MISTERI CERMIN AJAIB

MISTERI CERMIN AJAIB
EPISODE KELIMA PULUH SATU


__ADS_3

"Eyang Toro?!?"


Sontak semua terpekik kaget.


Seorang pria tua dengan tubuh yang mulai bongkok berdiri di depan pintu sambil membawa dua buah kitab. Satu kitab suci Al-Qur'an, satunya lagi kitab Sistem Galaksi Kehidupan seri kedua.


Tringgg


Tringgg


Tiba-tiba ada cahaya terang benderang bak meteor yang datang melesat. Dan...


Sriiinggg


Seorang tubuh pria tinggi besar berkulit sawo matang yang pekat dengan mata menyala menyorot ke arah Toro seperti hendak menelan bulat-bulat.


Seketika langit gelap gulita.


Seperti malam panjang padahal tadi masih siang benderang.


Aura mistis sangat kental sekali karena ada suara puji-pujian nyanyian orang-orang yang ternyata adalah pasukan pemuja Kandut.


Bulu kuduk Ali meremang.


Ali menoleh ke wajah Toro yang juga ternyata sedang menatapnya.


Toro mengangguk memberi kode pada cucunya itu.


Ayat kursi! Bacalah ayat kursi berulang-ulang setelah membaca surat Al-Fatihah sebanyak tujuh balik!


Ali mengangguk.


Anak yang hari ini berusia dua puluh tahun itu mengikuti arahan Eyangnya.


Toro duduk bersila di depan pintu. Ali mengikuti gayanya dan duduk di samping Toro seperti hendak menyatukan dua kekuatan.


Kandut yang seperti zombie berjalan cepat menuju Toro dan Ali.


"Bantu, Mbah-ku!!!" teriak Yadi sambil memasang kuda-kuda dan...


Bledarrrrrr...


Tiba-tiba seperti suara ledakan hingga Toro dan Ali sempat terguling dari duduknya namun tidak terlalu besar guncangannya.


"Ali, kita harus pindah ke tempat yang lebih lapang!" seru Toro pada Ali dan bergegas berlari keluar pelataran rumah Yadi yang mirip pendopo.


Ali ikut berlari, namun tidak semudah yang mereka bayangkan. Karena pengikut setia Kandut menggadang.


"Jangan biarkan mereka keluar dari halaman!" teriak Yadi yang ternyata telah mengetahui niat Toro.


Terjadi perkelahian. Ali merasakan tubuhnya ringan sekali setelah Toro menepuk dahinya dan membacakan mantra-mantra.


Mereka berdua bisa melompat hingga dua meter saking ringannya.


"Hiat hiat! Hiyaa!"


Desig desig brak


Plak bug bag


Gubrakk!


Pertarungan yang cukup menggelikan karena ratusan orang hanya melawan dua orang saja.


Ali bisa merobohkan belasan anak buah Kandut dengan tangan kosong.


Ia seperti memiliki ilmu Kanuragan setelah Eyangnya mentransfer lewat jampi amalannya.


"Ciat ciat! Ciaaat!"


Gubrakk


Syuutt


Syuuutt


Prak prak prak


Ali bisa mengelak dengan cepat dan menangkis serangan lawan yang terlihat slow motion dimatanya hingga Ia bisa memberikan balasan yang telak ke lawan yang menghadang.


Sebenarnya pertarungan ini tidak seimbang. Namun karena Toro dan Ali memiliki kemampuan bela diri diatas rata-rata, akhirnya keduanya berhasil keluar dari halaman rumah Yadi.


"Bodoh!!!" teriak Yadi kesal.


Kandut berdiri tegak dengan kedua tangan mengepal ke arah langit.


Pelerekkk


Jeleggerrr


Jeleggerrr


Jeleggeeerrrrr


Kilat menyambar dan petir bagaikan bersahutan.


Ternyata, Kandut mencuri ilmu Toro memegang kilat hingga menjadi senjata pamungkas berbentuk petir panjang ditangan kanannya. Entah bagaimana caranya dia bisa mengambil kilat sedangkan saat ini Ia adalah seorang mayat hidup yang tubuhnya di kuasai setan iblis yang mencuri nafsu duniawinya.


