
Kukuruyuuuuk
Kukuruyuuuuk
Sontak Ali terkesiap.
Suara ayam jago Mbah Marsinah! Seketika Ia meloncat dari atas ranjang king size. Berlari secepat kilat bahkan sampai si Hitam yang biasanya lebih dulu melesat kalah cepat dengan Ali.
"Jalu!!! Eyang Uti!!!"
Bahagianya hati Ali.
Rumah gubuk yang ada di samping istana megah warisan Embahnya telah kembali. Berdiri tegak walaupun kayu-kayu bambunya sudah mulai rapuh dan ada yang terkoyak.
Seketika Ali baru tersadar.
Dirinya seperti bisa berpindah tempat ke dimensi dua dunia yang berbeda.
"Eyang!"
"Ali!"
"Eyang! Eyang Uti!"
Ali berlari menghampiri Simbah Marsinah. Mencium pucuk tangannya yang basah karena baru saja keluar dari ******.
"Meong..."
Ali menoleh ke arah si Hitam yang tampak berdiri di depan gerbang pintu belakang rumah Mbah Toro.
"Sini, Hitam!"
"Hehehe..., kucing itu sepertinya sudah sangat dekat denganmu ya?!" kata Simbah Marsinah sembari terkekeh.
"Eyang! Kenapa kemarin rumah ini tidak ada dalam penglihatanku? Kenapa bisa seperti itu? Bahkan, hanya ada kebun yang ditumbuhi rumput ilalang setinggi manusia di sekitar sini! Tadinya Aku kira Aku bermimpi bertemu Eyang Uti Marsinah. Ternyata,..."
Simbah tersenyum tipis.
Ali tak bisa mengartikan senyum misterius yang ada di bibir Simbah Marsinah.
"Bisakah Ali mendapatkan penjelasan soal keadaan ini? Eyang Uti, kenal Pak Kadus Toha? Beliau bilang,"
Jeleggerrr
Tiba-tiba ada petir menyambar padahal hari tampak cerah dan matahari bersinar indah.
"Kampung ini, berada dalam kungkungan kutukan?"
Ali menatap serius wajah Simbah Marsinah. Matanya tak berani berkedip. Menunggu cerita selanjutnya soal kondisi kampung yang aneh bin ajaib ini.
"Es krim, es krim...! Siapa mau beli es krim! Es krim, es krim...!"
Ali kembali terperangah.
Suara toa seorang pedagang es krim yang cukup familiar di telinganya. Seolah itu adalah suara yang begitu indah dan sangat Ali rindukan selama tinggal di kampung aneh ini.
"Sebentar, Yang! Aku mau beli es krim!"
Sifat kekanak-kanakan Ali masih ada meskipun usianya sudah akan menginjak kepala dua.
Ia bergerak cepat keluar jalan lewat semak-semak.
Matanya melotot terpukau.
Dihadapan rumah Simbah Marsinah berdiri kokoh sebuah bangunan ibadah. Sebuah mesjid yang cukup besar meskipun sepi jamaah karena masih pagi dan belum masuk waktu sholat Dzuhur.
"Es krim, es krim! Siapa mau beli es krim!"
"Abang tukang es krim! Tunggu!" teriak Ali memanggil pedagang es krim yang lewat dengan sepeda motornya.
Sungguh luar biasa. Setelah beberapa hari tinggal di kampung besar namun terpencil ini akhirnya Ali melihat pedagang masuk kampung dengan sepeda motor.
__ADS_1
"Es krim rasa apa, Mas?"
Ali terpana. Kotak es besar terlihat bersinar bagaikan wadah emas berlian yang sudah beratus-ratus tahun baru kembali dia lihat.
"Mas? Mas!"
"Oh iya, Bang! Aku... mau yg rasa coklat sama rasa strawberry. Berapa harganya?"
"Satunya lima ribu, Mas!"
"Tunggu sebentar ya? Aku ambil uangnya dulu! Tunggu, jangan menghilang!"
Tentu saja tukang es keliling itu bingung dengan ucapan Ali yang masuk ke dalam rumah Eyang Toro melewati gerbang utama.
"Ya Tuhan, jangan buat keadaan ini semakin membingungkan! Tunggu, tunggu dulu! Jangan hilangkan orang-orang yang baru saja kutemui hari ini!"
Ali membuka resleting ranselnya. Ia berhasil menemukan selembar uang kertas dua puluh ribuan. Dan kembali ke luar rumah secepat mungkin.
Ali menghela nafas lega.
Tukang es krim itu masih berdiri mematung menungguinya datang membawa uang.
"Aku ambil empat, Bang!"
"Semuanya pas ya Mas. Dua puluh ribu rupiah."
"Iya. Terima kasih. E tunggu, Bang! Abang masuk kampung ini lewat jalan mana?"
"Tentu saja lewat jalan depan sana yang ada gapuranya! Saya setiap hari dagang keliling ke sini!"
"Se_setiap hari?"
Meremang bulu kuduk Ali.
Tapi ini masih siang hari. Dan kaki tukang es itu menapak di atas aspal jalan. Jadi, kemungkinan besar dia bukanlah manusia jadi-jadian. Atau setan yang sedang mencarinya nafkah buat menghidupi kebutuhan sehari-hari.
Ali hanya menatap bingung Sang tukang es krim yang kembali lajukan kendaraan sepeda motornya.
"Masjid Al-Ikhlas...! Tapi kenapa kemarin-kemarin tidak ada masjid berdiri di sini?! Hm... ternyata, benar cerita Pak Toha. Kampung ini punya dua dunia dalam dimensi berbeda dalam kurun waktu yang bersamaan!"
