
Ali mengekor Firman yang berjalan lebih cepat darinya menuju rumah kontrakan orang tua Ali.
Tentu saja pemandangan yang lucu karena harusnya ia-lah yang memimpin langkah karena akan menuju rumahnya, tapi Ali mengerti. Firman sedang marah pada keluarganya karena kejadian dilabrak istri tua bapaknya.
Saat ini usia mereka masih terbilang muda. Masih berseragam SD. Entah duduk di kelas berapa.
Ali merasakan tubuhnya begitu ringan ketika tangan Firman menariknya agar berjalan lebih cepat. Itu karena dia saat ini terlihat imut dengan seragam putih merahnya dan menyandang tas ransel bergambar kartun Ben 10.
"Buruan! Jalan Lo kayak keong!" umpat Firman mulai kesal karena Ali tidak cepat langkahnya.
"Ye sabar. Kan gue baru bangun tidur, Man! Ish... lagian ngapain sih harus jalan cepat-cepat? Emang harus ya? Jalannya kayak orang mau ngambil gaji?"
"Kebanyakan omong deh!"
Ali menyeringai. Ia berhasil membuat Firman kesal.
Ternyata usianya saat itu masih berumur sebelas tahun. Bapaknya baru saja di PHK dan punya uang pesangon untuk beli kayu-kayu guna membangun rumah pohon.
Siang itu Bapak mulai membayar pekerja untuk membuat rumah pohon yang nantinya akan jadi tempat teristimewa tiga serangkai.
Ali bisa merasakan betapa Firman adalah pemain sandiwara terhebat. Firman menjadi orang yang ceria. Sangat berbeda dengan yang Firman lakukan tadi di rumahnya.
Ali senang, sebentar lagi akan punya tempat yang keren yang langsung bikin iri Firman.
"Bapak Lo sayang banget sama Elo ya?" gumam Firman membuat Ali tersenyum.
"Gue iri sama Lo. Anak semata wayang, disayang Ibu Bapak. Kalo gue, punya adik banyak. Boro-boro disayang, yang ada selalu disuruh-suruh dengan alasan gue harus ngerti sebagai seorang kakak. Ck!" tambahnya lagi.
Ali menepuk bahu Firman.
"Gue justru iri sama Lo. Punya banyak adek. Selalu ramai rumah Lo pastinya!"
"Banget!"
"Orangtua Lo juga ga akan kesepian. Beda sama keluarga gue. Cuma bertiga. Kalo Bapak kerja, gue sekolah, Ibu sendirian di rumah. Gitu juga gue. Pas di rumah Bapak kerja, Ibu ke pasar, biarpun rumah gue kecil tapi tetep kesepian!"
"Tukeran orangtua yuk?"
"Hahh? Emang bisa? Hahaha..."
"Hahaha, kita bisain. Ting! Lo jadi Firman, gue jadi Ali. Kayak di kartun Doraemon Nobita tiap hari minggu."
"Tivi gue rusak. Kesamber petir seminggu lalu!"
"Hm. Jadi Lo jarang nonton TV dong?!"
"Ngapain gue nonton TV yang enggak ada gambarnya? Dasar dodol!"
"Hahaha iya juga sih. Kecuali Lo gabut parah setengah setres ya?! Hahaha..."
"Tapi gue berusaha bersyukur. Menerima kenyataan. Mau gimana lagi? Bapak ibu juga bilang, kalo mereka ada duit, beli tivi yang segede layar tancep!"
"Hahaha..., Bapak gue janji mau ngajak kita ke Dufan minggu depan! Tapi gue males sekarang. Udah ga nafsu lagi jalan sama orang tua!"
Ali terkesiap.
Sepertinya Ia teringat akan suatu kejadian yang menimpa keluarga Firman.
Ya! Gue baru ingat!!! Adiknya si Firman yang paling bungsu meninggal dunia gara-gara jatuh dari wahana permainan di Dufan kalo ga salah pas Firman kelas lima SD! Dan kayaknya, ini waktunya deh!
Deg deg deg deg
Deg deg deg deg
Jantung Ali berdegup kencang.
__ADS_1
"Kapan ke Dufannya, Man?"
"Hari Minggu."
"Minggu ini? Hari minggu lima hari lagi?"
Firman mengangkat bahu. Sepertinya Ia ogah untuk membahas tentang keluarganya.
Seolah ada yang mengganjal di perasaan Firman.
"Boleh gue ikut?" tanya Ali membuat Firman termangu.
"Lo mau ikut? Beneran? Tar gue bilang Bapak gue ya? Janji ga bohong ya? Soalnya tiketnya mahal ke Dufan itu!"
Seketika wajah Ali pucat.
Iya juga ya? Seandainya gue maksa mau ikut, kasian juga Keluarga si Firman nanggung biaya tiketnya. Coba gue tanya Bapak dulu. Siapa tahu bapak punya uang buat beliin tiket gue main ke Dufan bareng keluarga Firman!
"Tar gue tanya Bapak dulu, Man!"
Ali bergegas menuju Bapaknya yang sedang mengobrol dengan tukang bangunan yang sedang membuat rumah pohon.
"Pak, Bapak!"
"Opo, Li?"
"Pak, Ali mau ke Dufan hari Minggu, boleh gak?"