Kandut benar-benar telah berubah menjadi iblis.


Begitu pula pengikutnya yang sebagian adalah setan yang kabur dari alamnya dan menyamar menjadi manusia setiap malam di rumah Yadi.


"Aaarrrr... Aaarrrggh!"

__ADS_1


Ali melihat Kandut dengan tatapan ngeri.


Kandut seperti zombie yang berjalan kaku menghampiri dirinya dan juga Toro yang sudah sepuh.


"Allohu laa ilaaha illaa Huwal Hayyul Qoyyuum, laa ta’khudzuhuu sinatuw walaa nauum, la Huu maa fis samawaati wa maa fil ardh, mann dzalladzii yasyfa’u ‘inda Huu, illa bi idznih, ya’lamu maa bayna aidiihim wa maa kholfahum, wa laa yuhiituuna bisyayim min ‘ilmi Hii illaa bi maa syaa’, wa si’a kursiyyuus samaawaati walardh, wa laa yauudlu Huu hifdzuhumaa, wa Huwal ‘aliyyul ‘adziiim”


Jeleggeeerrrrr...


Krak krak blammm.


Petir terbesar yang pernah Ali lihat dan dengar seperti hendak membumi-hanguskan dunia yang dipenuhi dengan kemaksiatan para penghuninya.


Crasss


Tangan Toro memegang sesuatu yang seperti pedang panjang yang berkilauan.


Ada ceceran darah segar yang mengalir dari telapak tangan Toro yang terluka.


Ali sempat terkesiap dan jantungnya berdegup kencang. Khawatir sekali dengan Eyangnya yang sudah berumur hampir seabad dan Toro adalah manusia normal yang hidup tanpa menolak tua. Karena hakekatnya umur tidak bisa menipu.


Tubuh Toro kian ringkih seiring waktu bertambahnya umur dari hari ke hari.


"Allaaahu Akbaaarrr! Allaaahu Akbaaarrr! Allaaahu Akbaaarrr!!!"


Bledarrrrrr


Crekkk


Senjata petir yang ditangan Toro kembali mengeluarkan cahaya putih yang berkilauan dan menyambar orang-orang yang berada di belakang Kandut dan Yadi hingga menggelepar di atas tanah kemudian hangus menjadi arang. Sungguh peristiwa yang menyeramkan bagi Ali yang baru pertama kali menyaksikan kehebatan seorang Toro Margens, Eyangnya.


Kandut berteriak keras.


Ia menghentakkan kakinya tiga kali dan,


Bumi tiba-tiba berguncang hebat membuat Ali juga Toro nyaris terjatuh ke tanah namun keduanya langsung menguatkan kedua kaki terpancang di atas bumi.


"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, Allahumma ajirhum fii mushibatihim, wa akhlif lahum khoiran minha".


Artinya: "Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya akan kembali kepada-Nya. Ya Allah, berilah mereka pahala dalam musibah mereka dan gantilah dengan yang lebih baik."


Srakkk srakkk srakkk


Prelekkk


Jeleggeeerrrrr


"Hiaaat!!!"


Kedua orang tua yang berseteru itu bertemu berhadap-hadapan dengan tangan masing-masing memegang senjata pamungkas.


Criiinggg cringgg cringgg


Srak srakkk


Tang teng, tang teng


Keduanya saling menyerang dengan kekuatan maksimal sampai jika keduanya beradu keluarlah percikan bola api yang menyala dan menyerang makhluk yang ada di sekitar terutama para setan yang menyamar menjadi manusia. Hingga mereka terbakar dan, blasss hilang seperti abu.


"Allaahumma innaa naj’aluka fii nuhuurihim, wa na’uudzu bika min syuruurihim. Ya Allah, sesungguhnya aku menjadikan Engkau di leher mereka (agar kekuatan mereka tidak berdaya dalam berhadapan dengan kami). Dan aku berlindung kepadaMu dari kejelekan mereka."


