
Mengalami kericuhan dalam rumah tangga? Kini Ali merasakan itu.
Sebuah bantal kecil jadi pengganjal kepalanya karena harus tidur di teras rumah.
Keti menguncinya dari dalam dan tidak memperbolehkan Ali masuk dengan alasan apapun.
Ali baru sadar, ternyata perempuan itu rumit sekali jalan pikirannya. Cepat naik darah dan gampang marah.
Bagaimana mungkin Ali tahu tanggal berapa mereka menikah sedangkan Ia masih berumur sembilan belas jalan dua puluh tahun beberapa bulan lagi.
Prak prak
Nyamuk-nyamuk nakal berdengung di area telinganya. Sesekali menusukkan moncongnya bikin kulit nyeletit sakit.
"Yassalam! Ternyata begini ya ribut sama bini ini! Ck... beneran horor banget hidup gue kalo bikin masalah sama pasangan. Hm, beneran harus pintar-pintar bikin siasat ini kalo tau menikah itu kayak gini!" Ali menggerutu seorang diri.
Kursi rotan membuat tidurnya tidak nyaman. Kakinya menekuk dan bantalannya juga tidak empuk.
Berhari-hari tinggal di rumah warisan Eyangnya, membuat Ali terbiasa tidur di kasur yang luas dan juga empuk.
Padahal dulu di kontrakan, Ia terbiasa tidur di lantai yang hanya beralaskan kasur lipat tipis dan bantal keras bau apek.
Kini seperti kembali ke rumah kontrakan. Tidur dengan keadaan yang cukup menyedihkan. Bahkan tanpa sarung apalagi selimut.
Keti ternyata kalau marah menakutkan juga.
Meskipun konon katanya Keti yang ini berbeda dengan Keti yang Ali kenal di desa Kandut. Dan bola mata indahnya yang ini hitam pekat cantik berbinar. Beda dengan Keti yang Ali kenal yang memiliki bola mata hijau kebiru-biruan. Keti yang bisa berubah menjadi kucing.
"Keti? Keti bisa berubah wujud jadi kucing?"
Ali teringat Keti yang di desa Kandut.
Hingga tiba-tiba,
Jeleggerrr...
Jeleggerrr
Prelek!!!
Petir menyambar dan hujan turun dengan derasnya. Menyipratkan tampiyas air hujan hingga masuk ke teras rumahnya.
Krieeet...
Ali terkejut, pintu rumah terbuka pelan.
"Puup..."
Wajah imut Keti menyembul dari balik pintu.
"Masuk..." katanya dengan bibir masih cemberut bagaikan kukusan.
Ali tersenyum. Ia bangkit dari tidurnya.
__ADS_1
"Minta maaf dulu!"
"Maaf... Maaf ya? Maaf telah lupa pada semuanya. Maaf..., tapi Aku benar-benar lupa pada semuanya. Termasuk tanggal lahir kamu, tanggal pernikahan kita."
"Sekarang udah ingat?"
Ali menggeleng, jujur.
Dan,
Prak
Jemari mungilnya kembali mendarat di bahu Ali.
"Ngeselin! Nyebelin! Bikin jengkel!"
Grep.
Kini Ali memberanikan diri memeluk Keti dari belakang.
Ia membenamkan wajahnya di bahu belakang Keti dan diam seribu bahasa. Hanya deru nafasnya yang kian memburu. Semakin cepat dan semakin gugup.
"Please jangan marah lagi. Aku takut sekali kehilangan kamu! Tapi Aku berkata jujur, Aku lupa semua tanggal-tanggal penting itu. Kumohon maafkan Aku. Tolong beri aku catatan semua waktu bersejarah kita, Bibub. Sungguh aku tidak bisa mengingat jika tidak kamu catat. Setelah itu, akan kuhafal dan ingat terus bahkan sampai Aku mati."
Grep.
Ali terkejut.
Kini mereka berpelukan dengan tubuh merapat erat.
Gelenjar-gelenjar aneh merayap di sekujur tubuh Ali. Rasanya geli-geli nyaman.
Seumur-umur, baru Keti seorang perempuan yang Ia peluk seperti sekarang ini selain Ibunya. Seketika Ali mabuk kepayang dan berharap waktu berhenti untuk selamanya karena Ia telah temukan seorang pendamping hidup yang cantik dan baik hati.
Keti terisak.
"Maaf ya? Aku bingung menyikapi tingkahmu yang kadang absurd. Walaupun sedari dulu aku tahu kalau kamu itu random banget hidupnya."
