
Ehh??? Koq??? Tanggalnya???
Ali kembali ke papan nisan yang kini dipasang di atas kuburan Firman namun terkejut bukan kepalang.
Tertera tanggal wafat : 20 April 2023
Ha_hari ini??? Hari ini tanggal 20 April 2023!!!
Ali menoleh ke kanan dan ke kiri.
Ada Pak Anwar dan Bu Mirna!
Itu artinya kedua orang tua Firman masih hidup!
Ali mencari-cari wajah anggota keluarga Firman yang lain.
Teguh, Melati... bahkan Rudi, adik bungsunya Firman juga masih ada! Mereka semua banjir air mata.
Berarti mereka semua masih hidup!!!
Dada Ali berdebar kencang sekali.
Matanya mencari-cari seseorang.
Apakah Laila Purnama ada di sini juga???
Yang Ali cari, tidak dapat diketemukan.
Tak ada Laila di sana. Hanya teman-teman sekolah dasar, teman-teman pergaulan Firman yang Ali kenali serta tetangga dan kerabat dekat keluarganya termasuk Ibu tirinya Firman.
Pukk
Ali terkejut. Bahunya ditepuk seseorang dari belakang.
"Hhh..."
Ali menelan ludahnya. Seseorang yang hampir Ia lupakan kini berdiri sejajar dengannya.
"Kamu kemana saja selama ini?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Aku... Aku pindah ke luar kota, Bang!" jawab Ali dengan suara pelan.
Dia adalah Dayat, sepupu Firman yang usianya sepuluh tahun lebih tua dari Firman dan Ali. Dayat dulu sering sekali mengantar Firman dengan sepeda motornya ke rumah kontrakan Ali. Bahkan beberapa kali Dayat turut nimbrung obrolan di atas rumah pohon bersama Ali, Firman dan juga Laila.
Dayat sering jadi cukong yang mentraktir mereka bertiga ketika dia sedang punya banyak uang.
"Apa yang terjadi pada Firman, Bang?" tanya Ali. Kini suaranya gemetar. Tak kuasa menahan emosi dalam hati hingga matanya merah dan hidungnya berair.
"Dia... kebut-kebutan di jalanan. Ikutan balapan liar dengan teman SD nya!"
"Si_siapa???"
Tentu saja aliran darah Ali berdesir kencang.
"Anton Darmawan."
"Anton Darmawan???"
"Anak itu sedang dalam pencarian orang oleh pihak kepolisian. Karena dialah biang kerok ketua geng yang merekrut Firman untuk jadi anggota gengnya juga."
Ali ternganga tak percaya.
Cerita kehidupannya kembali berubah. Dan kini, Firman ternyata lebih cepat mati. Bahkan dengan kematian tragis jadi korban kecelakaan lalu lintas di balapan liar. Diusianya yang ke-dua puluh tahun. Dan justru Firman yang kini menjadi temannya Anton Darmawan, bukan dirinya.
"Untuk apa Firman ikutan geng motor? Sampai bodoh ikut balapan liar?" tanya Ali masih tidak percaya.
Dayat menarik tangan Ali untuk mundur ke belakang. Khawatir obrolan mereka justru membuat suasana pemakaman menjadi gaduh.
Mereka memilih mundur beberapa meter dan berdiri di barisan paling belakang.
"Firman sedang cari uang tambahan."
"Untuk apa, Bang? Bukannya dia sudah kerja di perusahaan retail di daerah Tangerang?"
"Untuk menjemput Laila Purnama di kota Mataram, Lombok!"
"Hahh?!?"
Jadi, jadi ternyata Firman dan Laila masih intens berhubungan? Firman dan Laila, mereka berdua menjauh dariku untuk terus keep contact??? Mengapa harus menutupinya dari Aku? Oiya Aku lupa! Aku juga hengkang dari Ibukota! Aku juga pergi ke desa terpencil karena menemukan sebuah koper milik almarhum Bapak yang ternyata menyimpan surat hibah dan warisan dari Eyang!
Ali menelan ludahnya lagi.
Ketirnya hidup kembali Ia rasakan.
Ternyata, Laila Purnama selalu membawa cerita duka. Untuknya dan juga untuk Firman.
Treeet treeet treeet
Treeet treeet treeet
Ali melonjak kaget. Sesuatu yang ada di saku celana jeans belelnya bergetar mengejutkannya.
__ADS_1
Ponselku!!!
...My Majnun is calling...
My Majnun!?! Laila Purnama!!!
Ali teringat pada nama gadis cantik yang Ia sematkan di telepon selulernya. My Majnun. Itu adalah nama Laila di nomor kontak ponsel Ali.
Klik.
"Hallo? Assalamualaikum, Laila?!?"
...[Huaaaaa... Aliiiiiii!!! Hik hik hiks... Ali beneran Firman meninggal??? Ali! Ini pasti hoaks! Ini pasti ulah kalian ngerjain gue, secara ini bulan April, pasti April Mop. Ya kan?!?]...
