
Keluarga Laila berangkat pindah ke kota Lombok. Ali dan Laila sendiri harus pergi dari rumah itu karena batas waktu yang sudah habis dari pemilik rumah yang baru setelah rumah keluarga Laila dijual untuk menebus hutang-hutang korupsinya kepada perusahaan.
Mau tidak mau, Ali membawa Laila ke rumah kontrakan orang tuanya yang juga Laila sering kunjungi.
Tetapi keadaannya tidak sama seperti yang lalu-lalu.
Laila kini adalah istri Ali.
Tertera dengan jelas di selembar kertas keterangan kalau keduanya telah menjadi sepasang suami istri dengan ditandatangani oleh Amil dan pihak ketua RW di bekas rumah Laila.
Ali dan Laila sama-sama bingung.
Mereka membisu dengan mata saling berpandangan.
"Ini... kamarku."
Ali membukakan pintu kamarnya yang sudah lapuk.
Bunyi engsel yang berderit memekakkan telinga membuat dirinya malu.
"Sepertinya...,"
"Assalamualaikum..."
Ali menoleh ke arah suara seseorang yang berdiri di depan pintu.
Pemilik kontrakan! Baba Ibram!
Ali mulai merasa resah.
Pemilik kontrakan datang, ada dua kemungkinan. Satu untuk menagih uang kontrakan, satu kemungkinan lagi untuk menyuruhnya keluar dari rumah karena tanah dan bangunannya telah dijual ke pihak pengembang perumahan.
"Baba', masuk Ba!"
Baba Ibram menatap Ali dan berganti menatap wajah Laila.
"Ini..., Laila. Istri Ali."
Entah kekuatan darimana, Ali bisa memperkenalkan Laila pada baba'Ibram dengan lugas.
"Kamu? Sudah menikah? Kapan?"
Tentu saja sang pemilik rumah kaget.
Ali menyodorkan selembar kertas yang belum sempat ia fotokopi dan laminating.
"Oh, tadi siang." Senyum smirk nya membuat Ali tak bisa menilai ucapan baba Ibram. Tapi dari matanya yang melirik perut Laila, Ali bisa menerka kalau beliau sudah salah faham padanya.
__ADS_1
Masa' bodoh, dia mau su'udzon si Laila tekdung lah! Gue kaga peduli!
Ali menunggu kalimat berikutnya yang terlontar dari bibir baba Ibram.
"Li! Sebelumnya Aku minta maaf."
Ali mulai bisa menerka apa yang akan baba Ibram katakan setelah ini.
"Ali, kamu sebaiknya cari kontrakan lain ya? Soalnya tanah Baba' ini mau dijual!"
"Hah? Dijual?"
Ali yang dulu menggigil kedinginan hanya bisa menggemerutukkan gigi mendengar perkataan Baba' Ibram. Kini hanya termenung bingung.
Pindah? Harus pindah? Kemana?
"Saya, harus pindah kemana, Ba'?"
"Carilah kontrakan lain, Li! Maaf! Baba' juga butuh uang!"
Laila duduk mendekat merapat Ali.
"Tanah dan rumah ini sudah Baba jual. Ini, ada sedikit untuk kamu cari kontrakan baru. Yang lebih layak dari ini. Apalagi kamu sudah berkeluarga sekarang."
Ali menunduk. Baba menaruh amplop di lantai dan berdiri dari duduknya.
"Terima kasih, Ba'!" jawab Ali singkat.
Ia mengambil amplop dan memasukkannya ke dalam saku celana. Lalu berdiri dan mengekor baba' Ibram yang memperhatikan setiap sudut rumah dan juga halamannya.
Ali juga mengikuti tatapannya.
Pohon rumah itu, sudah dibangun bapaknya hampir lima tahun. Masih tegak berdiri di atas pohon mahoni.
Semua kenangan indah Ali, ada disitu.
Kisah cintanya yang terpendam pada Laila, namun ternyata akhirnya Allah jadikan dirinya tulang rusuk yang hilang satu setelah banyaknya peristiwa.
Peristiwa-peristiwa yang tidak masuk akal. Yang hanya ada di dunia novel saja. Yang sesungguhnya Ali masih tidak percaya dengan hidupnya kini.