Ali tersenyum malu. Hanya Keti seorang yang mampu menaklukkan hatinya yang keras dan kesepian. Ia ingin terus memeluknya sampai mati. Ingin selalu bersamanya hingga akhir nanti. Dan berharap kisah ini bukan hanya mimpi. Juga bukan sekedar prolog cerita indah hidupnya di awal saja.
Ali berharap impiannya menikah dengan perempuan baik-baik yang sayang dengannya luar dalam terwujud jadi kenyataan.
Keti menuntunnya masuk ke dalam rumah.
Kepala Keti bergelayut manja di bahu Ali. Begitu mesra dan nyaris membuat dada Ali seperti mau meledak saking bahagianya.
Apa yang selama ini selalu Ia khayalkan, tiba-tiba seolah diijabah Tuhan.
Ali telah berstatus sebagai seorang suami dari istri perempuan cantik yang bernama Keti. Bahkan Keti sedang mengandung anaknya dan kemungkinan akan lahir tiga bulan lagi.
Sungguh suatu keajaiban.
Sepanjang malam tidur di atas ranjang dengan tubuh dipepet mesra seorang perempuan, tentu saja membuat Ali seperti panas dingin.
__ADS_1
Sentuhan lembut Keti yang mengakibatkan setruman bertegangan tinggi membuat juniornya tegak berdiri seperti tiang bendera di hari Senin.
Jantungnya dag-dig-dug tak karuan.
Nafasnya turun naik tak beraturan.
Belum lagi tonjolan-tonjolan itu. Membuat isi kepala Ali seolah berceceran, blank, bingung harus berbuat apa.
Harus meresponkah, atau diam seperti patung Pancoran? Ali gugup bukan kepalang.
"Aduhh!" pekiknya dan langsung menutup mulutnya yang kelepasan.
Ia kaget ketika tangan mungil Keti pura-pura tidak sengaja menepuk pelan 'adik bayi'nya yang kini tiba-tiba dewasa.
"Hihihi... apaan nih?!"
Keti justru menggodanya setelah tanpa rasa bersalah meraba dan mengelus-elus dengan jari telunjuknya.
"Mmmh mmmh..."
Haish! Ya Allah ya Tuhanku! Kuatkan iman dan iminku. Please...
"Hehehe..., kamu mau ya?" bisik Keti membuat Ali tertegun lupa bernafas sejenak.
"Maaf ya, Pup! Sejak pendarahan akhir bulan lalu, kita belum boleh nandur sawah dulu kata dokter. Dedenya takut kenapa-kenapa sebelum launching ke dunia."
Ali menelan air ludahnya.
Syukur Alhamdulillah... Huaaaa, asli gue belom siap bobok celengan orang! Meskipun saat ini gue yang sekarang udah dewasa dan udah merid juga sama si Keti, tapi... hoaaa... Tolong jangan bikin gue harus beradegan seperti itu! Gue belom pernah pacaran apalagi berbuat mesum dan jadi pendosa macam itu!
Ali bergelut dengan fikirannya sendiri.
Antara menerima kenyataan kalau Ia adalah seorang suami, namun Ali juga masih merasa Keti bukan haknya untuk dijamah olehnya secara halal.
Meskipun dijaman sekarang ini, hampir semua manusia di bumi menganggap hubungan pria dan wanita diluar nikah sudah merupakan hal yang lumrah, tapi Ali masihlah pemuda yang lugu. Pemuda yang suci murni, belum terjamah cinta dari seorang wanita.
Melihat dirinya di masa depan telah menikah, memiliki rumah serta pekerjaan yang mumpuni, tentu saja lega hatinya.
Tuhan Maha Baik kepadanya.
Dan Ali berdoa dalam hati, semoga hidupnya kelak bahagia. Beranak pinak dan beregenerasi menancapkan kepercayaan diri kalau klannya telah berhasil berkembang biak dan bertahan hidup di dunia nyata yang keras ini.
Jeleggerrr...
Petir kembali menyambar.
Keti memeluk tubuh Ali erat.
Ali jadi teringat sesuatu, Keti memang sangat takut petir. Dan Ia mencium pucuk kepala Keti dengan penuh kelembutan.
Ali berdawam ayat kursi dengan suara tenang. Membuat Keti perlahan memejamkan mata dan tertidur lelap dalam pelukannya.
BERSAMBUNG
__ADS_1