Tidak, Laila! Ini bukan April Mop. Tapi ini nyata. Dan sekarang tanggal 20 April. Hari kelahiran gue. Apa Lo masih inget?
Ali tertegun.
Suara gadis yang dulu selalu dirindukannya.
Seperti pungguk merindukan bulan. Laksana menatap bulan dari kejauhan. Begitulah Laila dipandangannya.
Ali kembali menjadi Ali yang dahulu.
Yang pendiam dan hanya bisa termangu mendengar celotehan burung merpati kipas berwarna putih yang selalu menarik hati.
...[Aliii??!]...
"Ya, Laila?! Hhh... Sayangnya... Firman kita memang benar-benar telah tiada."
Cekrek.
Ali mengambil gambar kayu nisan kuburan Firman. Dan segera mengirimkannya ke Laila yang ada di seberang lautan nun jauh di sana.
Sontak terdengar suara Laila yang parau menangis kencang.
Ali merasa gendang telinganya agak sakit karena suara Laila yang mencekit.
Tapi Ia juga tak ingin mematikan sambungan teleponnya dengan Laila meskipun saat ini Laila sedang menangis histeris dan meracau mengoceh kalimat-kalimat penyesalan yang tak jelas difahami Ali.
Ali merasa hatinya justru menghangat. Karena selama beberapa minggu ini jiwanya terasa kosong, sepi sendiri.
"Laila...! Laila Purnama..."
...[Kenapa dia tega ninggalin kita lebih dulu, Li? Huaaaa hik hiks hiks... Bukankah kita udah janji, untuk hidup bahagia di manapun kita berada? Bukankah suatu saat nanti kita akan berjumpa dengan versi cerita kebahagiaan dari masing-masing kita? Huuu huhuhu...]...
Ali tidak bisa menjawab. Apalagi menyela tangis penyesalan Laila.
Tidak boleh disesali terlalu berlebih.
Cukup meyakini bahwa takdir Allah yang terbaik.
"Yang sabar ya Laila? Allah lebih sayang Firman daripada kita!" katanya pada akhirnya.
Tangisan Laila masih terdengar jelas.
"Doakan selalu Firman agar jalannya lapang. Ya? Jangan ratapi kepergiannya! Jangan persulit langkahnya menuju Jannah. Aku juga sedih, sama seperti dirimu. Aku juga terluka, kecewa karena Firman lebih dahulu dipanggil Yang Maha Kuasa. Firman masih muda. Tapi meninggal dunia karena kecelakaan lalu lintas. Semoga Allah mengampuni segala kesalahannya. Dan kita harus selalu doakan kebaikan untuk Firman."
...[Hik hik hiks... Firmaaan... hu huhuhu]...
"Firman orang baik. Dia adalah teman yang baik. Bahkan sangat baik semasa hidupnya. Allah pasti menempatkan Firman di tempat yang paling indah."
Perlahan suara tangisan Laila mengecil. Sepertinya ucapan Ali kini bisa masuk ke dalam sanubarinya.
...[Ali?!?....]...
"Ya, Laila?"
...[Maafin Aku. Maafin Firman. Kami... sudah menjalin hubungan LDR-AN sejak Aku pindah ke Lombok. Hik hiks hiks...]...
Ali tersenyum tipis.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Laila. Tidak ada yang salah dengan hubungan kalian juga. Toh kalian tetap sahabatku. Sampai kapanpun. Bahkan sampai Aku mati."
...[Kami menjauh darimu. Karena kami malu telah mengingkari janji kalau persahabatan kita tidak akan tercoreng dengan hubungan percintaan. Maaf... Bahkan kami tidak tahu kalau..., kalau kamu diusir pemilik tanah kontrakan dan pergi ke luar kota. Maaf, Ali! Hik hiks hiks...]...
"Sudahlah, Laila. Kita lupakan semua masa lalu. Aku tetap sahabatmu. Dan sampai kapanpun kamu tetap adalah sahabatku."
...[Orangtuaku bercerai. Kuliahku putus ditengah jalan. Dan sekarang Aku pekerja club malam. Aku..., Aku ingin pulang ke Ibukota tapi terkendala biaya. Aku bingung. Hidupku hancur, Ali... Bahkan kini Firman juga pergi meninggalkan Aku. Huaaaa hu huhuhu hik hik hiks...]...
Tangis Laila kembali pecah. Tapi kini Ali sudah mulai bisa mengerti semuanya.
"Laila. Sudah dulu ya? Aku masih ada di pemakaman Firman. Baru saja selesai dan Aku harus menemui keluarganya Firman dulu. Lain kali kita sambung lagi pembicaraan. Assalamualaikum..."
Klik.
Ali mematikan sambungan teleponnya.
Ia menghela nafas panjang.
Ternyata,... semua orang berubah.
__ADS_1
Orang baik, tidak selamanya baik. Orang jahat, juga tidak selalu jahat.
Semua berubah seiring waktu. Tentu saja itu adalah pilihan yang setiap insan pilih untuk lanjutkan hidup ke depan.
