
"Apa yang terjadi???"
Marsinah menceritakan kejadian naas yang menimpa putrinya.
"Astaghfirullahal'adziiim!!! Kanduuuttt!!!" teriak Toro geram dengan tangan mengepal.
Malam itu juga Ia kembali ke kompleks kediaman sang mertua.
Senjatanya berubah menjadi besar seiring dengan amarahnya yang membludak.
Bajunya yang basah kuyup tidak sempat Ia ganti.
Toro kembali mendatangi Kandut yang masih bercengkrama dengan Hayuh di ruang tengah rumah mereka yang besar dan luas meskipun hujan deras belum juga reda.
"Kandut! Kandut!!! Keluar kau, manusia biadab!!!"
Kandut dan Hayuh yang sedang menikmati secawan tuak asli langsung tertegun mendengar suara keras dari orang yang sangat mereka kenal.
"Mau apa orang itu kembali lagi?" tanya Hayuh bingung. Ia tidak tahu kalau Toro kembali untuk Kandut yang telah menggagahi seorang anak perempuan dibawah umur yang baru berusia empat belas tahun.
Asilah adalah korban teranyar kebiadaban seorang pria bernama Kandut yang dipercaya masyarakat memimpin desa.
Benar-benar membuat Toro semakin murka dan...
Brak brak brak!!!
Toro yang duduk bersila di halaman rumah Hayuh yang luas, menghentakkan kepalan tangannya tiga kali ke bumi. Lalu,
Jeleggerrr
Serelekkk!!!
Sreekkkk
Petir menyambar tiba-tiba setelah cukup lama berhenti terdengar.
Toro kini punya dua senjata.
"Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim”
Toro membaca berulang-ulang ayat kursi dengan konsentrasi tinggi.
Tubuhnya bergetar hebat, hingga mengepulkan asap putih perlahan dan kian menebal.
Kalamullah adalah andalan Toro dalam memperdalam ilmu kanuragannya ditambah beberapa asihan jampi-jampi dari leluhurnya yang diturunkan Ajie, Bapaknya semasa hidup.
"Allaaahu Akbaaarrr!!!"
Jeleggerrr!!!
Sebuah petir yang bagaikan bola api yang besar melesat dari langit menerobos masuk jendela kaca besar rumah Hayuh. Lalu meledak tepat dihadapan Hayuh dan Kandut yang langsung terpental jauh menghempas tembok.
Duaarrr
Area tengah ruangan itu gosong dan kayu jati meja makan terbakar dan berkobar api membesar membuat beberapa orang anggota keluarga yang lain panik.
"Bangs++t sekali anak itu!!!"
Hayuh bangkit dengan mulut memaki kesal. Seketika Ia terkejut karena mulutnya mengeluarkan darah dan,
"Uhuk uhukk!"
__ADS_1
Darah segar bergumpalan keluar dari mulutnya dan mulut Kandut.
"Keluarkan Dajjal itu dari rumah ini! Aku masih punya urusan dengannya!" teriak Toro lantang dari halaman.
"Hei kunyuk! Apa kau tuli? Bukankah tadi Aku sudah katakan kalau kalian baru akan bertemu untuk adu ilmu dua hari lagi?" Hayuh balas teriak tak terima mendapatkan serangan tiba-tiba dari menantu pertamanya itu.
"Bapak Hayuh yang terhormat! Urusanku kali ini adalah dengan cecunguk itu, bukan dengan Bapak. Keluarkan dia dari sini! Aku ingin membereskan masalah baru yang Ia lakukan pada Asilah!"
"Pada siapa? Asilah? Anak selingkuhanmu itu? Yang membuat putriku kabur melarikan diri dari kampung ini?"
Hayuh berteriak dari balkon rumahnya ketika beberapa orang sibuk memadamkan api yang menyala akibat sambaran petir mengenai meja makan bahan kayu jati nya.
"Kasihannya! Kau sudah tercuci otak oleh bsjingan itu, Pak! Lepaskan dia, lepaskan! Biar Aku yang memberinya pelajaran!!!"
"Kau yang sudah kotor isi kepalanya hingga menjadi manusia yang tidak punya iman bersekutu dengan setan!"