"Hasbunallaah wa ni’mal wakiil. Cukuplah Allah menjadi Penolong kami, dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung."


Tranggg tranggg tranggg


Prak


Crasss


Crekkk


Senjata petir pamungkas Toro berhasil menebas batang leher Kandut.


Cairan berwarna hijau seperti cat kental menetes perlahan dan semakin banyak.


"Qul a'ụżu birabbin-nās. Malikin-nās. Ilāhin-nās. Min syarril-waswāsil-khannās. Allażī yuwaswisu fī ṣudụrin-nās. Minal-jinnati wan-nās."


Toro dan Ali membaca surat An-Nas berulang kali. Mereka semakin kompak dan semakin kencang hingga kepala Kandut yang sudah tertebas, perlahan meleyot kesamping dan... lambat laun kian lepaskan kulit yang tersisa menempel hingga akhirnya...


Gelutuk gelutuk gelutuk


Kepalanya menggelinding di tanah membuat Yadi berteriak histeris.


"Mbaahhh!!!"


Yadi dengan kekuatan cepat menarik senjata petir yang ada di tangan Kandut yang perlahan meleleh seperti lilin yang lumer terkena panas.


"Hiyaaaattt!!!"


Yadi langsung menyerang Ali.


Tapi Ali telah memiliki firasat kalau yang jadi sasaran amuk Yadi adalah dirinya. Yadi tidak berani melawan langsung Toro yang jelas-jelas ilmunya jauh lebih tinggi daripada dirinya, anak kemarin sore.


"Ali! Tangkap!!!"


Ali menoleh kearah Toro.


Kini senjata petir pamungkas itu berada di generasi kedua. Dan perseteruan kini telah diturunkan kepada cucu-cucu mereka.


Ali berdiri dengan tangan panas memegang petir yang nyaris bagaikan sebilah pedang samurai tanpa gagang.


Tapi ternyata tangan Ali justru tidak terluka seperti Toro.


Tangan Ali bahkan mengeluarkan cahaya seperti lampu neon yang terang benderang.

__ADS_1


Bahkan cahayanya membuat Yadi sampai tak sanggup menatapnya langsung..


Tringgg tringgg tringgg


Sempat ada percikan api yang keluar dari benturan kedua senjata petir itu.


Hingga,


"Allaaahu Akbaaarrr! Laa haulaa wala quwata illa billaah hil'ali hil'adziiim!!!"


Tranggg


"Aaaaarrrrggghhh!!!"


Kepala Yadi tepat kena sabetan senjata pamungkas Ali.


Kilatan besar seperti menyambar tubuh Yadi yang mengobarkan cahaya api.


Ali segera berlari ke arah Toro yang jatuh terduduk di tanah.


Nyaris tak ada orang yang berdiri tegak. Semua berserakan, tergeletak dengan keadaan sudah tak bernyawa.


Yang tersisa hanyalah Ali dan Toro saja.


Hingga tiba-tiba...


"Aaarrrr Aaaaarrrhhh!"


Ali terkesiap.


Keti dan Marsinah berjalan seperti Kandut.


Seperti mayat hidup yang kelaparan dan siap menerkam Ali serta Toro yang sudah kelelahan karena pertarungan sengit melawan Kandut juga Yadi.


"Keti..."


Ali ingin sekali menyadarkan Keti yang dianggapnya kerasukan setan.


Ia mendekati Keti dan hendak meniupkan doa rukiyah mandiri agar Keti tersadar dari kerasukan.


"Ali! Jangan!!!"


Grepp


Toro segera menarik tangan Ali yang hampir saja menyentuh pipi Keti.


"Dia bukan lagi seperti kita! Jangan tertipu! Mereka adalah setan-setan yang bergentayangan!" seru Toro memperingatkan Ali.


Ali menoleh ke arah Keti.


Mata gadis cantik itu meneteskan air mata dengan tatapan mengiba.


"Eyang..., itu Keti! Dia benar-benar Keti, Eyang! Sepertinya Ia meminta bantuan kita!"


