
Malam kejadian adalah malam Sabtu.
Sabtu pagi pemakaman tiga orang itu diguyur hujan lebat yang terus menerus. Menyulitkan para warga untuk menguburkan Hayuh, Imas dan Kandut.
Bahkan air sungai yang menjadi perbatasan dua kampung yakni kampung Kandut dan kampung Sepadan meluap banjir, menyulitkan warga menggali lubang kuburan.
Untuk meminimalisir waktu, akhirnya Hayuh dan Kandut dikuburkan dalam satu liang lahat. Bersebelahan dengan makam ibundanya Suminah, istrinya Toro.
Sungguh hal itu menjadi kejadian yang luar biasa.
Bahkan beberapa warga terpaksa menguburkan ketiga jenazah ditengah-tengah hujan deras yang tak kunjung berhenti.
Jenazah Hayuh, Kandut dan Imas seperti berenang di dalam kolam berukuran satu kali duael meter tersebut.
Sangat mengenaskan.
Bahkan tak sedetikpun Tuhan memberikan jeda untuk hujan berhenti walau hanya sesaat saja.
Hujan turun dengan derasnya, sampai berhari-hari.
Hingga di hari kedua,
Angin p+ting beliung menghancurkan isi dua kampung yang bersiteru tokoh-tokohnya. Porak porandakan beberapa bangunan rumah para warga termasuk rumah Hayuh yang berdiri kokoh. Kecuali rumah Toro yang memang megah.
Banyak warga yang mengungsi di rumah sesepuh Desa Kandut itu. Marsinah dan Asilah menjadi perawat dadakan membantu warga yang mengalami luka-luka tertimpa bangunan rumah ketika angin menerjang.
Tepat pukul tujuh malam di malam satu suro,
'Hahaha... hahaha... hahahaaaa!!!'
Terdengar suara tawa menggema mengalahkan suara adzan yang sedang berkumandang.
Itu adalah suara tawa Kandut, kepala desa yang dua hari lalu meninggal dunia.
Sontak warga sekitar ketakutan.
Suasana geger dan mencekam.
"Jangan takut! Itu adalah hawa nafsunya yang masih penasaran dan dicuri iblis setan yang dipujanya! Mengajilah! Ayo semua mengaji! Buka Qur'an!" perintah Toro pada orang-orang yang memihak kepadanya.
Berbeda dengan orang-orang yang semasa Kandut hidup mengelu-elukan pria itu, mereka berbondong-bondong mengambil senjata tajam peninggalan leluhur mereka yang sudah diturunkan nenek moyang secara turun-temurun.
Ada banyak keris, golok, pisau bahkan samurai yang mereka bawa untuk dibersihkan Kandut seperti biasa setiap malam satu suro.
Begitulah tradisi desa itu.
Setiap malam satu suro pukul dua belas malam, para warga yang mempercayai sesepuh (dukun) atau orang pintar akan membawa benda pusaka untuk dimandikan dan disucikan lagi khodamnya.
Wallahu a'lam bisshowaf.
Dan mereka merasa kalau sesepuh yang mereka sanjung masih hidup, bersuka cita bergembira sambil mengeluarkan semua pusaka dan berbondong-bondong kiraban ke makam Kandut.
Sungguh kepercayaan yang berbanding terbalik dengan yang Toro kerjakan.
Toro justru menyuruh para pengikutnya agar tafakur di rumah. Berdiam diri dengan banyak-banyak berdoa seperti sholat malam dan tadarusan.
Tidak boleh keluar rumah setelah senja kecuali pergi ke masjid tempat ibadah terdekat.
Dilarang melakukan perjalanan apalagi ke tempat yang jauh karena malam satu Muharram itu juga konon adalah malam pergantian tahun, dimana di malam istimewa itu, ada rahasia Illahi tentang dibukanya pintu-pintu portal alam semesta yang bukan hanya terdiri dari alam dunia saja. Ada portal alam lelembut, alam dunia lain. Alam tempatnya para arwah leluhur-leluhur yang telah meninggal dunia bahkan sejak ribuan tahun yang lalu.
Konon menurut cerita dongeng para leluhur tempo dulu, portal pintu masuk para makhluk yang sudah meninggal di dunia, dibuka selebar-lebarnya tepat di malam satu suro, malam pergantian tahun dimulai ketika sanekala menjelang. (Sanekala adalah waktu mendekati azan Maghrib)
Konon katanya untuk memberikan kesempatan pada para arwah mendatangi keturunan-keturunan mereka yang masih hidup.
Tetapi di malam itu juga, menjadi malam kesempatan untuk para setan iblis yang sedang dalam masa tawanan kabur dari alamnya ke alam dunia.
Tentu saja mereka adalah iblis setan yang jahatnya berkali-kali lipat dari iblis setan, jin yang hidup bebas bercampur dengan kaum manusia.
Begitulah konon ceritanya.
__ADS_1
Prelekkk
Duaarrr
Sebuah ledakan menggemparkan seisi desa yang telah hancur sebagai bangunan rumah penduduknya.
Ternyata ledakan itu berasal dari kuburannya Kandut Hayuh.
Tiba-tiba berdiri tegak Kandut di atas kuburnya dengan tawa kerasnya yang semakin membahana.
"Hahahaaaa... Hahahaaaa... Bagus, bagus! Kalian adalah pengikutku yang sangat setia! Terima kasih! Hahahaaaa..."
"Kami percaya, Mbah Kandut masih hidup! Kami hidup aman dan tentram dibawah naungan Mbah Kandut. Kami ingin sekali terus dipimpin Mbah daripada hidup harus dengan aturan Mbah Toro."