"Bapak, tidak sadarkah bapak pada apa yang Bapak kata? Istighfar pak! Sebut nama Allah Sang Maha Pencipta!"
"Sudah! Cukup! Selagi Aku masih memandangmu sebagai suami dari putriku, pergilah! Tepati janji dan jangan kembali sebelum malam satu suro!"
Sreekkkk
Toro kembali memasang kuda-kuda. Tangannya bergerak membuat putaran seperti baling-baling dan...
Wusss wusss wusss
Werrrr werrrr werrrr
Bledarrrrrr
Tiba-tiba tubuh Kandut terangkat laksana selembar kertas tipis yang ringan sekali.
Lingir wengi
Kagoda mring wewayang kan ngreridu ati
Kawitane mung sembrono njur kulina
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresno
Nanging duh tibane
Aku dhewe kang newahi
Nandang bronto kadung lara
Sambat sambat sapa
Rina wengi sing tak puji aja lali
Janjine muga bisa tak ugemi
Toro menoleh pada seorang perempuan yang menembang lagu jawa yang kental sekali aura mistisnya.
Perempuan paruh baya yang berpakaian kebaya dengan rambut panjang terurai setengah putih setengah hitam karena uban yang bercampur.
Semakin lama semakin cepat dan jelas sekali suaranya. Membesar dan...
Gubrakk
Tubuh Kandut yang tadi melayang tiba-tiba jatuh terhempas di balkon rumah Hayuh.
__ADS_1
Ternyata, istri keempat Hayuh yang seorang sinden penyanyi karawitan itu adalah pemilik ilmu hitam juga.
Pantas saja, si Kandut bisa dengan mudah masuk kedalam keluarga mertuaku itu! Ternyata...
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Toro kembali taki-taki ambil ancang-ancang dengan menarik nafas dan mendawamkan doa-doa diujung bibirnya dengan rapalan yang pelan.
Wusss
Kretekkk
Prelekkk
Duaarrr
Petir lebih besar menyambar dan menghajar tembok balkon rumah Hayuh hingga runtuh sebagian berhamburan ke bawah teras rumah Hayuh.
Malam pukul dua, suasana yang biasanya dingin sunyi senyap, kini panas membakar kulit hingga keringat membasahi sekujur tubuh.
Istri keempat Hayuh sempat terjatuh dan oleng kena sambaran petir. Tapi Ia bangkit lagi sembari mengangkat tinggi kain panjang yang dikenakannya hingga terlihat sinaran dari balik betisnya yang masih sekal.
"Sir gumulung cahya gumulung. Anu gumulung dina jajantung. Anu calik di pangsadetan... Ya isem santana isem...! Hiyaaa, Toro Margens bin Ajie Pangestu!!!" pekik istri Hayuh mencoba menarik hati Toro Margens agar tergoda jatuh cinta ke dalam sanubarinya.
"Allahu laa ilaaha illa anta, subhanaka ini kuntumminadzolimiin! Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!!!"
Duar duar duarrr
Jeleggerrr
Sret sret sreekkkk
"Aaa!!!"
"Kyaaa!!!"
"Allaaahu Akbaaarrr!!!"
Duar duar duarrr duaarrrrrr
Hancur lebur balkon rumah Hayuh.
Berjatuhan Hayuh, istrinya dan juga Kandut yang sudah lemah tanpa daya upaya setelah darah segar terus muncrat dari mulutnya yang lebar.
Hujan kembali lebat bahkan lebih lebat mengguyur Bumi kampung baru.
"Hikh, arghh... ark..."
"Laknatullah kalian semua! Bersekutu dengan iblis adalah perbuatan dosa besar! Bertobatlah, bertasbihlah sebelum nyawa kalian tercabut dari raga!"
"Hikh hikh...hegh!"
Hayuh, Kandut dan istri Hayuh meninggal dunia dengan tubuh mengebul mengeluarkan asap.
"Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un..."
Toro pulang dengan tubuh basah kuyup terguyur hujan bercampur keringat.
Kakinya melangkah dengan tegap meninggalkan pekarangan rumah Hayuh yang luas dan besar.
Satu dendamnya telah terbalaskan. Tanpa harus menunggu malam satu suro datang yang dua hari lagi.
__ADS_1
BERSAMBUNG