
"Meooong, meooong..."
Ali terkesiap.
Wajah si Hitam tepat berada di atas mukanya.
Kedua bola mata mereka saling beradu, tapi anehnya Ali merasakan debaran jantung yang kencang sekali.
"Hi_hitam?!?"
Ia kaget dan kebingungan.
Ditolehnya kiri dan kanan. Ternyata posisinya kini ada di atas ranjang bedcover ukuran king di rumah warisan Eyangnya.
"Apa yang terjadi? Bukankah Aku tadi sedang berbicara dengan Yadi, cucunya Mbah Kandut?" tanya Ali pada dirinya sendiri.
Si Hitam mengibas-ngibaskan ekornya. Sesekali mengeong seperti memberikan Ali kode-kode.
Ali bangkit dan memangku tubuh Hitam yang menggeliat manja.
Kucing itu kini seperti sudah merasakan nyaman dipeluk Ali hingga terkadang seperti sengaja mendekat minta di gendong.
"Hei, tunggu! Perasaan kita tadi sedang mengobrol dengan si Yadi kan, Tem?" tanya Ali sambil mengangkat tubuh Hitam hingga kini berada tepat di wajahnya.
Hitam seperti malu-malu tak mau kontak mata langsung dengan Ali. Gayanya beneran mirip kucing perawan yang sedang diperhatikan kucing jantan.
"Haish, kau nih! Malah klemar-klemer klemas-klemes!"
Ali gemas tapi tiba-tiba,
Cup.
"Meong!!!"
Sontak Hitam meloncat saking kagetnya. Dan Ali pun tak kalah kaget.
Tiba-tiba lampu kristal kamar Mbah-nya yang tidak ada aliran listrik kembali berkedip-kedip, seperti ada korsleting listrik.
"Ah," cetus Ali kembali was-was.
Krelep krelep
Ceplak cepras
Syuuunggg
Syungggg
Syuuunggg...
Ali merasakan tubuhnya seperti tersedot vakum cleaner raksasa. Dan...
Plak.
Plak! Plak!
"Anak bodoh! Cuma segini nilaimu? Kenapa cuma dapat nilai tujuh? Kenapa bodoh sekali kamu ini! Hah? Berbeda sekali dengan kakak-kakakmu!"
Ali menelan ludah.
__ADS_1
Matanya menatap nanar tak berkedip.
Anton Darmawan baru saja menerima tiga tamparan. Satu dari Mamanya, dua dari Papanya.
Ali terkesiap. Tak pernah menyangka apalagi membayangkan.
Seragam Anton putih biru. Pertanda saat ini Ia sekitar berumur 14 tahun atau 15 tahun. Membuat Ali seketika menatap dirinya sendiri yang juga berseragam putih biru langsung mengusap raut wajahnya dan menyisi kian rapat ke tembok.
Ali tidak satu sekolah menengah pertama dengan Anton. Itu karena Ali memilih sekolah swasta yang jauh dari domisili rumah kontrakannya sehingga memiliki circle lingkungan yang baru.
Ali menatap selembar kertas sertifikat bertuliskan nama Anton Darmawan sebagai pemenang pertama lomba lukis antar siswa pelajar SMP se-kotamadya.
Seketika Ali teringat masa itu. Ia dan Anton memang bertemu kembali di suatu lomba lukis antar pelajar SMP. Bapak Jauhari yang adalah guru kesenian nya di SMP meminta tolong pada Ali untuk memberikan sertifikat atas nama Anton yang ketinggalan di dalam ruangan.
"Ali, tolong ya? Kamu kenal Anton kan? Kalian berasal dari sekolah dasar yang sama. Ini sertifikatnya tertinggal di bawah meja."
Saat itu Ali memang mengantarkan ke rumah Anton yang megah dan mewah di kompleks perumahan elit.
Tapi bukan ucapan terima kasih yang Ia dapat, melainkan hardikan Anton yang menyuruhnya keluar dari pelataran rumah besarnya dengan alasan menyebarkan aroma bau sampah katanya.
Kini, cerita itu terulang lagi.
