
Biji bola mata Keti yang hijau kebiru-biruan memancarkan cahaya keresahan yang mendalam.
Ia tertunduk. Namun seketika,
Cup.
Bibirnya mengecup cepat pucuk bibir Ali yang bengong melongo bego.
Keti beranjak pindah dari duduknya di pojokan dan berjalan pelan memutari rak-rak lemari baca yang berwarna coklat pekat itu.
Tinggalkan Ali yang mematung bingung.
"Novel Rin Tin Tin, ini adalah novel kesukaanku. Banyak pelajaran hidup yang kudapat dari kisah seekor anjing gembala asal Jerman ini. Sungguh cerita yang mengharukan."
Keti seperti ingin mengganti suasana yang awkward barusan.
"Kisah seekor anjing? Mirip ceritanya Hachiko ya?" timpal Ali yang juga merasakan kecanggungan itu.
"Ya... kayaknya seperti itu deh. Aku belum pernah dengar dan baca kisah Hachiko."
"Kisah seekor anjing dari Jepang yang setia kepada majikannya bahkan sampai sembilan tahun sejak kematian sang majikan, masih setia menunggu di tempat biasa Ia tunggu. Bahkan tak pedulikan hujan salju yang lebat sekalipun di kota Tokyo pada saat itu."
Keti menatap Ali dengan serius. Namun langsung melemah ketika mata Ali bagaikan pisau tajam yang menembus relung hatinya yang terdalam.
"Keti..."
Keti menatap Ali dengan perasaan yang gugup.
Ali tidak ingin terjebak dengan perasaan yang bersalah.
Ia menyukai Keti sejak pandangan pertama.
Sangat bodoh jika tidak terpesona pada gadis cantik manis dan imut yang ada dihadapannya itu.
Ditambah lagi Keti baik dan selalu menolong dirinya di setiap kesempatan.
Tak ada minus sama sekali dimata Ali.
Tapi,
Keti ternyata adalah pacarnya Yadi. Cucu dari Mbah Kandut yang hidup di dunia belahan lain yang terpisah dengannya dan Keti.
Sehingga Ali harus meluruskan kesalahpahaman ini.
Ciuman kilat yang barusan Keti berikan padanya tidak boleh terjadi lagi. Meskipun hati Ali berdebar kencang dan mengkhayalkan serta berandai-andai Keti belum punya pacar, Ia bersedia mengungkapkan rasa sayangnya pada Keti.
Tapi Keti sudah menjalin hubungan dengan Yadi lebih dahulu.
Tidak baik untuk Ali melakukan hal yang kurang pantas apalagi senonoh dengan pasangan orang lain.
Karma buruk bisa saja menimpanya kemudian hari.
"Keti..., kamu... pacaran dengan Yadi kah?"
Ali bertanya dengan suara pelan dan terbata-bata.
Gadis itu menunduk.
"Apa, kalian terpisahkan oleh jarak dan waktu selama beberapa tahun ini? Bagaimana caranya kalian melepaskan rindu? Apa Yadi sama sekali tidak bisa kamu temui?"
Keti mendongak. Lalu menunduk lagi.
"Ada banyak rahasia diantara kita."
"Rahasia?!?"
"Aku, sebenarnya sedang..."
__ADS_1
"Sedang apa?"
Keti menghela nafas.
Ia mengambil satu buah buku tebal yang berjudul La Tahzan karangan Aidh Al-Qarni.
"Kami sebenarnya masih ada hubungan darah! Dia adalah keponakanku!"
Mata Ali membulat.
"Bagaimana bisa, kalian berjanji untuk bersama?"
"Dia tidak tahu. Dia hanya tahu Aku adalah anak buangan dari kampung sebelah."
Ali menunggu cerita Keti dengan tenang.
"Aku... adalah anak haram yang dilahirkan Ibu karena perbuatan kejam Mbah-nya, yaitu Mbah Kandut."
"Kamu? Anak ha_haram Mbah Kandut?"
"Tidak ada yang tahu, karena semua cerita seperti dihapus dari memori ingatan semua penduduk desa termasuk Embah Marsinah sekalipun. Semua orang, seperti lupa ingatan tentang kejadian yang sebenarnya sampai kampung ini seperti tiada padahal ada. Seperti mati padahal hidup."
"Sungguh Aku tidak mengerti!"
"Jangankan kamu, Aku sendiri tidak mengerti. Tapi semua ini terjadi karena Tuhan pasti punya maksud tertentu. Aku yakin itu!"
"Betul. Semua sudah diatur Allah dalam rukun Iman keenam. Iman dan percaya pada Qoda dan Qodar baik buruk datangnya dari Allah."
"Kamu..., anak pesantren?"
Ali menggeleng dengan senyuman tipis.
