MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KETIGA PULUH TUJUH


__ADS_3

Ali tersentak.


Ia bangun dari tidurnya dan...


Terhenyak dirinya mendapati sedang meringkuk di atas lantai kayu papan dengan Keti tertidur dengan posisi berhadapan tapi dalam jarak sekitar satu meter diantara mereka.


Merona merah jambu wajah Ali.


Njiiirrr! Gue ternyata cuma mimpi!


Kini Ali merasa malu sendiri.


Mereka masih berada di atas loteng ruang perpustakaan Mbah Toro.


Keti masih terlelap dengan tangan memeluk sebuah buku berjudul La Tahzan karangan Aidh Al-Qarni.


Ali duduk dengan kaki disila.


Pelan-pelan Ia berdiri ingin melihat keluar jendela. Ternyata, hari telah berganti malam. Rupanya mereka ketiduran setelah asyik membaca-baca sambil bercerita tentang...


"Tentang apa ya?!?" gumam Ali lupa pada akhir obrolannya dengan Keti sampai akhirnya Ia bermimpi masuk ke portal paralel masa depan.


Tring


Tring


Tring


Ali terkesiap.


Sebuah bintang besar seolah melesat cepat seakan hendak masuk menerobos kaca jendela yang tak bergorden itu. Hingga...


Kreleppp


Cesss


Ali menoleh ke arah cahaya putih besar yang masuk dan tiba-tiba menyelinap ke dalam buku-buku lama yang tersusun di rak kayu.


Ali segera bergegas mencari cahaya yang menyelinap di antara buku-buku.


Rasa penasarannya menyeruak. Dan Ia dengan hati-hati mengambil satu buku tebal bersampul biru dongker polos tanpa judul dengan lembarannya yang terlihat sudah agak menguning.


Dengan sedikit gemetar dan agak takut, Ali akhirnya membuka lembaran pertama.


Terpukau Ia mendapati cahaya putih menyeruak indah ketika lembar sampul dibuka.


Ali membaca basmalah sampai berkali-kali.


Keringat dingin mulai mengucur.

__ADS_1


Takut juga Ia untuk melanjutkan bukaan lembaran berikutnya yang terlihat kosong tak ada tulisan sama sekali selain cahaya terang yang menenangkan hati.


"A_Ali?!?"


Keti yang terbangun langsung kaget dan mendekat ke arah Ali. Bahkan saking dekatnya sampai Ali sedikit meremang merasakan sesuatu yang lembut menyentuh punggungnya.


Kini keduanya seperti berada di angkasa raya yang dipenuhi bintang-bintang yang berserakan.


Ali dan Keti saling bertatapan dengan jantung berdebar karena melihat pendaran beberapa galaksi berwarna-warni.


"Di_dimana kita?" kata Keti dengan suara serak dan bergetar. Tangannya langsung memegang erat pergelangan lengan Ali yang juga tak kalah gemetar.


"Inikah langit ciptaan Allah Ta'ala?" gumam Ali yang perlahan berhasil menguasai ketakutannya menjadi suatu pandangan kekaguman.


"Maha Suci Allah!" Keti ikut bergumam mulai ikut terbawa ketenangan Ali Akbar.


"Itu apa, Ali?"


"Galaksi."


"Galaksi?!? Galaksi itu apa? Kenapa bukan Judessi?"


Spontan Ali tertawa menyeringai.


Keti membuat hidupnya benar-benar jadi berwarna hingga Ali langsung menoleh ke arah wajah Keti yang kini dekat sekali.


"Galaksi itu adalah bagian dari alam semesta berupa sistem masif yang terikat dengan gaya gravitasi yang terdiri dari bintang-bintang, awan, debu bahkan gas dan materi gelap termasuk didalamnya."


"Bumi masuk dalam galaksi Bima Sakti. Itu galaksi tempat kita tinggal!"


"Berarti kita tinggal di galaksi Bima Sakti?"


