
Ali membuka amplop yang Baba Ibram berikan dihadapan Laila.
Seperti yang pernah terjadi di kehidupan yang lalu, isi amplop itu adalah uang sebesar lima ratus ribu rupiah.
"Kita bisa cari kontrakan baru."
Laila mengangguk. Ia mengeluarkan dompetnya dan,
"Aku juga memiliki uang lima ratus ribu. Kita gabungkan saja. Semoga bisa untuk melanjutkan hidup beberapa hari kedepan."
Ali termangu, Laila menambahkan uang miliknya sambil tersenyum manis.
"La, pegang aja uangmu! Yang ini untuk cari kontrakan baru!"
"Dimana ada kontrakan sebulan lima ratus ribu di Jakarta ini? Paling murah itu delapan ratus ribu. Dan itupun ukurannya 2 x 3 meter biasanya."
Benar juga. Ini ibukota. Bahkan tanah pemakaman pun harganya gila-gilaan permeternya. Padahal untuk orang mati, gimana untuk orang hidup. Gumam hati Ali mengiyakan.
Ali kembali teringat pada satu koper yang pernah Ia temukan di lemari pakaiannya di kejadian yang lalu.
Ia segera bergegas menuju lemari.
Jantungnya dag-dig-dug membuka pintu lemari. Khawatir sekali kalau Laila melihat cermin ajaibnya.
Dan...
Laila tertegun menatap pantulan dirinya di cermin ajaib.
Ali terkesiap.
__ADS_1
Laila, terlihat sangat cantik di dalam sana. Anggun dan mempesona, bersanding dengan Ali yang nampak gagah perkasa.
"Kita..., terlihat serasi ya Li? Apakah pernikahan kita akan abadi? Adakah cinta di hatimu untukku? Akankah kita bisa bahagia selamanya?"
Ali termangu. Membisu dan kembali sibuk mencari-cari koper besar di lemari bagian atasnya yang tempo hari berisi surat wasiat dan sertifikat rumah warisan almarhum Bapaknya. Ia berharap bisa ke desa Kandut Wonogiri bersama istri.
Ali terus mencari, tapi... koper itu tidak ada.
Laila yang tidak mendapat respon, agak terluka hatinya dan menghela nafas kesal.
"Apa aku ini tidak cantik dimatamu sampai-sampai ucapan ngasalku pun kamu abaikan?" sindir Laila membuat Ali tersadar.
"Maaf, Laila! Aku sedang fokus mencari koper milik almarhum Bapakku. Aku tidak menyimak ucapanmu. Untuk saat ini, sebaiknya kita prioritaskan dulu dimana kita akan tinggal. Maaf, Aku tidak mendengarkan ucapanmu!"
Laila terdiam. Tertohok dengan ucapan Ali yang terdengar menyakitkan.
Ali sendiri merasa bersalah, ucapan spontanitasnya sepertinya kurang pas membuat Laila langsung terdiam.
"Laila..., jangan mudah tersinggung dengan ucapanku yang kadang sembrono dan asal jeplak. Aku, tidak ada niatan menyakitimu."
Kedua tangan Ali meraih bahu Laila dengan lembut. Matanya menatap lekat wajah Laila yang tertunduk malu.
"Kita ini, seperti sedang menaiki wahana roller coaster. Tak tahu apakah akan duduk dengan tenang tanpa teriakan ketika melewati tanjakan, tikungan bahkan tukikan tajam. Akankah kamu tetap tersenyum atau tertawa, atau bahkan teriak histeris dan menutup mata minta berhenti dan tak mau lanjut lagi. Kamu faham kan maksudku? Kita ini, dua anak yang sedang ada di fase menerka-nerka kehidupan apa yang akan kita jelang."
"Kita bukan lagi anak-anak. Kita adalah dua orang dewasa, yang ingin menjadi dewasa secara sempurna. Pernikahan ini, memang terjadi atas desakanku. Tetapi, semuanya terjadi juga atas ridho dan restu Illahi. Jadi, kumohon jangan abaikan Aku. Jangan bersikap seolah aku ini tak terlihat dimatamu. Jangan bertingkah yang menyakiti hatiku. Hik hik hiks..."
Yassalam... Ternyata rumit sekali jalan pikiran perempuan! Hhh ...
Ali mengusap raut wajahnya. Ia meraih bahu Laila masuk ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Maaf...! Maaf ya Laila!" gumamnya di telinga kiri Laila yang sedang terisak menangis.
"Aku memang pembawa sial. Aku membuat keluargaku hancur. Menjadikan kehidupan mereka amburadul. Dan kini juga menarikmu masuk ke dalam hidupku yang kacau balau. Sungguh aku tidak menyangka kalau baru saja menikah, kita diusir secara halus oleh pemilik kontrakan untuk pindah rumah. Padahal kita belum semalam pun menikmati pernikahan kita. Hik hiks hiks... Benar-benar pembawa sial!"
Ali menutup mulut Laila yang mengoceh kian tak jelas.
Keduanya saling berpandangan.
"Jangan merutuk diri sendiri seperti itu! Jangan! Sesusah apapun hidup kita, Aku senang... kita bersama. Artinya Tuhan menginginkan kita bekerjasama mencari jalan keluar. Iya kan? Dan kita ini sekarang adalah satu."
Ali terkesiap.
Laila menangis semakin keras dan memeluk tubuhnya erat-erat. Hingga terasa bagian-bagian tubuh Laila yang gempal menempel di tubuh Ali. Sedikit meremang dan menegang. Ada yang berdiri tegak tapi bukan keadilan.
Sontak memerah wajah Ali merasakan kalau dirinya adalah pria muda normal yang memiliki sensor sensasi cepat merambat itu.
Laila sendiri, lambat laun merasakan ada yang aneh menyundul pangkal pah+nya.
Ali melepas pelukan Laila seraya berkata, "Duh, aku mau pipis dulu La!"
Ia ngacir dengan perasaan tak karuan. Tinggalkan Laila yang tertegun namun ikut merona pula pipi kiri dan kanannya meskipun tanpa pewarna.
Di kamar mandi Ali mencuci mukanya berkali-kali. Air yang dingin mencoba menenangkan hatinya dan juga juniornya yang sempat menegang.
"Ya ampun..., bisa-bisanya adik kecilku bangun dari tidurnya! Uffh..., gila. Sehari bersama Laila sudah begini, gimana tinggal selamanya sama dia?! Tapi..., toh sekarang dia itu istriku! Halal bagiku untuk menyentuhnya kan?"
Wajah Ali kembali memanas mengingat hubungan diantara mereka.
Ia kembali cuci muka.
__ADS_1
BERSAMBUNG