"Ke Dufan? Jauh amat. Daripada ke Dufan mending ke depan!" goda bapaknya garing parah.
"Ish, Bapak. Ikut keluarganya Firman, Pak! Tiketnya dua ratus ribu, Pak!"
Tentu saja Ali sebenarnya pesimis.
"Nanti kamu ngerepotin keluarganya Firman ga?" tanya Bapaknya Ali.
"Ga koq, Pak!" Firman ikutan nimbrung obrolan.
"Ya udah. Tapi uang jajan kamu bapak kurangi buat tambahan minggu nanti ya?"
"Iya? Boleh, Pak?"
Ali sumringah. Ini adalah kebahagiaan yang besar baginya.
Ali merangkul bahu Bapaknya. Naik ke atas punggung sembari tertawa dan menciumi pipi pria yang paling disayanginya itu.
"Terima kasih, Pak! Hehehe..."
"Ih, manjanya. Malu dilihat Firman tuh! Hehehe..."
Ali tersipu. Firman menatapnya dengan senyuman lebar di bibir.
Ia menggelengkan kepala melihat sahabatnya yang masih bertingkah seperti bocah TK.
"Jadi Minggu ini kamu mau ikut kita? Ya udah, nanti Aku bilang Bapak. Biar kamu di jemput hari minggunya."
"Naik apa, Man?"
"Bapak pinjem mobil bossnya nanti!"
"Waah, seru tuh! Asiiik, kita liburan bareng!"
Ali dan Firman tertawa-tawa. Hingga,
"Assalamualaikum...!"
__ADS_1
Laila yang super imut dengan rambut panjang yang dikepang dua. Matanya yang bulat bersinar indah bak rembulan.
"Waalaikum salam!" serentak Ali dan Firman menjawab.
"Ali..., tolong bantu aku bikinin tugas menggambar!" ujarnya dengan suara yang imut masih unyu-unyu.
Sontak mata Ali berbinar melihat wajah Laila di masa sekolah dasar. Bahkan tanpa sadar Ali menatap dada Laila yang masih rata. Karena mereka semua masih bocah, belum beranjak remaja.
Tapi seketika merona wajah Ali menyadari dirinya yang punya fikiran kotor.
Cih! Apaan sih Lo, Li? Mesum deh otak Lo!
Ali mengetuk kepalanya.
"Laila, Aku aja deh yang gambar! Mau gak?" tawar Firman.
"Ogah! Gambar kamu error, Man! Aku minta buatin macan malah digambarin anak bebek!" tukas Laila membuat Ali tertawa.
"Si Firman memang bisanya cuma gambar bebek, La! Tiap tugas menggambar, selalu aja ada bebek yang digambarnya. Hahaha..."
"Dih, rese' Lo! Buka-buka aib gue!"
Seketika keduanya seperti saling tinju dan pukul. Tapi hanya bergurau saja. Membuat Laila tertawa ngakak.
Ali terharu. Sampai matanya merah menahan tangis.
Ali rindu sekali Laila dan Firman. Dan kini Ia seperti ditarik mundur beberapa tahun ke belakang untuk melihat dan bercanda ria dengan dua sahabat karibnya yang Ia rindukan.
"Li? Ali? Kenapa?"
Ali tak kuasa menahan air matanya.
"Huaaaa huhuhu..., terima kasih banyak untuk kalian! Kalian adalah sahabat terbaikku. Kalian adalah sumber kebahagiaanku! Hik hik hiks..."
"Dih? Nangis? Cengeng, hahaha lebay banget Lo, Li! Lagipula gue bukan sahabat Lo, gue musuh Lo nih. Hehehe..."
Bug bug bug
Firman meninju bahu Ali tapi pelan tidak keras.
Laila tertawa ngikik. Ia mengusap-usap punggung Ali.
"Ali kenapa? Jangan bilang Ali kesal sama Laila karena setiap tugas menggambar selalu minta bantuan Ali buat bikin sketsa nya. Hehehe..."
"Ga, engga! Ini jujur dari hatiku terdalam. Aku tidak pernah mengungkapkan rasa sayangku pada kalian. Sungguh! Aku sangat berterima kasih pada kalian, mau berteman dengan Aku dan terus menjagaku seperti seorang saudara. Hik hik hiks..."
Firman dan Laila tertawa keras.
"Adek gue udah banyak, Li! Gue ga mau nambah sodara! Hahaha... La, Lo mau punya sodara cengeng begini?"
"Ga apa-apa deh, sodaraan sama Ali. Biar nilai gambarku selalu di atas tujuh. Hahaha..."
Hari yang indah, penuh suka cita.
Ali bahagia meskipun wajahnya kini terlihat kinyis-kinyis. Karena Firman dan Laila juga masih imut-imut. Mereka berumur sebelas tahun saat ini.
Masa kanak-kanak memang masa yang paling indah.
Masa membahagiakan belum punya beban pikiran yang banyak seperti orang dewasa.
Ali bersyukur, Tuhan memberinya kesempatan mengulang masa kecilnya yang indah.
Teringat dirinya yang berubah perlahan menjadi anak yang pendiam setelah lulus SD karena rasa minder menjadi orang yang tak berpunya.
BERSAMBUNG
__ADS_1