Tapi betapa kagetnya Ali, ternyata, Anton memiliki kisah tragis juga dibalik kesangarannya terhadap Ali.
Apakah Anton itu anak angkat? Tapi, bukan koq!?! Anton itu anak bungsu mereka. Dan mereka sangat sayang ketika dihadapan orang lain.
Ali masih mengintip dari balik pohon besar.
Anton menunduk dengan tangan mengusap pipi.
Tiba-tiba,
Seorang pemuda yang berjalan cepat ke arah mereka langsung menjitak keras kepala Anton hingga mengaduh kesakitan.
"Adauwww!!!"
"Otakmu beku nih! Perlu dijemur, Pi, Mi, biar enceran dikit!"
Ali melotot kaget.
Itukan, kakaknya? Bang David? Yang seorang juara olimpiade matematika di luar negeri sana? Woaaa, ternyata Kakaknya itu maestro lomba. Selalu menang setiap ada event perlombaan matematika!
"Emang harus dijemur otak adikmu ini!" timpal Papanya seolah tak peduli.
"Idih, Papi. Anak bodoh ini ga pantes jadi adikku! Kak Marsha aja lulusan terbaik di kampus Universitas Indonesia dengan nilai cumlaude. Bang Regar, dia malah dosen bertitel profesor diusia muda. Masa' punya adek otaknya minimalis begini! Papi seorang ilmuwan, Mami juga ahli parmasi yang super hebat. Tapi koq anak bungsunya, hm... mungkin stok otaknya habis waktu si Anton dibuat ya, Pi, Mi? Hahaha..."
Ali merinding, melihat keluarga Anton yang sangat jelas membully keturunan terakhir dari klan mereka sendiri. Bahkan lebih sadis bagi Ali dari bulian Anton padanya di sekolah dulu setiap hari.
Ya Allah! Ada ya, orang tua yang bisa-bisanya menghina anak sendiri?! Itu Kakaknya juga, padahal otaknya sangat jenius dan selalu nomor satu soal matematika. Tapi...
Bruk.
Mamanya mendorong kepala putra bungsunya hingga jatuh tersungkur.
"Permisi, assalamualaikum!"
"Waalaikum salam?"
Sontak mereka kaget ketika mengetahui ada orang lain yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
__ADS_1
"Maaf, Pak, Bu. Saya dimintai tolong panitia lomba lukis, untuk mengantarkan sertifikat milik Anton yang ketinggalan!"
Mamanya Anton mengambil kertas tebal yang Ali sodorkan.
"Apa ini? Lagi-lagi lomba lukis yang kamu ikuti?! Hahh? Dasar anak tak berguna!"
Ali kaget setengah mati.
Anton disepak keras oleh Mamanya, membuat Ali dengan sigap menjadi tameng untuk Anton.
"Ibu, apa yang salah dengan melukis? Kenapa? Kenapa Anton mendapatkan perlakuan seperti ini? Dia juara satu melukis se-kotamadya lho!"
"Apa bagusnya lomba melukis? Hanya orang-orang gabut yang tidak ada kerjaan yang suka mencampurkan warna-warna tanpa memakai otak!" Papanya menyela.
"Bapak salah. Melukis juga memakai otak. Mengukur kadar ketebalan komposisi antara cat minyak dengan kanvas untuk menghasilkan karya indah yang disukai banyak orang. Juga membutuhkan perasaan halus dan jiwa seni yang tinggi. Tidak semua orang memiliki kemampuan melukis. Saya saja, hanyalah juara umum saja dibanggakan oleh orang tua saya. Harusnya Anton juga jadi kebanggaan keluarga."
Entah kekuatan dari mana Ali berani mengatakan hal seperti itu pada orang tua dan kakaknya Anton Darmawan.
Membuat Anton termangu terdiam.
"Tidak ada kamusnya keluarga kami memiliki nilai tujuh dalam mata pelajaran yang lebih penting. Melukis hanyalah sebuah hobi dan tidak bisa menjadi orang sukses di dunia nyata." David ikut berceloteh.