"Cuma pernah mengaji waktu kecil di Abah Irun. Beliau banyak cerita hal-hal yang menarik selain kisah para nabi yang sangat Aku sukai. Beliau pandai menceritakan sejarah Islam dengan begitu enaknya didengar dan masuk ke sanubari."
"Aku banyak membaca di sini!"
"Aku... adalah cucunya Mbah Marsinah!"
"Apa?!?"
"Mau dengar kisahku?"
"Kamu tahu kisah hidupmu sendiri padahal banyak orang yang ada di kampung ini seperti lupa ingatan katamu termasuk Simbah Marsinah?"
"Itulah kelebihan ku. Dan satu lagi, sejak kecil, Aku bisa berubah wujud, Ali!"
"Be_berubah wujud?"
Tersentak Ali mendengar cerita Keti yang bagaikan orang mabuk.
Tapi mengingat banyak cerita aneh dan kejadian tak masuk akal yang Ia alami selama di kampung ini serta merta membuat Ali percaya.
"Aku... adalah si Hitam."
"A_PA???"
Ali membelalakkan matanya. Terkejut sekali mendengar penuturan jujur Keti.
"Hi_hitam? Ku_kucing hitam itu?"
Keti mengangguk.
"Aku berubah menjadi manusia lagi setelah seseorang yang berhati tulus mencuumku."
"Hah?!?"
"Kamu menciumku ketika bangun tidur tadi pagi."
__ADS_1
Ali benar-benar mematung terdiam tak bergerak bahkan nyaris lupa bernafas.
"Tapi, tapi aku beberapa kali bertemu kamu dalam wujud manusia. Keti yang kukenal bahkan sampai kita ke kantor kelurahan! Kamu bisa berubah wujud!?"
"Simbah Marsinah yang mencium keningku setiap Aku ingin berubah wujud menjadi manusia."
"Hah?!?"
Ali mencubit tangannya. Menampar pipi kiri dan kanannya beberapa kali. Sampai rasa panas dan sakit menjalar hingga dia percaya kalau itu adalah cerita nyata. Bukan mimpi atau kisah dalam mimpi.
"Yadi! Apa... Yadi pernah menciummu?" tanya Ali kepo tapi segera menutup mulutnya karena merasa pertanyaannya itu bakalan membuat Keti marah.
"Ciuman Yadi tidak berpengaruh." Keti tersenyum tipis sembari menunduk.
"Ci_ium bibir?"
Keti menggeleng lagi.
"Pipi. Itupun hanya karena gemas, sama seperti Ali barusan."
"Yadi tahu kalau Keti juga si Hitam?"
"Iya. Yadi tahu karena Keti yang ceritakan. Tapi pertemuan Yadi dengan Keti teramat sulit. Yadi hanya lebih sering bertemu Hitam ketimbang Keti."
"O-o. Pantas, dia cemburu sekali ketika Aku bilang beberapa kali bertemu kamu. Dan kamu ada pada saat itu, kan?"
Keti menatap manik netra Ali.
"Ali...! Kampung ini menunggumu! Juga Mbah Toro!"
"Mbah Toro? Mbah-ku? Bapaknya bapakku, pemilik rumah besar ini?"
"Iya."
"Bukankah beliau sudah mati? Meninggal dunia maksudku!"
Keti menggeleng.
"Mbah Toro ada di suatu tempat. Bersama mayat hidup Mbah Kandut."
"Mayat hidup?"
"Mbah Kandut sebenarnya sudah mati. Tapi karena pemujaan yang dilakukan para pengikutnya yang rutin terus menerus dilakukan menyalahi aturan Tuhan, tubuhnya terus ditempati oleh jin kafir yang mengambil nafsu dunia Mbah Kandut!"
Ali menahan nafas. Terhenyak karena cerita yang membuatnya seperti sedang mendengarkan cerita horor.
"Mereka adalah para pemuja setan. Mereka beranak pinak dan terus melakukan perjanjian dengan iblis sampai Dajjal keluar."
Merinding bulu kuduk Ali mendengar Keti.
"Ini cerita beneran?"
"Apa kamu tidak percaya padaku?"
"Bukan. Bukan seperti itu. Cuma, kisah ini hanyalah ada dalam sebuah novel misteri. Aku pernah membaca beberapa novel misteri seperti ceritamu ini!"
"Ini memang cerita novel misteri. Dan kita sedang berada didalamnya menjadi pemeran utama!"
"A_APA???"
Syuuunggg syuuunggg syuuunggg
Tiba-tiba Ali merasakan tubuhnya kembali tersedot dalam lubang labirin besar berwarna-warni.
"Keti!!! Tolong Aku!!!"
Sebuah tangan menariknya kuat dan...
__ADS_1
BERSAMBUNG