"Jangan terkecoh, Ali! Duduk dan fokuslah! Baca ayat kursi jangan tatap matanya! Setelah hatimu telah yakin, baru kau lihat wajahnya, siapa perempuan laknat yang ada dihadapanmu itu!"


Ali menatap Keti dengan tatapan iba.


Nyaris saja hatinya goyah.


Hingga Toro menutup mata Ali dan darah Toro yang basah di telapak tangannya langsung berpindah menodai wajah cucunya yang kini berubah jadi pemuda tampan itu.


Ali terbelalak.


Dihadapannya kini berdiri sesosok makhluk perempuan menyeramkan. Tubuh keduanya tinggi besar, berambut panjang, berkulit hitam dengan bulu-bulu lebat di beberapa bagian. Pay+d+ra keduanya bergelantungan besar hingga perut.


Ali bergidik setelah sadar kalau perempuan jadi-jadian yang terlihat seperti Keti dan Marsinah adalah makhluk astral yang lebih dikenal dengan nama Wewe gombel.


"Astaghfirullahal'adziiim!"


Ali langsung memejamkan mata, mulutnya komat-kamit dengan kekuatan besar khusu membaca ayat kursi dan surat An-Nas masing-masing tujuh balik.


Bledarrrrrr


Keduanya terkena panah petir hingga hangus terbakar.


"Uhuk uhuk uhukk..."


Toro batuk beberapa kali hingga mulutnya tiba-tiba mengeluarkan gumpalan darah segar yang cukup banyak.


"Eyang!!!"


Ali segera menangkap sosok tubuh Toro yang nyaris jatuh ke tanah.


"Eyang...! Eyang, bertahanlah, Eyang!"


"Ali! Allah itu Maha Baik. Allah menciptakan kita dengan satu tujuan. Menjadikan kita manusia yang lebih tinggi derajatnya dari makhluk lain dengan cara terhormat. Tapi terkadang cobaan dan ujian kehidupan yang sengaja Allah berikan, justru membuat kita jauh lebih bodoh cara berpikirnya. Kita lebih suka salah faham, su'udzon sampai berani menyalahkan Allah. Bukannya bersyukur dan berterima kasih karena dibalik cobaan yang menerjang, ada banyak pelajaran hidup yang mendewasakan. Tapi banyak manusia justru salah menilai. Mereka lebih suka menjauh dari Allah dan memilih jalan bersekutu dengan iblis yang jelas-jelas tugasnya memang menghasut manusia agar memilih jalan yang salah, bukan jalan kebenaran yang Allah inginkan."


"Uhukk uhhukk..."


Toro kembali muntahkan potongan-potongan darah segar hidup tubuhnya kian lemah dan suaranya semakin mengecil.


"Ali..., tetaplah jadi pribadi yang kuat. Jangan menyerah meskipun dalam hidup seolah kamu selalu saja teraniaya. Uhukk uhhukk..."


"Iya, Eyang!"


Ali menunduk. Air matanya seolah sulit Ia tahan agar tak terus menetes.


Hatinya teramat sedih dan diliputi ketakutan yang Maha dahsyat.


"Ali! Tetaplah jadi orang baik. Jangan pernah lalaikan perintah Allah. Karena itu semua demi kebaikan dirimu sendiri. Sholat adalah tiang agama. Sebagai penguat imanmu agar tidak mudah lengah. Sehebat apapun dirimu, nol jika kau tidak berpihak kepada keridhoan-Nya. Sesusah apapun dirimu, ketika kamu tetap berpegang teguh bahwa Allah Maha Baik, semuanya perlahan akan bisa kamu atasi. Badai kesulitan akan berlalu berganti dengan kebahagiaan. Percayalah, Allah Maha Baik."


Toro tersengal setelah mengucapkan banyak nasehat kepada cucunya semata wayang yang tersisa.

__ADS_1


Hingga Ali kian panik namun tubuhnya justru seperti tersedot oleh kekuatan yang besar dan kembali masuk ke lorong labirin panjang bernama galaksi Kehidupan.


BERSAMBUNG


__ADS_2