Ali menelan air ludahnya.
Matanya menatap es krim yang baru saja Ia beli. Dan berjalan pelan ke samping pagar beton rumah Mbah Toro menuju kediaman Simbah Marsinah.
"Meooong..."
Ali merunduk. Tangannya dengan sigap mengangkat tubuh si Hitam yang mulai ramah ketika hendak Ali pangku.
"Kamu suka es krim?" tanya Ali ngasal.
"Meooong..."
"Hah? Hahaha... jangan bilang kalo kamu juga suka jajan es krim!" tebaknya tentu saja tanpa pikir panjang.
"Dia memang suka es krim!"
"Hahh?!?" Ali terkejut. Mbah Marsinah membuka tabir sisi lain si Hitam yang sangat berbeda dari kucing-kucing pada umumnya.
Ali ingin membuktikan kalau ucapan Simbah Marsinah benar. Dibukanya satu es krim rasa coklat. Ali membiarkan Hitam menjilati es krim lilin rasa coklat itu ditangannya.
"Woaaa hahaha...! Beneran kucing langka! Hahaha..."
Ali menaruh es krim Hitam di atas piring plastik yang tergeletak di atas meja rendah dekat perapian Mbah Marsinah.
Tapi tiba-tiba si Hitam seperti ogah melanjutkan makan es krimnya.
"Jangan letakkan di atas piring plastik, Li! Dia tidak suka makan dengan piring plastik. Bau plastik, katanya!"
"Hah?!? Si Hitam ini kucing atau orang sih?"
"Meooong..."
__ADS_1
Kucing berwarna hitam polos itu melenggang pergi menuju rumah besar Mbah Toro. Sepertinya Hitam sedang kesal karena Ali dan Simbah Marsinah selalu menggodanya.
"Hahaha..., Hitam, Hitam! Kamu itu ada-ada saja!"
Ali dan Simbah Marsinah tertawa. Mereka berdua lanjutkan makan es krim sebelum meleleh karena cuaca yang panas mulai menyengat. Padahal Ali belum sarapan.
Krucuuk
Suara perut Ali terdengar jelas sekali.
"Hehehe..., Ali belum sarapan, Eyang!"
"Maaf..., Simbah juga belum menanak nasi, Ali!"
"Tidak apa-apa. Ali akan pergi ke warungnya Pak Setan di ujung jalan sana. Eyang Uti mau Ali belikan apa? Nasi goreng?"
"Tidak usah, Ali. Persediaan uangmu pasti sudah menipis. Simpanlah untuk dirimu sendiri. Simbah masih punya bekal sangu. Ah, Ali..."
"Ya, Eyang Uti?"
"Apakah kamu sudah memasuki kamar baca Mbah-mu di lantai atas paling pojok?"
"Kamar baca Embah Toro? Apakah Mbah Toro punya kamar baca?" Ali balik bertanya.
"Cobalah masuk ke dalamnya. Kata Mbah, buku adalah jendela dunia! Kamu pasti akan temukan banyak buku cerita koleksi Mbah Toro?"
Netra Ali membulat.
Selama ini Ia belum sempat membuka satu persatu pintu kamar yang ada di lantai atas.
Ali hanya berani naik ke atas jika ada teman seperti Keti atau pak Setan. Ia tak punya cukup nyali untuk uji keberanian menaiki anak tangga beton yang kokoh itu.
Yang bahkan suara sandalnya berbunyi nyaring dan menggema meskipun Ali sudah memelankan langkahnya.
Ali pamit permisi kepada Simbah Marsinah untuk sarapan dulu di warung Bu Susanah.
Hari sudah bergerak cepat. Pukul sembilan pagi dan matahari tampak sudah naik di atas kepala.
Ali mengayuh pedal sepedanya. Duduk dengan tenang di atas sadel dan Si Hitam duduk manis dalam keranjang sepeda gunung yang Ali gowes.
Ada beberapa rumah yang berdiri tegak dan baru pertama kali Ali lihat. Bahkan ada beberapa Bapak dan Ibu-ibu yang sedang bercengkrama di pinggir jalan dengan wajah penuh kehangatan.
"Kulonuwun, permisi bu-ibu, bapak!" sapa Ali berusaha ramah.
"Monggoo..."
Ali merasa hatinya menghangat. Para tetangga yang belum pernah Ia lihat kini seolah menampakkan diri satu persatu.
Ali senang sekali.
Ia berharap suasana ini akan selamanya seperti ini. Tidak suram dan sepi senyap seolah kampung tak bertuan.
"Hitam? Apa kau tak merasa perjalanan kita sudah cukup jauh tapi warung kopi Pak Setan belum juga kelihatan?"
"Meooong..."
"Ehh? Lho? Kita terlewat atau bagaimana ini? Mana warungnya Pak Setan Bu Susanah? Hitam?"
"Meooong..."
Ali merasa takut. Ia putar balik sepedanya, mencoba kembali menyusuri jalan raya. Berharap matanya yang salah karena terlalu bahagia pagi hari ini.
Tapi nyatanya,
"Di_dimana warung Pak Setan?!?"
Ali menatap kiri kanan jalan depan perasaan tak tenang.
"Meooong..."
Hanya Hitam saja yang masih tetap ada di dunia yang Ali pijaki. Ali langsung merangkul Hitam ke dalam pelukannya.
__ADS_1
BERSAMBUNG