengah berdiri di depan pintu rumah pohon. Menatapnya dengan tatapan yang tak bisa Ali baca.


"Alaikumussalam!"


"Li!"


Ali mendongakkan wajahnya. Merespon panggilan sang sahabat yang terlihat gugup.


"Lo udah tau kalo gue ma Laila,"


"Kalian pacaran?"


Firman terdiam disela Ali.


Hanya jakunnya yang terlihat turun naik karena menelan ludah dengan perasaan bersalah.


Ali tersenyum.


Dipetiknya dawai gitar,


jrengg...


Tak pernah terwujud, ya sudahlah


Saat kau berlari mengejar anganmu


Dan tak pernah sampai, ya sudahlah, hmm


Apapun yang terjadi


'Ku 'kan selalu ada untukmu


Janganlah kau bersedih


'Cause everything's gonna be okay


Ali bernyanyi dengan santai sambil menatap wajah Firman yang masih terlihat cemas.


"Aku turut senang, kalian akhirnya bersama juga. Semoga, hubungan kalian langgeng, Man!" ujar Ali disela-sela petikan dawai dan lantunan suaranya yang pas-pasan.


"Li! Gue tau gue salah. Gue ga da maksud buat nutupin ini dari Lo. Tapi Laila bilang,"


"Jangan khawatir, Man. Gue ga akan ganggu hubungan kalian. Gue justru ikutan senang. Sumpah!"


Firman terlihat sedikit lega. Akhirnya Ia duduk di sebelah Ali dan diam memperhatikan sahabatnya itu memetik senar gitar.


"Ali! Firman!"


Laila! Laila Purnama!


Ali terkesiap. Sedikit cemas karena Laila dan Firman yang datang sore itu juga, bukan keesokan harinya seperti di masa yang pernah Ia lewati.


"Laila..."


"Maaf..." tutur Laila dengan wajah bersemu merah jambu.

__ADS_1


Terlihat sangat cantik menawan, bahkan sampai Firman terpesona dan tak lepaskan pandangannya.


Ali tersenyum menunduk.


Kini Ia tidak boleh memuja Laila seperti yang dulu-dulu. Firman telah berhasil menyuntingnya lebih dahulu. Ali memang kalah cepat. Tapi kini Ali lebih santai hidupnya.


"Man, Li! Gue... akan ikut orang tua pindah ke Lombok."


Wajah Firman seketika pucat pias. Dari yang sumringah berbunga-bunga, berubah menjadi seperti gunung batu es yang dingin membisu.


Ali diam, menghentikan petikan gitarnya.


"Kenapa sejauh itu pindahnya, La?"


"Bokap gue dipindahtugaskan ke Lombok! Nyokap ga izinin gue kost dan kuliah jauh dari pantauannya, Man!"


"Tapi usia Lo khan udah dewasa untuk hidup mandiri, La?"


"Bagi Nyokap gue, itu beda Man! Gue masih gadis cilik yang patut dikhawatirkan apalagi pergaulan jaman sekarang. Gitu kata Nyokap!"


"Dan Lo setuju ikut pindah?"


"Mau gimana lagi? Mereka orang tua gue, Man! Ya gue harus ikut Mereka-lah!"


"Hhh..."


"Kapan rencananya pindah, La?" tanya Ali pelan.


"Lusa, Li!"


Ali seperti menonton film siaran ulang kedua kalinya. Sudah tahu jalan cerita dan penggalan-penggalan kalimat yang Firman maupun Laila lontarkan.


Tapi ternyata jalan ceritanya sedikit berubah. Karena saat ini Laila dan Firman sudah ketahuan Ali sedang menjalani hubungan.


"Terus, hubungan kita?" tanya Firman dengan nada tinggi.


"LDR, Man!"


Terlihat lemas lutut Firman. Karena setelah itu, Ia diam seribu bahasa.


"Semoga kita bertiga selalu bahagia di manapun berada!" kata Laila semakin membuat Firman down hingga nyaris memeluk Laila.


Ali tidak menyambut uluran tangan Laila untuk berpegangan bertiga. Ia hanya tersenyum dan mengangguk.


Kini tangannya menempel di bahu kedua sahabatnya itu.


"Semoga kalian berdua bahagia. Semoga Allah menjadikan kalian pasangan sampai halal dan beranak banyak. Aamiin..."


Firman tersipu, dan Laila menunduk malu.


"Thanks doanya, Li!"


"Udah, udah. Bubar, bubar! Rumah pohon gue bukan buat orang pacaran! Sono Lo berdua! Ngobrol dari hati ke hati di tempat lain! Gue mau tidur!"


Ali mendorong tubuh Firman dan Laila dengan candaan.


"Dihh? Songong, ngusir kita, La! Yuk dah, kita cari tempat mojok yang lain! Hehehe..."


Grep.


Ali terkejut, Laila memeluknya erat. Bahkan Firman sendiri hanya terdiam kaget melihat pujaan hatinya menjatuhkan pelukan di tubuh Sang sahabat.


"Makasih, Li! Udah jadi sahabat yang baik buat gue! Thanks untuk kebersamaan kita sejak masih kanak-kanak! Semoga Lo juga bahagia. Memiliki pasangan yang pengertian, dan hidup lebih strong en fight! Gue percaya, Lo bisa, Li!"


"Makasih doanya, La!"


Ali melepaskan pelukan Laila.


Diraihnya tangan Firman, lalu disatukannya genggaman Laila dengan tangan Firman.


"Tetaplah bersama. Jangan lepaskan pegangan tangan kalian! Aku gak akan terima jika kalian sampai putus hubungan meskipun LDR-an!"


Laila dan Firman mengangguk berbarengan.


Ali menghela nafas lega.

__ADS_1


Kedua sahabatnya itu turun dari rumah pohon. Tinggallah Ali termenung sendirian.


BERSAMBUNG


__ADS_2