
Di tempat yang berbeda,
Laila sedang duduk lesehan di ruang tamu kontrakannya dengan pikiran menerawang.
Ali... Maafkan Aku.
Dia menghela nafas. Membayangkan jika sampai Ali tahu kalau dirinya memang sengaja menjerat Ali, sahabatnya sendiri.
Hidup Laila nyaris hancur. Seiring dengan keadaan ekonomi keluarga yang ambruk karena kelakuan anggota keluarganya.
Papanya, korupsi di kantor tempatnya bekerja. Itu karena tekanan hidup dari gaya hedon yang dipilih Mamanya yang mulai merasa seperti seorang wanita sosialita yang elegan. Ditambah sifat dua kakak laki-lakinya yang juga terbawa arus kehidupan kaum Borjuis. Hancurlah perlahan keluarganya.
Kehidupan Laila, tepat ulang tahunnya yang kedua puluh tahun.
Di malam laknat itu,
Yanti dan tiga temannya sesama waitres di night club memberinya surprise.
Di pagi hari Laila bekerja sebagai pelayan cafe. Setelah pukul delapan malam ia berbelok arah, lanjut bekerja di night club yang ada di sebelah cafetaria.
Semua Ia lakukan demi cuan.
Yanti adalah teman kerjanya di night club. Dia tahu kisah hidup Laila serta keadaan ekonomi keluarga yang ambruk karena gaya hidup yang berlebihan.
Laila sudah menganggapnya seperti sahabat, bahkan saudara. Sehingga semua kartu Laila ada di tangannya. Bahkan ketika Laila curhat kalau dirinya butuh uang sepuluh juta rupiah untuk menutupi hutang pinjaman Mamanya yang jatuh tempo dan harus segera Laila lunasi bagaimana pun caranya.
Hubungan pacaran Laila dengan Firman tidak sedekat layaknya orang pacaran.
Firman baik. Tapi Laila tidak berani berterus terang tentang keadaan keluarganya yang tengah di ambang kehancuran. Hingga urusan hati Laila yang kacau balau, Firman sama sekali tidak mengetahuinya. Yang Firman tahu, Laila bekerja di dua tempat karena sedang punya keinginan besar. Yakni memiliki I phone keluar terbaru yang harganya belasan juta rupiah.
Sebuah tart mini seharga dua puluh ribu hasil udunan berempat menjadi ucapan termanis yang Laila dapatkan dari rekan sekerjanya di V night club.
Alhasil, segelas cola harga premium menjadi traktiran Laila pada keempat temannya termasuk Yanti. Obrolan santai mereka mengalir di sela-sela jam istirahat menunggu tamu. Ngalir ngidul bercanda ngasal hingga akhirnya Toriq, PR dari V night club mendengar celotehan Yanti tentang uang sepuluh juta rupiah yang sedang dibutuhkan Laila.
Toriq, pria berusia 31 tahun dan sudah berkeluarga itu memang ada hati pada Laila.
Tapi Laila enggan merespon Toriq karena tidak ingin merusak rumah tangga pria yang sudah memiliki dua orang anak itu.
Namun kesempatan ini tidak dilewatkan Toriq begitu saja.
Sebutir pil anjing kualitas super diam-diam Toriq masukkan ke dalam minuman Laila yang kedua dan dia pun mulai merancang niat jahatnya pada gadis itu.
__ADS_1
Laila dalam kondisi setengah teler. Terus di pancing Toriq yang pada akhirnya masuk ke perkumpulan para perempuan muda yang sedang bersenda gurau di hari spesial Laila malam itu.
"La..."
"Ya?"
"Apakah kamu masih perawan?"
Laila yang setengah sadar, marah mendengar pertanyaan Toriq.
"Cih, Abang! Ini pelecehan!" sungut Laila kesal.
"Kamu butuh uang sepuluh juta? Kubayar dengan keperawananmu. Bagaimana?"
"Hahh?!?"
Laila mendengus namun sudah mulai oleng hingga nyaris dirinya tersungkur karena kepalanya yang pusing.
"Sepuluh juta untuk keperawananku? Semurah itu? Mikir kau, Bang! Kau punya adik perempuan. Punya anak perempuan juga, meskipun masih balita. Apa kau gila, inginkan keperawananku dan berani bertaruh semurah itu?"
"Hehehe..., daripada kau lambat laun berikan pada pacarmu. Tidak ada harganya, La! Cuma kata cinta, rugi besar kau!"
Brukk.
Laila hampir jatuh terjerembab, namun tangan Toriq dengan sigap meraih pinggang rampingnya hingga dadanya jatuh ke dada Toriq.
Mata mereka saling beradu, dengan tubuh saling tertumpu.
"Ahh, maaf!"
"Jangan minta maaf, karena kamu tidak salah."
Laila malu. Ia sempat kasar pada Toriq atasannya, yang jabatannya itu setara dengan manager V meskipun hanya seorang publik relation.
Pelukan hangat Toriq membuat Laila yang setengah mabuk itu menangis mengingat nasib dirinya yang nelangsa.
Bagaimana bisa, dia adalah seorang anak bungsu, anak perempuan satu-satunya di keluarga tapi memiliki beban paling berat menanggung keadaan ekonomi keluarga yang sedang tidak baik-baik saja.
Ajakan Toriq bercinta dengannya sekali pakai sepuluh juta pun akhirnya Laila iya-kan.
Uang membuat Laila bertekuk lutut. Ditambah kondisi dirinya yang sedang setengah mabuk akibat obat yang Toriq taruh secara diam-diam.
__ADS_1
Semua terjadilah.
Malam itu, Laila menyerahkan keperawanannya kepada Toriq yang berjanji akan mentransfer uang senilai sepuluh juta rupiah langsung ke rekening tabungannya yang kosong isinya.
Laila menangis mengingat itu semua.
Jantungnya sempat berdebar sangat kencang ketika Ali, suaminya menanyakan perihal keperawanannya.
Entah apakah Ali punya firasat, tapi Laila memang sudah tidak perawan.
Malam laknat di hari jadinya itu adalah malam pertama Laila melepaskan kegadisannya pada Toriq.
Tring
Ponselnya menerima pesan masuk.
Toriq? Si bangsat?! Mau apa dia chat Aku lagi.
...Sudah enam hari kamu gak masuk kerja. Bahkan di cafetaria juga. Apa ada masalah? Kalau ya, datanglah padaku. Kita diskusikan biar kamu tidak merasa sendirian....
Bangs+t bajingan tengik ini!
...Aku sudah berhenti kerja. Aku juga sudah menikah. Jangan lagi hubungi Aku, meskipun itu hanya sekedar tanya kabar....
Laila langsung memblok nomor Toriq. Menghapus semua chattannya lalu menchat Ali, suaminya agar hilang rasa bersalahnya.
...Ali, gmn? Kamu kapan pulang? Ini udah mau Maghrib. Pulang saja jika belum dpt kerjaan. Aku menunggumu. (Dari istri yang mencintaimu)...
Senyumnya mengembang.
Mengingat betapa nakalnya dirinya memperlakukan Ali.
"Bocah ini sangat polos. Dia kalau gak dipancing, mana bisa mesra-mesraan! Hehehe..." gumamnya pada diri sendiri.
Sementara Ali sedang terpekur mendengarkan cerita Toro yang panjang dan lama.
Sungguh diluar nalar dan jalan fikirannya selama ini.
Ali memijat-mijat batok kepalanya yang terasa sakit, nyeletit.
BERSAMBUNG
__ADS_1