"Kata siapa? Kukira Abang jenius dan tahu banyak tentang wawasan dunia. Tapi tidak tahu banyak para pelukis yang jadi milyuner."
"Hei, bocah! Kamu tahu itu si Van Gogh? Vincent Van Gogh? Dia mati dengan menumpuk hutang juga gila sampai akhir hayat! Itu kah yang katamu pelukis milyuner? Lalu, Rembrandt, mati mengenaskan karena jatuh miskin. Itu kah yang kamu maksud?"
"Picasso, Leonardo da Vinci, masih banyak pelukis dunia yang sukses. Dan Om juga harus tahu harga lukisan pelukis-pelukis muda dunia saat ini. Bahkan satu gambar bisa dihargai satu Em, Om!"
"Tetap tidak sebanding dengan orang-orang yang mengandalkan otak dan kepintaran!" sungut David tak mau kalah.
Tentu saja Ali semakin bernafsu ingin mendebat. Karena Keluarga Anton jauh lebih arogan dari putranya itu.
Pantas saja. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.
"Seorang yang menyukai seni adalah seseorang yang berhati lembut, perasa dan punya empati tinggi. Otak yang jenius belum tentu Ia jadi orang yang berattitude tinggi. Bahkan banyak para ilmuwan yang berakhir hidup di penjara dan mati sia-sia dengan kejeniusannya. Mereka termakan oleh kejeniusannya sendiri dan berubah menjadi monster sampai melakukan penelitian diluar batas norma-norma kemanusiaan."
"Apa kamu bilang? Sok tahunya anak ini!"
Ali menelan air ludahnya.
Jujur, Ia sendiri tidak tahu pada apa yang diucapkannya. Semuanya seperti mengalir begitu saja keluar dari bibirnya. Seolah pengetahuannya sangatlah luas hingga tahu cerita-cerita hidup pelukis juga ilmuwan.
"Bahkan Buckland memakan jantung dari mumi Raja Louis XI di sebuah acara pameran. Delgado, diawal penelitiannya menghabiskan ratusan nyawa monyet untuk jadi alat percobaannya dengan memasang chip di otak dan disambungkan dengan remote control. Dimana hati nurani para ilmuwan itu? Bahkan sekelas Darwin, Albert Einstein, juga tidak sempurna hidupnya. Bahkan otak Einstein sendiri dicuri dari tempurungnya oleh Princeton Thomas Harvey seorang ilmuwan yang sangat penasaran dengan isi otak Einstein. Sungguh manusia yang sudah tidak punya akal logika dan adab lagi padahal Einstein sendiri adalah guru besarnya para ilmuwan yang dijuluki bapak relativitas."
Kedua orang tua Anton dan juga kakaknya David termangu dengan ilmu pengetahuan Ali.
"Siapa kamu?" tanya Papa Anton.
"Saya teman SD nya Anton. Anton sangat pandai di sekolah. Ia selalu maju menjadi wakil kelas ketika ada lomba-lomba menggambar dan mewarnai. Anton memiliki bakat seni melukis yang sangat besar. Saya adalah pengagum semua lukisannya. Bahkan kalau bapak mau tahu, tembok yang ada mural lukisan Anton sampai saat ini masih dipertahankan oleh Pak Kepala Sekolah SD kami karena sangat menyukai gambar buatan Anton."
Ali menceritakan semua fakta yang terjadi bahkan dalam hidup Anton kedepan.
Gedung SD mereka masih mempertahankan satu tembok yang dilukis Anton dalam bentuk mural yang waktu mereka SD belum booming seperti saat ini.
"Anton...! Berterima kasihlah pada temanmu ini! Berkat dia, kamu Aku berikan keringanan! Tekuni pilihanmu! Tapi jika kamu gagal dalam memperbaiki kualitas diri dengan pilihanmu di dunia seni, siap-siap kau ku kirim ke Kutub Utara. Kuliah di sana!"
Ali tertegun. Kedua orang tua Anton dan Kakaknya beranjak pergi, masuk ke dalam rumah.
Tinggalkan Anton dan Ali yang termangu dengan netra saling berpandangan.
__ADS_1
BERSAMBUNG