Setiap pilihan mengandung resiko. Apakah resiko itu membuatnya menjadi baik, atau bahkan berubah buruk. Untuk itu, pikirkanlah langkah dan pilihan itu sebelum benar-benar bertindak.
Pukk.
Dayat kembali menepuk bahu Ali.
"Si Anton berhasil ditangkap!" katanya membuat Ali mulai bertekad.
"Maukah Abang mengantarkan saya ke kantor kepolisian tempat Anton mendekam?"
"Mau apa?"
"Aku belum puas, karena belum memaki orang yang telah merusak moral dan kehidupan sahabatku!" jawab Ali dengan suara lantang.
Dayat menghela nafas. Ia mengangguk.
Keduanya berjalan mendekat ke area keluarga Firman untuk memberikan ucapan belasungkawa atas wafatnya putra sulung kebanggaan mereka.
Ali mengusap ujung papan nisan Firman.
Gundukan tanah merah yang masih basah dipenuhi dengan taburan kelopak bunga mawar. Harum semerbak menyeruak indera penciuman Ali Akbar.
"Firman...! Firman, sahabatku! Hiks hiks... Yang tenang di alam kuburmu. Kamu sudah tidak lagi merasakan kesakitan. Tidak lagi merasakan ketakutan. Allah Maha Baik. Allah menginginkanmu pulang sebelum langkahmu semakin jauh meninggalkan-Nya!" gumam Ali pelan seraya mengusap titik air matanya yang jatuh menetes beberapa kali.
Teringat betapa Firman adalah sosok sahabat yang paling baik dan juga rajin ibadah meskipun agak slengean gayanya. Bahkan Firman jauh lebih agamis daripada dirinya.
Di SMA Firman termasuk salah satu anggota OSIS di bidang Rohis dan ketua Pemuda Islam yang disegani.
Ali berdiri, mengusap raut wajahnya yang terlihat lelah. Dan menatap wajah Dayat memastikan dirinya agar diantar ke Polsek tempat Anton ditahan.
.............
Anton berjalan menuju tempat Ali dan Dayat duduk di ruang tunggu tahanan.
Kepalanya menunduk, kedua tangannya juga dalam keadaan diborgol.
Ali berdiri cepat.
Ia berjalan mendekat dan...
Plak plak plak
Plak!!!
Empat tamparan berhasil mendarat di pipi Anton sebelum akhirnya Ia dipegangi dua orang staf kepolisian.
"Jangan main hakim sendiri! Tersangka sudah dalam pengamanan kami!" cetus salah satu polisi memperingatkan Ali.
Ali puas, meskipun telapak tangannya jadi panas dan pedas.
Mata Ali terkesiap. Pipi Anton merah seperti tomat apel yang sudah matang. Bahkan... agak menghitam perlahan.
Waduhh?!? Apa tamparan gue sebegitu kerasnya? Tutung ga tuh muka glowing si Anton!?!
Ali menggaruk tengkuknya.
"Kenapa Lo selalu bikin onar, Ton? Apa ini adalah pelampiasan balasan bullian yang Lo dapat dari keluarga Lo? Kebodohan dan ketololan yang justru bikin keluarga Lo makin illfeel sama Lo? Tol+l!!! Bukannya mikir dan hidup dengan menunjukkan kemampuan melukis Lo yang keren, tapi justru Lo hancurin diri Lo sendiri dengan kegiatan yang gak guna! Lo pikir bikin geng motor dan rusuh itu bikin Lo keren? Enggak, Ton!!! Lo justru semakin gobl+k, tol+l dan pe'a parah!!! Kenapa? Karena bukan cuma di dunia doang Lo di bully keluarga Lo! Bahkan sampai ujung neraka, Lo bakalan tetep di bully kalo Lo gak punya tekad berubah ke arah yang lebih baik!!!"
Entah keberanian dari mana, sampai Ali bisa berkoar-koar seperti sedang orasi di atas mimbar.
Anton kian menundukkan kepalanya setelah sempat mendongak dan seperti kaget karena Ali mengetahui keadaan dirinya yang selalu dirundung orang tua serta kakak-kakaknya yang hebat-hebat semua.
Anton menangis sesegukan.
Air matanya tumpah ruah.
Ali menoleh pada Dayat. Ia memberi kode kalau telah selesai dan puas melampiaskan nafsu amarahnya dengan menempeleng pipi musuh bebuyutannya empat kali.
Baru saja Ali dan Dayat berjalan beberapa langkah keluar dari kantor kepolisian setelah mengucapkan terima kasih banyak kepada beberapa orang polisi yang sedang berjaga di sana termasuk komandannya, tiba-tiba...
Syuuunggg
Syuuunggg
Syuuunggg...
Ali menoleh pada Dayat.
"Terima kasih, Bang! Aku... sepertinya Aku harus pergi!"
Syuuunggg
Wussss...
Tubuh Ali tersedot kembali oleh lubang lingkaran system Galaksi Kehidupan dan entah akan berakhir di mana, Ali sendiri masih belum tahu.
BERSAMBUNG
__ADS_1