"Ya, Bibub!"


"Bibub? Bibub siapa? Namaku Keti, Ali!"


Ali lagi-lagi terkekeh.


Dalam hatinya berdoa terus agar Allah menjodohkan dirinya dengan Keti yang lucu.


Ali merasa bahagia jika sedang bersama Keti. Meskipun Keti memiliki kisah hidup dan cerita yang berbeda di dunia yang lain, tapi Ali yakin, dirinya akan bahagia bersama gadis yang duduk disampingnya ini.


"Keti...!"


"Ya?"


"Lihat itu!"


"Waah, itu lebih besar dari galaksi Bima Sakti!"

__ADS_1


"Bukan, Sayang! Yang paling besar bukan itu. Itu galaksi Andromeda. Konon kabarnya milyaran tahun nanti Andromeda akan menabrak Bima Sakti dan akan membentuk galaksi besar berbentuk elips. Wallahu!"


"Uhuk uhuk uhukk..."


Keti terbatuk-batuk mendengar kata 'sayang' yang Ali lontarkan tanpa sengaja barusan.


"Mungkinkah Bima Sakti dan Andromeda menikah?" tanya Keti ngasal.


"Mungkin. Semua bisa terjadi, kalau Allah Berkehendak, Keti. Seperti kita. Mungkin saja sepuluh tahun kemudian kita adalah pasangan suami istri yang dikaruniai anak yang soleh soleha. Hehehe..."


Keti menunduk dan tersipu malu.


Wajah Ali tak kalah merah, bagaikan kepiting yang direbus.


Ali mulai berani menunjukkan giginya memperlihatkan keseriusannya untuk mendekati Keti.


"Tapi Aku anak haram."


Keti berkata sesuatu yang membuat Ali geram.


"Tidak ada anak haram. Yang diharamkan itu adalah perbuatan orang yang jahat."


"Aku anak musuh Eyangmu,"


"Memangnya kenapa? Apa kamu juga membenci Eyangku dan bermaksud jahat padaku?"


Keti menatap Ali.


Ali terpana melihat pendaran cahaya di bola mata Keti yang hijau kebiru-biruan.


"Keti. Galaksi-galaksi disana sangatlah indah. Tapi binaran matamu jauh lebih indah dipandanganku. Tolong, tetaplah menatapku seperti itu. Aku... aku ingin selalu bersamamu."


Ali merasakan tubuhnya lemas dan sayup-sayup suara orang mengaji.


Ali terkesiap dan Keti pun seperti mendengar suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Semakin lama, semakin terdengar jelas dan...


"Ali Akbar keturunanku! Ali! Ali Akbar! Dengarlah! Aku adalah Eyangmu. Kamu adalah penerus ku. Kamu harus membuka tabir system galaksi dan lanjutkan terus perjalananmu memasuki setiap pintu portal yang terbuka. Kami semua membutuhkan dirimu. Keti! Keti keturunan Asilah! Bantulah Ali! Bantu cucuku untuk terus mengikuti arahan Sang Maha Pencipta. Tetap berjalan di relnya. Jangan tinggalkan sholat! Jangan lupa mengaji dan mengkaji diri!"


Samar-samar, suara Eyang Toro perlahan menghilang. Membuat Ali kembali gemetar dan berteriak memanggil-manggil nama Eyangnya yang konon kabarnya masih hidup di dunia nyata tapi beda dimensi dengannya.


"Eyang! Eyang Toro!!! Eyaaanggg!!!"


Perlahan galaksi-galaksi itu melemah dan... mereka kembali berada di ruang perpustakaan loteng rumah warisan Eyang Toro.


Ali dan Keti saling berpandangan.


Kini keduanya mengangguk dengan bahasa kalbu yang kian meningkat.


Berharap bisa membuka semua tabir desa Kandut yang tidak masuk akal. Mengubah kutukannya menjadi kebaikan. Dan semua penduduk hidup tenteram dan damai.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2