"Hahahaaaa... betul. Dunia ini diciptakan untuk tempat bersenang-senang! Bukan untuk mendengarkan segala aturan ini dan itu yang membuat hati was-was ketakutan! Dia hanya penyampai risalah yang kolot dan tidak mengikuti zaman! Sedangkan hidup terus berjalan berputar seiring perkembangan zaman! Mengapa ada pepatah yang mengatakan kalau 'Dunia ini berputar, kadang di atas kadang di bawah'. Itu adalah untuk kita menyadari kalau kita harus maju. Tidak boleh diam ditempat mengikuti segala aturan-aturan kuno manusia zaman dahulu! Bebaskan diri kalian! Ekspresikan kreativitas dan ide-ide brilian kalian untuk masa depan! Untuk hidup lebih maju lagi tentunya!"
'Hidup Mbah Kandut! Hidup Mbah Kandut!!!'
'Mbah Kandut adalah pemimpin resolusi masa kini! Mbah Kandut memahami kaum muda yang penuh gairah!'
'Kami selalu mendukungmu!'
Sangat disayangkan, ternyata pengaruh Kandut sudah begitu kuatnya.
Sangat dahsyat caranya mencuci otak para warga yang memilih hidup bebas berekspresi seperti keinginan mereka.
Hidup tanpa aturan dan pakem-pakem aturan agama.
Mereka berbondong-bondong menuju kediaman Toro.
Menyanyikan kidung syair yang membuat merinding bulu roma.
Makin lama gerombolan pengikut Kandut terus bertambah.
Bahkan terlihat sangat banyak.
Ternyata bercampur dengan para makhluk astral yang berhasil keluar dari portalnya.
Belum lagi karena Ia juga turut membantu mengevakuasi para warga yang terkena musibah angin p+ting beliung sehingga kondisi tubuhnya kurang fit juga.
Hawa panas di malam satu suro itu memberikan dampak negatif pada keadaan Toro.
Lingkaran Iblis itu memblunder membesar bak bola salju yang menggelinding dan siap menghantam Toro beserta pengikutnya.
Hujan berhenti dan malam yang dingin terasa panas menyengat seperti terik matahari siang.
"Musnahkan Toro! Musnahkan Toro! Musnahkan Toro!"
'Musnahkan Toro! Musnahkan Toro! Musnahkan Toro!"
"Malam ini
Sunyi sepi
Kau terlena
Dalam mimpi
Kau tersenyum
Kedamaian."
Para pengikut Kandut yang ternyata sebagian adalah makhluk halus menyanyikan kidung Malam Satu Suro dengan alunan suara yang bergetar meniupkan buhul-buhul udara dingin yang membekukan seluruh sendi-sendi tulang yang mendengar.
Kreekk
Kreekk
Kreekk
__ADS_1
Dingin semakin dingin.
Bahkan suhu udara terus menurun hingga minus beberapa derajat Celcius.
Membuat embun-embun dini hari yang mulai turun dari awan hitam menjadi titik-titik es yang menyakitkan kulit tubuh orang-orang pengikut Toro.
Pengikut Kandut terus membesarkan volume syair kidung mereka. Kian memekakkan telinga dengan syair yang jauh lebih menyeramkan.
"Lingsir wengi sliramu tumeking sirno
Ojo tangi nggonmu guling
awas jo ngetoro
aku lagi bang wingo wingo
jin setan kang tak utusi
dadyo sebarang
Wojo lelayu sebet."
Jika diartikan dalam bahasa Indonesia adalah
Menjelang malam, dirimu(bayangmu) mulai sirna
Jangan terbangun dari tidurmu
Awas, jangan terlihat (memperlihatkan diri)
Aku sedang gelisah,
Jin setan ku perintahkan
Jadilah apapun juga,
Namun jangan membawa maut
Toro yang mendengar nyanyian kematian itu merasa gelisah juga pada akhirnya.
"Kuatkan iman! Kuatkan iman, wahai saudara-saudaraku seiman! Kuatkanlah keimanan kita! Jangan tergoda bujuk rayunya! Jangan terpancing oleh keindahan fatamorgana! Dunia hanyalah sementara! Akhirat selamanya! Allaaahu Akbaaarrr!!!"
Duaarrr
Duaarrr
Duaarrrrrr
Tiga ledakan berturut-turut mengguncang Bumi.
Mengobarkan api yang sangat besar seperti sengaja disulut dan diguyur oleh minyak spirtus dan bensin berliter-liter jumlahnya.
Membumi hanguskan desa Kandut dan menghilangkan desa Sepadan.
Semuanya hilang musnah tak tahu akhirnya, siapa yang mati, siapa yang hidup.
Hingga sebulan dua bulan kemudian, ada beberapa orang yang hidup tapi seperti berada dalam dunia lain. Dunia yang terkungkung jauh dari jangkauan dunia luar. Padahal mereka masih hidup dan masih melakukan aktivitas sehari-hari layaknya manusia normal.
Begitulah, kisah ini bermula.
Dan kini, dua pemuda cucu dari Mbah Kandut dan Mbah Toro dipertemukan oleh nasib. Dipersatukan karena pertikaian dua leluhur mereka yang masih mengambang.
Mencoba membuka tabir pintu portal alam gaib yang pernah memporak-porandakan dunia Desa Kandut hingga terbelah menjadi dua dunia. Seperti siang dan malam. Laksana air dan air. Menjadi dua sisi mata uang yang tidak bisa disatukan.
Itu semua adalah tugas Ali Akbar dan Yadi.
Apakah mereka bisa mengembalikan desa Kandut seperti semula.
Dengan masyarakatnya yang hidup rukun, damai dan tentram berdampingan tanpa adanya gesekan pertikaian.
__ADS_1
BERSAMBUNG