Ali terkejut. Tangan Laila tiba-tiba menyusup di sela lengannya. Sementara baba Ibram ternyata telah beranjak pergi tanpa Ia sadari.
Ali menoleh ke arah wajah Laila yang sedang menatap rumah pohon yang bertengger di atas sana.
"Kini..., semua hanya tinggal kenangan."
Gumaman Laila membuat Ali menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Rasanya seperti mimpi..."
"Kamu pasti sangat menyesal menikahiku. Kamu juga pasti berfikir semua keadaan buruk ini adalah karena aku membawa energi negatif. Aku..., membawa kesialan hidup bahkan untuk siapapun orang yang ada di dekatku."
"Hei! Kenapa ngomongnya gitu?" sontak Ali menegur Laila.
"Setahun yang lalu, Aku dan beberapa temanku iseng masuk ke sebuah stand peramal di sebuah pasar malam. Peramal itu, mengatakan kalau tahun depan, Aku ada dalam fase si pembawa sial untuk orang-orang sekitar. Tahun depan itu adalah tahun ini. Awalnya, aku tidak terlalu menghiraukan ramalan dukun gila itu yang ngasal memberikan informasi buruk padaku. Tapi..., sejak awal tahun, Papaku ketauan selingkuh dari Mama. Lalu mereka bertengkar hebat dan nyaris pisah. Hingga, kakak kedua yang terkena kasus nark+ba. Lalu kakak pertama yang juga kena kasus di perusahaan tempatnya kerja. Semua seperti berbaris menjadi kesialan beruntun yang terjadi dalam hidupku. Aku..., mulai resah."
Deg
Cerita Laila membuat Ali terkesiap.
"Peramal di stand pasar malam?"
Ali tiba-tiba teringat sesuatu.
Deg deg deg deg deg
Ia mulai mengingat-ingat raut wajah dukun peramal yang juga Ia datangi tahun lalu, juga di pasar malam.
Wajah yang..., ia ingat dan baru tersadar. Wajah yang bulat dengan bola mata besar berwarna hitam pekat. Hidung besar dengan bibir agak monyong karena gigi tonggosnya.
Badan peramal itu, tinggi besar dengan kulit sawo matang yang cenderung agak gelap.
"Itu, Embah Kandut!!!" pekik Ali tersadar siapa peramal itu.
Spontan Laila melonjak terkejut.
"Kamu kenal dukun gila itu?" tanya Laila dengan suara penasaran.
"Aku juga masuk stand itu tahun lalu! Stand peramal di pasar malam dekat lapangan banteng itu kan?"
"Iya, iya! Kamu juga diramal dukun itu? Apa katanya? Apa kamu juga diramal buruk oleh dukun itu?"
Ali mengingat kembali setahun yang lalu.
Ketika itu, ia sedang berjalan menyusuri pasar malam. Kala itu usianya masih 18 tahun. Awal-awal lulus sekolah menengah atas. Dan pusing kepala karena tidak punya uang dan hidup sebatang kara.
Ali yang saat itu sedang keliling menenteng berkas lamaran kerjanya, tertarik dengan papan yang tertera dengan tulisan "Ramalan Masa Depan hanya sepuluh ribu rupiah" di sebuah stand di pasar malam.
Ali yang memiliki uang sisa ongkos sepuluh ribu rupiah langsung tertarik dan berinisiatif ingin mengetahui masa depannya, langsung membelokkan langkahnya memasuki stand yang cukup ramai itu.
"Kamu... punya kharisma yang cukup besar di masa depan. Hidupmu akan baik dan mencapai keemasan setelah tiga tahun mendatang. Ada dua perempuan yang setia berdiri di kanan dan kirimu. Tapi hati-hati, kalau kau tidak bisa adil, maka habislah kau dilumat perempuan-perempuan itu. Hahaha... hahaha...!"
Kala itu, Ali hanyalah ikut tertawa. Meskipun Ia hanya menganggap ramalan itu laksana bualan saja, tapi hatinya cukup terhibur karena ramalan dukun yang akhirnya Ia tahu adalah Embah Kandut, kakeknya Yadi yang membuka stand peramal di pasar malam lapangan banteng.
"Jadi,... Embah Kandut juga masih hidup rupanya!?!" seru Ali kembali bingung.
__ADS_1
BERSAMBUNG